Banjir di NTT: korban meninggal bertambah jadi 128 jiwa, ribuan mengungsi dalam bencana terbesar dalam lebih 10 tahun

Dapatkan promo member baru Pengeluaran HK 2020 – 2021.

4 April 2021

Diperbarui 2 jam yang lalu

Banjir Flores Timur

Sumber gambar, ANTARA FOTO / Robert Ola Bebe

Cuaca ekstrem dampak siklon tropis Seroja masih berpotensi terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam beberapa hari ke depan.

Bencana banjir bandang yang terjadi akhir pekan lalu memicu pengungsian lebih dari 8. 000 warga setempat, demikian ungkap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Jumlah korban jiwa masih bertambah. Menurut data BNPB per Senin (5/4), pukul 23. 00 WIB, jumlah warga meninggal dunia sebanyak 128 jiwa, dengan rincian di Kabupaten Lembata 67 orang, Flores Timur 49, dan Alor 12. Sedangkan jumlah korban hilang mencapai 72 orang, dengan rincian Kabupaten Alor 28 orang, Flores Timur 23, dan Lembata 21.

Lalu sebanyak 2. 019 KK (kepala keluarga) atau 8. 424 warga mengungsi serta 1. 083 KK atau 2. 683 warga lainnya terdampak.

Warga yang mengungsi tersebar di lima kabupaten di wilayah Provinsi NTT.

Pengungsian terbesar diidentifikasi berada di Kabupaten Sumba Timur dengan jumlah 7. 212 jiwa (1. 803 KK), Lembata 958, Rote Ndao 672 (153 KK), Sumba Barat 284 (63 KK) dan Flores Timur 256. Siklon tropis Seroja di NTT ini berdampak di 8 wilayah administrasi kabupaten dan kota, antara lain Kota Kupang, Kabupaten Flores Timur, Malaka, Lembata, Ngada, Sumba Barat, Sumba Timur, Rote Ndao dan Alor.

Banjir Flores Timur

Sumber gambar, EPA

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, mengatakan angka-angka itu masih akan terus berkembang.

Bencana tersebut juga merusak banyak rumah warga. Kerugian total antara lain 1. 962 unit rumah terdampak, 119 unit rumah rusak berat (RB), 118 unit rumah rusak sedang (RS) dan 34 unit rumah rusak ringan (RR). Sedangkan fasilitas umum (fasum) terdapat 14 unit rusak berat, 1 rusak ringan dan 84 unit lain terdampak.

Sejauh ini, setidaknya 2, 600 orang terdampak bencana banjir terbesar dalam 10 tahun ini.

Banjir Flores Timur

Sumber gambar, EPA/Polres Adonara

Data dari BNPB menunjukkan bencana besar terakhir di NTT terjadi di Timor Tengah Selatan pada November 2010 dengan korban jiwa 31 orang.

Kondisi di Lembata.

Sumber gambar, BNPB

Sementara itu di Timor Leste, setidaknya 21 orang meninggal akibat banjir, sebagian besar korban di ibu kota Dili.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

Sementara itu, Presiden Joko Widodo Senin siang menyatakan telah memerintahkan Kepala BNPB, Kepala Basarnas, Menteri Sosial, Menteri Kesehatan, Menteri PUPR, Panglima TNI dan Kapolri untuk segera melakukan evakuasi dan menangani korban bencana di lapangan.

“Selain itu, segera melaksanakan penanganan dampak bencana yang diperlukan, ” kata Jokowi yang disiarkan dalam akunnya di Twitter, seraya menyatakan dukacita yang mendalam atas korban meninggal dunia dalam musibah tersebut atas nama pribadi dan rakyat Indonesia.

Banjir Flores Timur

Sumber gambar, EPA/Polres Adonara

flores timur

Proses pengiriman bantuan untuk mencari dan mengevakuasi korban akibat banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Flores Timur, NTT, masih sulit dilakukan lantaran akses ke lokasi bencana terganggu hujan deras dan gelombang tinggi, menurut BNPB. Di sisi lain, evakuasi korban yang tertimbun lumpur masih terkendala alat berat.

Banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu (04/04) dini hari, disebut seorang warga merupakan yang terparah.

flores timur

Sumber gambar, EPA

BNPB mencatat lokasi terdampak ada di empat kecamatan dan delapan desa.

Bupati Flores Timur, Anton Hadjon, mengatakan upaya antisipasi kepada warga “sudah dilakukan dengan menyampaikan informasi cuaca ekstrem” dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Tapi titik-titik yang terjadi [bencana banjir bandang] tersebut selama ini tidak pernah terkena banjir, ” kata Anton, hari Minggu (04/04).

‘Cuaca ekstrem, pengiriman logistik ke Pulau Adodara terkendala’

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, mengakui pengiriman bantuan logistik kepada korban yang terdampak banjir dan longsor, terkendala kondisi geografis.

“Untuk mendapatkan aksestabilitas, terutama pulau-pulau kecil, menjadi tantangan kita di sana, ” katanya.

Flores Timur

Sumber gambar, HUMAS BNPB/ANTARA FOTO

Karena cuaca ekstrem, bantuan logistik belum bisa dikirim melalui angkutan laut ke Pulau Adonara.

“Apakah nanti akan menggunakan pesawat atau heli, nanti akan kami sampaikan selanjutnya, ” ungkapnya.

Apakah alat-alat berat dapat dikirim ke lokasi?

Dia menambahkan, tantangan terberat lainnya adalah mengevakuasi dengan memanfaatkan alat-alat berat.

Ditanya apakah pemerintah sudah menetapkan status bencana di Flores Timur, Raditya mengatakan sejauh ini belum ada informasi tentang hal itu.

“Mungkin besok akan ditetapkan [statusnya], tapi kita lihat dulu perkembangannya, ” katanya.

Banjir Flores Timur

Sumber gambar, HUMAS BNPB/ANTARA FOTO

Cerita warga di Kecamatan Adonara: ‘Kami semua sangat panik’

Wenchy Tokan, seorang warga di Kelurahan Waiwerang, Kecamatan Adonara Timur, mengatakan banjir bandang yang terjadi pada Minggu (04/04) dini hari membuat panik sebab warga tak sempat menyelamatkan diri.

Ia bercerita, hujan deras mulai turun pukul 23. 00 WITA dan tak berselang lama banjir dari wilayah perbukitan sekitar Kecamatan Adonara Timur menghantam rumah-rumah yang berada di pesisir sungai.

Saat itu, katanya, mayoritas warga sedang tidur.

“Kami semua sangat-sangat panik. Bahkan kami temukan ada mayat ditemukan di luat masih di atas kasur, karena kebanyakan warga sedang tidur, ” imbuh Wenchy Tokan kepada Quin Pasaribu yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Minggu (04/04).

“Bangunan semua selesai (hancur) semua. Rumah permanen dan semi permanen, hanyut ke laut, ” sambungnya. Perkiraan Wenchy setidaknya 50 rumah hancur.

‘Kami dalam kondisi terisolir’

Selain itu banjir bandang juga membuat dua jembatan dari beton yang menghubungan antar-desa juga terputus, ungkapnya. “Satu pembangkit listrik juga padam, ” tambahnya.

Karena itulah, warga di Kelurahan Waiwerang maupun Desa Waiburak “kini dalam kondisi terisolir”, kata Wenchy.

Di wilayah ini, tim Basarnas mencatat tiga orang meninggal, empat orang luka-luka, dan lima dinyatakan hilang.

Pencarian korban meninggal maupun yang hilang, ujar Wenchy, dilakukan secara manual dengan sekop.

Adapun puluhan warga yang terdampak, lanjut Wenchy, kini diungsikan ke satu gedung sekolah dan sangat membutuhkan selimut serta susu untuk balita.

Sementara bantuan makanan dari pemda, belum sampai. “Untuk sementara ini warga datangkan penanak nasi, masak untuk pengungsi. Besok baru diatur untuk membuat dapur umum. ”

Flores Timur

Sumber gambar, HUMAS BNPB/ANTARA FOTO

Berharap bantuan dari pemerintah pusat

Bupati Flores Timur, Anton Hadjon, mengatakan informasi bencana banjir bandang di empat kecamatan itu baru ia dapatkan sekitar pukul 08. 00 WITA karena jaringan komunikasi yang terputus.

Sejak pagi hingga sore hari, katanya, pemda belum bisa mengirim alat berat untuk membantu proses pencarian dan pengiriman makanan kepada warga yang mengungsi di pulau tersebut.

Di lokasi terparah yakni di Desa Nelelamadike, Kecamatan Ile Boleng, setidaknya ada 1. 200 orang yang mengungsi di tiga lokasi yakni gedung gereja dan sekolah.

Namun karena putusnya jembatan penghubung dan akses jalan yang tertutup longsor, pendirian dapur umum masih terhambat.

Karena itulah, ia berharap ada “dukungan pemerintah pusat untuk penanganan para korban”.

Ia berharap Senin (05/04) pengiriman alat berat maupun bahan makanan sudah bisa dikirim.

Berdasarkan perkiraan BMKG pada 5 April – 6 April, status Nusa Tenggara Timur dalam kondisi siaga potensi hujan sedang dan lebat yang disertai petir dan angin kencang pada gai hingga siang hari.

About Author


Kenneth Sanders