Cerita Juyono sang pandai besi, menempa parang hingga wajan

cerita-juyono-sang-pandai-besi-menempa-parang-hingga-wajan-8

Jackpot hari ini Result SGP 2020 – 2021.

sejam yang lalu

pandai besi

Profesi pandai besi atau pandai w e si sudah dikenal sejak dulu dan tercatat di banyak piagam Jawa Kuno. Namun kini kehadiran pandai besi nyaris terlupakan seiring dengan banyaknya perkakas pabrik.

Di Semarang, Jawa Tengah, kepandaian dan ketrampilan menempa besi dengan tradisional ini masih ditekuni segelintir orang. Bahkan diwariskan turun temurun ke generasinya dan bertahan hingga kini.

Api di tungku pembakaran tersebut semakin membesar setelah mesin peniup angin dinyalakan. Sedemikian besar had nyaris menjilat atap asbes dalam bengkel besi tempa milik Juyono, di Kampung Kaligetas, Mijen, Semarang, Jawa Tengah.

Melalui kegesitan tangan Juyono, lidah api itu dipakai buat membakar besi sabit, cangkul, dan linggis. Aneka perangkat besi tersebut kemudian ditempa dengan martil, lulus dicelupkan di bak air pendingin.

Proses tersebut dilakukan berulang kali sebelum akhirnya dihaluskan dengan gerinda mesin agar jarang dan tajam.

“Nanti dulu, ini harus ditempa terus sampai pas, ” jelas Juyono dengan logat Jawa kental menimpali si pemilik cangkul yang meminta proses itu disudahi.

Kira-kira lama kemudian, pekerjaan lelaki berusia 62 tahun itu rampung. Kekayaan Rp30. 000 dan Rp25. 000 untuk perkakas besi dengan kekuatan sempurna, berpindah ke kantong bajunya.

Juyono adalah satu dari sedikit berilmu besi tradisional yang masih tertinggal. Keahlian dan ketrampilannya menempa besi menjadi aneka perkakas dikenal banyak petani di sekitar Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Ikuti jejak ayah serta paman

Juyono telah melakoni profesi berpengetahuan besi selama setengah abad belakang, mengikuti jejak ayahnya, Karimin, & pamannya, Sujak, yang menggeluti profesi pandai besi sejak 1940-an suntuk.

Jadi anak sulung dari sembilan bersaudara, Juyono awalnya hanya membantu pekerjaan Karimin menempa besi.

“Ya ikut membangun ayah dari umur 12 tahun. Dari situ belajar sampai 15 tahunan, lanjut terus dan keterusan sampai sekarang jadi terampil berilmu basi. Waktu itu belum tersedia mesin, manual semua, ” rata Juyono kepada wartawan di Semarang, Nonie Arnee, yang melaporkan buat BBC News Indonesia.

pandai besi

Banyak ilmu yang diperoleh Juyono dari ayah dan pamannya, termasuk teknik menempa besi & menjaga kualitas produk. Hal itu penting agar pelanggan puas sehingga bisa datang lagi. Sebaliknya, kalau kualitas produk buruk, pembeli tak akan kembali.

“Kalau tidak bagus tidak ada yang datang, yang beli kapok. Makanya ayah selalu berpetaruh yang penting bagus agar dicari orang. Barang yang bagus kan dicari orang, yang paling bagus jangan sampai kalah dengan bikinan orang lain. Kalau tidak cakap nanti orang yang beli insaf, ” imbuhnya.

Juyono mampu memperkirakan dan mengukur tingkat panas obor tanpa menggunakan alat pengukur suhu.

“Panasnya perkiraan jangan sampai kemerahan dan kehitaman. Pas merah sama sesuai bulan tanggal satu. Dicelup, semua pakai rasa. Itu untuk merenggangkan besi agar mudah dibentuk. Jika tidak seperti itu tidak oleh sebab itu. Besinya lebur di api, hancur ya rugi, ” papar Juyono.

Tak ada alat cetak untuk mempertemukan dan mencetak besi menjadi aneka perkakas, dari parang hingga bajan.

“Nggak pakai cetakan, dikarang saja, dikira-kira terus dibentuk. Kalau dicetak membangun kayak bubur. Ini besi remaja, dipanaskan dan dibentuk sejadinya. Kalau masih tebal kikir lagi, digosok. Kalau mencong-mencong ya ditempa terus. ”

pandai besi

Lantaran besi bekas kendaraan hingga arang kayu jati

Juyono mencari sendiri bervariasi bahan baku yang digunakan. Tiba dari besi-besi bekas kendaraan berat hingga arang kayu jati. Menurutnya, bahan itu mampu menghasilkan cara pembakaran maksimal dan hasil produk berkualitas bagus.

“Cari dari penampung rongsok. Cari sampai dapat, makanya sampai ke mana-mana. Sekarang lebih mudah dibandingkan zaman dulu sedang dikit, ” kata Juyono.

Juyono mengatakan komponen besi kini menurun kualitasnya tapi harga terus naik. Sejak Rp3. 500 per kilogram kini mencapai 7. 500 per kilogramnya.

“Zaman dulu beda, sekarang banyak tiruan. Dulu mengkilat, sekarang putih akan tetapi buram karena komponen bajanya kurang banyak. ”

Awalnya, Juyono menjual peranti buatannya dengan keliling menggunakan sepeda onthel. Seiring waktu, dia menunaikan dagangan di Pasar Kliwon Gunungpati dengan merek KN III.

“Tahun 2000 itu masih jual sabit dalam pasar, nggak sampai 15 menit saja bawa 30-an [perkakas] sudah habis. Orang sudah nunggu untuk bayar. Banyak saingan tapi pamor kelihatan, ada cap KN III. Kalau dengar KN III itu datang ngerubungi semua, ” jelasnya.

Dulu dia menjual sabit seharga Rp25. 000, kini harga arit buatannya berkisar antara Rp75. 000 hingga Rp125. 000.

Suparto, petani palawija dari Gunungpati, Semarang, salah kepala pelanggan Juyono sejak 1979. Tempat mengakui kualitas perkakas buatan Juyono, meski menurutnya harga perkakas buatan K N III lebih langka dibanding sabit pabrikan.

“Aku pelanggan dia masih sama-sama bujang, tempat sama bapaknya dulu. Garapannya menawan, jadi langganannya banyak. Aku nggak sudah beli di pasar, karena beli di pasar itu tajamnya kurang, ” tutur Suparto.

pandai besi

Keahlian diturunkan ke budak

Dalam kampung kediaman Juyono, ada empat pandai besi. Namun, di kurun mereka, Juyono paling senior.

Pekerjaan turun temurun itu juga diikuti kedua anaknya. Narto Susilo dan Agus Sunarso, yang menjadi ahli besi di daerah lain.

“Sudah menyatu, satu keluarga pandai besi, nggak ada lainya. Adik kami yang kecil juga jadi pande, tapi semua punya ciri tunggal, beda gayanya. Pesannya pada mereka jangan ceroboh karena nanti hasilnya jelek konsumen tidak tertarik. ”

Di usia senjanya, Juyono memilih berlaku sendiri. Dia pun tidak seproduktif dulu karena tenaga makin berkurang dan gangguan kesehatan mulai menghinggapi tubuh rentanya yang tak sedang berotot.

“Sekarang tenaga sudah lemah, sudah loyo, tenaganya sudah bersih, pokoknya kerja sekuatnya. Kalau rendah nggak bisa kerja. ”

Meski sejenis, Juyono masih kukuh melakoni profesinya dan tak ingin ingin beristirahat selagi mampu.

“Ini mata pencaharian utama, hidup saya. Jadi masih kerja sampai sekarang. Saya punya keinginan yang belum tercapai. Mau punya alat tempa yang lebih modern jadi nanti mukul memakai mesin tidak harus mengeluarkan tenaga untuk menempa besi, ” harapnya mengakhiri percakapan.

About Author


Kenneth Sanders