Covid-19: Peneliti kaji kesahihan pendapat ‘bernyanyi dalam ibadah tingkatkan potensi penularan virus corona’

Covid-19: Peneliti kaji kesahihan pendapat 'bernyanyi dalam ibadah tingkatkan potensi penularan virus corona'
  • Rachel Schraer
  • Reporter isu kesehatan tubuh

Orang di sinagoga

Bernyanyi dinyatakan sebagai aktivitas yang meningkatkan efek penyebaran virus corona, terutama setelah klaster positif Covid-19 di gerombolan paduan suara keagamaan bermunculan.

Pada Inggris, selama pandemi aktivitas tersebut hanya boleh dilakukan oleh penyanyi profesional. Di sisi lain, segenap gereja tak boleh menyelipkan acara bernyanyi dalam ibadah.

“Masyarakat semestinya menghindari aktivitas bernyanyi, berteriak, dan mengangkat suara. Alasannya adalah potensi penyaluran virus yang meningkat lewat droplet dan aerosol di udara, ” demikian anjuran pemerintah Inggris.

Namun sebuah kajian ilmiah menduga bahwa bukan aktivitas bernyanyi yang menggenjot penyebaran virus corona, melainkan volume sejak suara seseorang.

Kajian ini juga mau mengungkap jumlah droplet yang mampu terhambat masker wajah tertentu. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjelma rujukan untuk mengizinkan umat mematuhi bernyanyi secara kolektif dalam di setiap ibadah mereka.

Menghitung droplet

Laurence Lovat, seorang profesor ilmu gastroenterologi dan biofotonik di University College London, berencana mencari jawaban atas hipotesa tersebut.

Lovat akan melibatkan sejumlah responden dengan gender, tinggi, usia, dan latar etnisitas yang berbeda. Ia serupa akan memasukkan responden yang berjanggut dan brewok serta yang tidak memiliki rambut di wajah.

Lovat mau meminta responden penelitiannya bernyanyi di dalam volume suara yang berbeda. Daripada situ dia akan menghitung memperlawankan aerosol dan droplet yang itu keluarkan.

“Pandemi Covid-19 secara drastis mengubah rutinitas ibadah masyarakat, baik harian maupun mingguan. Pandemi ini berdampak pada aktivitas ibadah, sesi permufakatan antarkelompok atau bahkan bernyanyi, ” kata Lovat.

“Penelitian kami bertujuan menunjukkan bagaimana praktik beribadah telah berubah dan menemukan risiko penyebaran seperti apa yang muncul ketika itu bernyanyi, bersenandung, dan saat tidak memakai masker. ”

Michelle Sint, penganut Yudaisme

Dalam kajian itu, Lovat juga akan meminta respondennya mengisi kuisoner tentang bagaimana peribadatan itu berubah sejak pandemi berlangsung.

Mereka akan ditanyai tentang keterlibatan itu dalam ibadah berjamaah dan pengalaman ibadah mereka sejak Maret, masa pembatasan pertemuan dan perjalanan diberlakukan.

Sekelompok responden akan dipilih untuk mericau, atau bersenandung di depan cahaya laser yang terang dan tustel berkecepatan tinggi yang akan membaca tetesan kecil uap air (aerosol) yang terbang ke udara.

Ada bahan bahwa virus corona dapat merembet melalui partikel-partikel kecil ini. Adapun cahaya terang akan memungkinkan titik tersebut terlihat. Kamera yang merekam 7. 000 gambar dalam pada setiap satu detik.

“Kami akan memiliki wawasan yang lebih baik tentang dengan dapat dan yang tidak sepatutnya kita lakukan, ” ujar Lovat.

Michelle Sint, seorang penganut Yudaisme dengan terlibat dalam penelitian ini, mengaku tertarik menjadi responden untuk keahlian apakah aktivitas bernyanyi tidak menjadi medium penyebaran virus corona.

“Ada segalanya yang sangat menggembirakan saat bernyanyi sebagai komunitas dalam satu pandangan, ” ujarnya.

Dia berkata, bernyanyi adalah bagian yang tak terpisahkan dari sebuah ibadah.

Sementara menurut Junaid Shah, bernyanyi dan ibadah beramai-ramai bukan bagian besar dalam keyakinan umat Islam. Namun dia bersedia menjadi responden dalam penelitian untuk turut membantu umat agama yang lain.

Shah menyebut sangat penting untuk mempertimbangkan ibadah secara kolektif, terutama pada masa sulit seperti pandemi kali ini.

“Ibadah keagamaan lebih dari segalanya, aktivitas ini memberi dukungan batin terhadap setiap umat. Aktivitas peribadatan bukan tentang apakah kita ngerasa terisolasi atau tidak selama pandemi, ” kata dia.

About Author


Kenneth Sanders