Covid di India: Nasib pilu anak-anak yatim piatu a significant Apa yang terjadi untuk anak-anak yang kehilangan wali akibat virus corona?

covid-di-india-nasib-pilu-anak-anak-yatim-piatu-apa-yang-terjadi-pada-anak-anak-yang-kehilangan-orang-tua-akibat-virus-corona-14

Promo menarik pada undian Data HK 2020 – 2021.

  • Divya Arya
  • BBC World Website

sejam dimana lalu

Soni Kumari

Artikel ini memuat foto yang memperlihatkan jenazah.

“Tiada yang mau menyentuh orang tua kami setelah mereka meninggal, inches kata Soni Kumari pada wartawan BBC, Divya Arya, melalui panggilan video.

“Jadi saya menggali liang makam untuk ibu saya kemudian menguburnya. Saya melakukan semuanya sendiri, ” imbuhnya.

Kenangan pahit hari itu masih membekas dalam benak gadis remaja ini.

Ayahnya telah meninggal dunia terlebih dahulu gara-gara Covid sehingga dia wajib meninggalkan dua adiknya pada rumah saat melarikan ibunya ke rumah sakit memanfaatkan ambulans. Namun nyawa ibunya tak tertolong.

Selagi dia membawa jenazah ibunya ke kampungnya di Daerah Bagian Bihar, India, kag ada yang bersedia agar membantu dirinya dan kedua adiknya.

Dia terpaksa memakamkan jasad ibunya sendirian sembari mengenakan alat pelindung diri (APD).

“Dunia kami runtuh dan kami ditinggalkan begitu saja. Dulu masyarakat tua saya membantu amet banyak orang, namun sewaktu kami memerlukan bantuan, tiada yang peduli, ” papar gadis berusia 18 1 tahun itu.

Jumlah kematian akibat Covid-19 di India ialah salah satu yang tertinggi di dunia dan laporan kasus seperti pengalaman Soni semakin banyak. Lantas tentang yang terjadi pada anak-anak yatim piatu akibat pandemi?

Baca juga:

Soni Kumari

Sumber gambar, Chandan Chowdhary

Dari balik masker, ekspresi Soni Kumari tampak damai saat menuturkan kisahnya. Suara kalemnya menutupi pilu yg terpancar dari kedua matanya.

Saya melihat sekilas adik laki-laki (12 tahun) dan adik perempuan (14) Soni yang mengintip dari balik pintu.

“Ditinggalkan sendirian adalah yang paling menyakitkan. Tidak ada makanan di rumah kecuali santapan terakhir yang dimasak mendiang ibu saya. Tiada yang menawarkan apa-apa kepada kami dalam hari-hari pertama itu—sampai selagi kami bertiga teruji negatif virus corona, ” tutur Soni.

Dikucilkan dan stigma dari masyarakat adalah 2 hal yang semakin membebani anak-anak yatim piatu korban Covid-19.

Menteri aspek Perempuan dan Anak-anak The indian subcontinent, Smriti Irani, mengklaim ada sokongan negara bagi anak-anak tersebut.

Soni kumari

Dalam salahsatu cuitan, dia menyebut yakni terdapat 577 kasus anak-anak yatim piatu akibat Covid-19 yang dilaporkan kepadanya dalam periode kurang dari 2 bulan.

Angka itu dapat jadi jauh di bawah kenyataan di lapangan sebab banyak kasus seperti tersebut tidak dilaporkan ke pemerintah.

Untuk menolong anak-anak itu, permohonan bantuan—dan sampai adopsi—mengemuka di jagat boldness India.

Beragam permohonan yang beredar melalui WhatsApp dan Twitter itu, umumnya menyebutkan nama dan umur si anak beserta no. kontak yang bisa dihubungi.

Baca juga:

Salah satu pesan pada Twitter berbunyi: “Anak perempuan 2 tahun, bayi laki-laki 2 bulan, ibu setelah itu ayahnya meninggal karea Covid. Teruskan pesan ini sebanyak mungkin agar anak-anak kita bisa mendapat orang tua yang baik. ”

Kami tidak menampilkan cuitan itu pada artikel ini oleh karena itu pemerintah India meminta pesan-pesan itu tidak disebarluaskan.

Salah satu pesan sampai ke Medha Meenal dan temannya, Hari Shankar.

Hari Shankar dan Medha Meenal

Sumber gambar, Medha Meenal

“Yang sungguh-sungguh mengagetkan saya saat mengetahui unggahan mengenai seorang putri yang kehilangan kedua jamaah tuanya akibat pandemi, sedangkan anak itu positif Covid dan sendirian di rumah. Tiada yang tahu butuh berbuat apa-apa—sejak pandemi berlangsung tiada yang bicara soal anak-anak, ” kata Medha.

Medha terdorong untuk mengadopsi anak itu. Namun, seperti dijelaskan Hari kepadanya, hukum di India tidak memperbolehkan tindakan tersebut.

Menurut undang-undang di India, jika adalah anak menjadi yatim piatu, kejadian itu harus dilaporkan ke lembaga pemerintah, ‘Childline’.

Para pejabat Childline kemudian memberitahu pekerja-pekerja sosial yg bertugas memverifikasi informasi itu dan mencatat kebutuhan did anak. Komite Kesejahteraan Putra lantas memutuskan langkah seterusnya.

Masalahnya, proses adopsi yg sah secara hukum susah untuk berlaku adil kepada anak-anak yatim piatu malahan sebelum pandemi.

Audit pemerintah pada 2018 menemukan bahwa kurang dari seperlima institusi penanganan anak benar-benar berusaha melacak keluarga biologis bocah yatim piatu sebelum menempatkan mereka dalalam proses adopsi.

Tapi terlepas dari situasi itu, pemerintah merilis promosi layanan masyarakat di sejumlah surat kabar terkemuka dalam melarang khalayak menyebarluaskan permintaan adopsi secara daring.

Baca juga:

india koran

Sejumlah organisasi pelindung hak anak juga mewanti-wanti bahayanya permintaan semacam itu oleh karena membuat anak yatim piatu berada dalam posisi rawan menjadi korban perdagangan orang dengan kedok adopsi.

Dhananjay Tingal adalah direktur eksekutif Bachpan Bachao Andolan (gerakan Selamatkan Anak) yang mengatur rumah penampungan anak-anak yg membutuhkan.

“Unggahan-unggahan di storage devices sosial termasuk ilegal daran tergolong perdagangan manusia. Tiada yang bisa menempatkan adalah anak dalam proses adopsi dengan cara itu. Tindakan tersebut berpotensi berujung di dalam penjualan dan pembelian anak, ” kata Tingal.

Memperdagangkan manusia untuk tenaga usaha, pelecehan seks, pernikahan dini, dan lain-lain adalah tantangan sukar bagi India, sebelum pandemi sekalipun.

Berdasarkan data Biro Catatan Kejahatan Nasional pada 2019, lebih dari 85. 000 anak dilaporkan hilang—artinya satu anak hilang seluruh delapan menit.

Pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk menghentikan perdagangan manusia, di antaranya meloloskan aturan ketat beserta berkoordinasi dengan departemen kesejahteraan sosial, kepolisian, dan LSM.

Rangkaian aksi itu bisa mempidana beberapa pelaku perdagangan manusia. Namun, gabungan kekuasaan, uang, dan kebutuhan rumit diberantas. Sebagian besar pemain bisa lolos dengan melunasi denda.

anak

Sumber gambar, Getty Depictions

Medha dan Hari memutuskan bahwa cara terulung menolong anak yatim piatu adalah dengan mendanai pendidikan mereka melalui organisasi pelindung anak, seperti lembaga yang diketuai Dhananjay Tingal.

Gerakan ‘Project Chhaaya’ telah menggalang dana sebanyak dua juta rupee India (sekitar Rp395 juta) secara daring.

“Kami telah menerima begitu tinggi kebaikan dari orang-orang. Contohnya seorang ibu menyumbang sungguh-sungguh jumlah besar karena putranya sendirian di rumah sementara dia dan suaminya memerangi Covid di rumah sakit, ” kata Tingal.

Panti asuhan terkadang bukan opsi pertama bagi anak-anak dalam kehilangan pengampu mereka.

Varun Pathak, selaku ketua Komite Kesejahteraan Anak Delhi, mengatakan pilihan pertama bagi buah hati yatim piatu adalah diasuh oleh keluarga besarnya.

“Hanya pada kasus-kasus yang pola keluarganya sudah benar-benar runtuh, kami mempertimbangkan untuk menempatkan anak di panti asuhan, atau dalam kasus putra yang masih belia diadopsi melalui Lembaga Adopsi Pusat, ” jelas Pathak.

Menurut Pathak, dalam kasus bocah diserahkan ke kerabat, pihaknya akan menindaklanjuti guna memberikan konseling dan dukungan moneter.

Banyak pemerintah negara periode kini mengalokasikan dana spesifik bagi anak-anak yatim piatu akibat Covid-19.

Soni Kumari

Soni Kumari dan kedua adiknya kini telah menerima makanan dan dukungan keuangan dalam pemerintah negara bagian dan para pekerja sosial.

Kehidupan mereka masih panjang, tetapi tidak ada sumber pemasukan tetap.

“Kami rindu orang tua setiap hari—hidup kami berbeda ketika mereka masih ada, ” istilah Soni.

“Mereka punya mimpi bagi kami dan mereka selalu mengedepankan kebutuhan kami walau dengan sumber pemasukan yang terbatas. ”

Datuk mereka kini tinggal bersama-sama mereka untuk sementara, namun Soni tahu bahwa kedua adiknya akan selalu berprofesi tanggung jawabnya.

“Pada kesudahannya semuanya terletak di tangan kami. Kami yang mesti merawat satu sama yang lain, ” kata Soni.

Momento optimistis terhadap masa depan dirinya dan kedua adiknya bermodalkan uang sumbangan.

Ayah Soni adalah dokter di desa mereka. Soni berharap setidaknya satu pada antara dia dan kedua adiknya bisa mengikuti jejak sang ayah. Mungkin, satu hari kelak.

About Author


Kenneth Sanders