Covid India: Sungai suci Gangga kini jadi kuburan banyak korban Covid-19, mengapa bisa terjadi?

covid-india-sungai-suci-gangga-kini-jadi-kuburan-banyak-korban-covid-19-mengapa-bisa-terjadi-10

Dapatkan promo member baru Pengeluaran HK 2020 – 2021.

  • By Geeta Pandey
  • BBC News, Delhi

6 jam yang lalu

Sungai Gangga, India, Covid

Sumber gambar, Getty Images

Sungai tersuci di India, Gangga, dipenuhi dengan ratusan mayat manusia dalam kira-kira hari terakhir – cara mengapung di sungai ataupun terkubur pasir di tepiannya.

Masyarakat yang tumbuh dekat sungai dan memakai air itu untuk keperluan sehari-hari di negara bagian utara Uttar Pradesh khawatir mayat-mayat itu adalah korban Covid-19.

India telah kewalahan menghadapi gelombang kedua pandemi Covid-19 yang menghancurkan di dalam beberapa pekan terakhir.

Tercatat, terdapat lebih sejak 25 juta kasus & 275. 000 kematian kacau walaupun para ahli mengucapkan jumlah kematian sebenarnya kaum kali lebih tinggi.

Mayat-mayat di sembiran sungai tersuci di India itu menceritakan kisah mengenai korban tewas yang tidak terlihat dan tidak diketahui dalam data resmi.

BBC mewawancarai wartawan lokal, pejabat, dan saksi mata setempat di beberapa distrik yang terkena dampak paling pelik di Uttar Pradesh.

Hasilnya, ditemukan cerita di balik ratusan mayat yang terkatung-katung itu mulai dari keyakinan tradisional, kemiskinan, dan pandemi yang menewaskan orang dengan kecepatan kilat.

Dasar kali penuh kuburan

Kengerian di Uttar Pradesh itu prima kali terungkap pada 10 Mei lalu ketika 71 mayat terdampar di sembiran sungai desa Chausa Bihar, dekat perbatasan negara periode.

Peta yang menunjukkan lokasi Chausa dan Guhmar di India Utara.

Neeraj Kumar Singh, inspektur polisi Buxar di Chausa mengatakan kepada BBC, autopsi dilakukan pada sebagian besar mayat yang mereput, sampel DNA diambil, serta mayat dikuburkan di liang dekat tepi sungai.

Aparat mengatakan beberapa jenazah kira-kira berasal dari kremasi rutin yang dilakukan di susur Sungai Gangga, tetapi ada juga dugaan lain kalau mayat tersebut telah dibuang ke sungai. Polisi kendati memasang jaring di atas air untuk menangkap bertambah banyak lagi.

Sehari kemudian, berjarak 10 kilometer daripada Chausa, puluhan mayat dengan sudah membusuk ditemukan berserakan di tepi sungai dalam desa Gahmar, Distrik Ghazipur, Uttar Pradesh, dengan anjing liar dan burung gagak “berpesta” di atasnya.

Sungai Gangga, India, Covid

Sumber gambar, Getty Images

Penduduk setempat mengatakan, mayat-mayat tersebut telah terdampar di menuntaskan selama beberapa hari, namun pihak berwenang telah membelakangi keluhan mereka tentang bau busuk yang ditimbulkan datang berita tentang mayat tersebut menjadi berita utama.

Puluhan tubuh yang bengkak & busuk mengambang di sungai itu ditemukan warga kampung di distrik tetangga Ballia ketika akan berendam cepat di sungai paling suci di India itu. Tulisan kabar Hindustan melaporkan bahwa polisi menemukan 62 pengabenan.

Di Kannauj, Kanpur, Unnao, dan Prayagraj, dasar kali dipenuhi dengan kuburan dengan dangkal. Video yang dikirim ke BBC dari tanggul Mehndi ghat di Kannauj menunjukkan sejumlah gundukan dengan panjangnya seukuran tubuh pribadi.

Banyak yang tampak seperti benjolan di dasar sungai, masing-masing berisi tubuh manusia. Di dekat Mahadevi Ghat, setidaknya 50 pengabenan ditemukan.

Perbedaan ‘masif’ di jumlah korban tewas

Dengan tradisional, umat Hindu mengkremasi jenazah sesama umat yang wafat. Tetapi banyak publik mengikuti apa yang dikenal sebagai “Jal Pravah” berantakan praktik melarungkan mayat dalam sungai seperti anak-anak, gadis yang tidak menikah, ataupun mereka yang meninggal sebab penyakit menular atau gigitan ular.

Banyak orang bangsat juga tidak mampu membayar kremasi, sehingga mereka menyembunyikan jenazah dengan kain kasa putih dan mendorongnya ke dalam air.

Ada jenazah diikat dengan tekak untuk memastikan mereka langgeng terendam, tetapi banyak juga yang terapung tanpa pikulan. Di waktu normal saja, mayat yang mengapung dalam Sungai Gangga bukan uraian biasa.

Sungai Gangga, India, Covid

Sumber gambar, Getty Images

Yang jarang terjadi adalah begitu banyak mayat bermunculan dalam zaman sesingkat itu, dan berada di banyak tempat dalam sepanjang tepi sungai. Seorang jurnalis di Kanpur mengutarakan kepada BBC bahwa mayat-mayat itu adalah bukti sebab “perbedaan besar antara nilai kematian resmi Covid-19 & angka sebenarnya di lapangan”.

Dia mengatakan secara sah 196 orang telah wafat akibat virus di Kanpur antara 16 April serta 5 Mei, tetapi data dari tujuh krematorium menunjukkan hampir 8. 000 kremasi.

“Semua krematorium listrik hidup 24/7 pada bulan April. Itu pun belum pas, sehingga pemerintah mengizinkan pekarangan luar digunakan untuk kremasi dengan menggunakan kayu, ” katanya.

“Tetapi mereka cuma menerima jenazah yang datang dari rumah sakit dengan sertifikat Covid-19, dan sebesar besar orang meninggal pada rumah, tanpa menjalani tes apa pun. Keluarga mereka membawa jenazah ke pinggiran kota atau ke kawasan tetangga seperti Unnao. Masa mereka tidak dapat menjumpai kayu atau tempat kremasi, mereka hanya menguburnya dalam dasar sungai. ”

Seorang jurnalis di Prayagraj beriktikad banyak jenazah itu adalah pasien Covid yang meninggal di rumah tanpa tes, atau orang miskin dengan tidak mampu membayar pengabenan.

“Ini memilukan, ” katanya. “Semua orang ini adalah putra, putri, saudara pria, ayah, dan ibu seseorang. Mereka pantas dihormati di dalam kematian. Tetapi mereka apalagi belum menjadi bagian sejak statistik – mereka meninggal tanpa diketahui dan dikuburkan tanpa diketahui. ”

Penguburan dari jam 7 pagi sampai 11 malam

Kreasi kuburan dan mayat dengan membusuk, serta ketakutan akan terinfeksi virus corona, sudah mengirimkan gelombang kejut ke desa-desa di sepanjang tepian sungai.

Berasal dari Himalaya, Gangga adalah salah utama sungai terbesar di negeri. Umat Hindu menganggapnya suci dan percaya bahwa makbul di Sungai Gangga bakal membersihkan dosa-dosa mereka dan menggunakan airnya untuk ritual keagamaan.

Sungai Gangga, India, Covid

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Dalam Kannauj, Jagmohan Tiwari, seorang warga desa berusia 63 tahun mengatakan kepada terusan lokal bahwa dia telah melihat “150-200 kuburan” pada dasar sungai. “Penguburan berlangsung dari jam 7 pagi sampai jam 11 malam, ” katanya. “Itu menghancurkan jiwa. ”

Sungai Gangga, India, Covid

Sumber tulisan, Getty Images

Penemuan kuburan tersebut telah memicu keresahan di daerah tersebut. Orang-orang khawatir jenazah yang tersimpan di dasar sungai hendak mulai mengapung begitu abu turun dan permukaan minuman naik.

Rabu lalu, pemerintah negara bagian melarang “Jal Pravah” dan menawarkan sandaran dana kepada keluarga bangsat yang tidak mampu membalas kremasi.

Di banyak tempat, polisi menarik mayat keluar dari sungai secara tongkat dan merekrut pakar perahu untuk membawa mereka ke darat. Kemudian, jenazah yang membusuk dikubur di dalam lubang atau dibakar di atas kayu menjilat.

Vipin Tada, inspektur petugas di Ballia, mengatakan sedang berkomunikasi dengan pemimpin badan desa untuk membuat itu sadar bahwa jenazah tak boleh diapungkan di sungai dan bagi yang tidak mampu membayar kremasi sanggup mencari bantuan keuangan.

Hakim Distrik Ghazipur Mangala Prasad Singh mengatakan kepada BBC bahwa tim sedang berpatroli di tanggul dan tempat kremasi untuk menghentikan orang membuang mayat ke dalam air atau menguburnya.

Tetapi timnya masih menemukan kepala atau dua mayat di sungai setiap hari.

“Kami telah melakukan upacara keyakinan terakhir mereka, sesuai ritus, ” katanya.

About Author


Kenneth Sanders