Israel-Palestina: Naftali Bennett, calon pertama menteri Israel yang ucap ‘tidak pernah ada negeri Palestina’

israel-palestina-naftali-bennett-calon-perdana-menteri-israel-yang-sebut-tidak-pernah-ada-negara-palestina-8

Promo menarik pada undian Data HK 2020 – 2021.

7 menit yang lalu

Naftali Bennett (March 2021)

Sumber gambar, AFP

Naftali Bennett telah lama memendam ambisi menjadi perdana menteri Israel. Namun tak disangka kesempatan itu akhirnya muncul walau partai bentukannya, Yamina, hanya memenangi tujuh kursi dalam pemilihan umum cerai-berai.

Bennet muncul sebagai calon kuat perdana menteri setelah menerima tawaran berkoalisi dengan tokoh oposisi, Yair Lapid, sekaligus mendepak Benjamin Netanyahu dari kekuasaan semasa 12 tahun.

Padahal, pria berusia 49 tahun itu dulu sempat digadang-gadang sebagai murid didikan Netanyahu. Bahkan, Bennett pernah menjelma kepala staf Netanyahu di dalam 2006 sampai 2008 datang hubungan keduanya retak.

Benjamin Netanyahu (kiri) dan Naftali Bennett

Sumber gambar, Reuters

Bennett membuang Partai Likud pimpinan Netanyahu dan bergabung dengan golongan sayap kanan Rumah Yahudi. Bersama partai keagamaan tersebut, dia menjadi anggota dewan perwakilan rakyat setelah sukses dalam pemilu 2013.

Bennet lantas menjabat sebagai menteri ekonomi dan menteri pendidikan dalam setiap pemerintahan federasi sampai 2019, ketika perserikatan Kanan Baru bentukannnya batal meraih kursi dalam penetapan tahun itu.

Namun, sedang 11 bulan kemudian, Bennett mampu kembali ke kongres sebagai ketua Partai Yamina. Dalam bahasa Ibrani, Yamina berarti ‘arah kanan’.

Pekerjaan politik Bennet dimulai setelah namanya terangkat melalui dinas kemiliteran dan dunia usaha. Pensiun sebagai anggota pasukan khusus Angkatan Darat Israel, Bennet berbisnis dengan menciptakan dan menjual perusahaan hi-tech. Usaha ini membuat dirinya berstatus miliarder.

Di dunia politik, Bennett kerap dicap ua-nasionalis. Bahkan, dia membicarakan dirinya lebih berhaluan kanan ketimbang Netanyahu.

“Tidak sudah ada negara Palestina”

Pandangannya tercermin pada suaranya yang gencar membela Israel jadi negara bangsa Yahudi serta klaim sejarah dan keyakinan Yahudi terhadap Tepi Barat, Jerusalem Timur, dan Lapangan Tinggi Golan Suriah—wilayah-wilayah dengan diduduki Israel sejak Konflik Timur Tengah 1967.

Tempat pernah menyebut Tepi Barat tidak berada dalam perebutan Israel karena “tidak pernah ada negara Palestina dalam sini”.

Adapun pertentangan Israel-Palestina, menurutnya, tidak bisa diselesaikan tapi harus dilanggengkan.

Baca juga:

Sejak lama Bennett mengadvokasi hak permukiman Yahudi dalam Tepi Barat (dia sudah menjadi ketua Dewan Yesha, kelompok perwakilan politik untuk pemukim Yahudi), meskipun dia mengatakan Israel tidak punya klaim atas Gaza (ketika Israel menarik pasukan serta pemukim pada 2005).

Bertambah dari 600. 000 orang Yahudi menetap di 140 permukiman di Tepi Barat dan Jerusalem Timur, yang dianggap ilegal oleh dekat seluruh komunitas internasional, namun dibantah Israel.

Keberadaan permukiman-permukiman ini adalah topik memutar panas antara Israel dan Palestina. Israel berkeras membelanya, sedangkan Palestina ingin agar semua permukiman ditiadakan dan negara yang merdeka di Tepi Barat dan Gaza dengan Jerusalem Timur jadi ibu kota.

Mencampuri urusan permukiman, apalagi menghentikan denyut permukiman, dianggap Bennett mencari ribut. Bahkan, oleh Bennet, Netanyahu tidak bisa dipercaya dalam menangani urusan ini.

israel

Sumber gambar, Getty Images

Karena dia lancar pepatah Inggris (mengingat orang tuanya lahir di Amerika Serikat) serta piawai dalam kesibukan media, Bennett kerap hadir di jaringan televisi ganjil guna membela aksi-aksi Israel.

Pernah suatu kali tempat berdebat dengan seorang bagian parlemen Israel keturunan Arab yang menentang permukiman Israel di Tepi Barat. Zaman itu dia mengatakan: “Ketika Anda masih berayun dalam pohon-pohon, kami sudah punya negara Israel di sini. ”

Bennett menolak gagasan pendirian negara Palestina dengan berdampingan dengan Israel—atau kerap disebut ‘solusi dua negara’ untuk mengatasi konflik Israel-Palestina yang diadvokasi komunitas global, termasuk Presiden Amerika Serikat, Joe Biden.

“Selama beta punya kekuasaan dan kendali, saya tidak akan menyerahkan tanah Israel satu sentimeter pun. Titik, ” cetusnya dalam wawancara pada Februari 2021.

Bersamaan dengan aksi itu, Bennett ingin mengisbatkan kekuasaan Israel di Tepi Barat—wilayah yang dia balik dengan nama Yudea serta Samaria—dengan menganeksasi sebagian gede kawasan tersebut.

Bennett pula berpandangan keras saat berhubungan dengan ancaman dari golongan Palestina.

Pada 2013 dia mengatakan orang Palestina “teroris seharusnya dibunuh, bukan dibebaskan”.

Padahal aniaya mati tidak diterapkan pada Israel, kecuali saat mengeksekusi Adolf Eichmann—perancang Holokos yang divonis bersalah pada 1961 dan digantung setahun berikutnya.

Dia menolak gencatan senjata dengan para pemimpin Hamas di Gaza, yang justru membuat pertikaian bereskalasi di 2018. Dia juga menuding kelompok Hamas membunuh puluhan warga Palestina sendiri, yang tewas akibat serangan udara Israel guna merespons tembakan roket dari Gaza zaman pertikaian pada Mei 2021.

Naftali Bennett

Sumber gambar, Naftali Bennett

Slogan-slogan mengenai rasa besar sebagai orang Yahudi serta kemandirian bangsa adalah jargon yang kerap disuarakan Bennet.

Pria yang mencantumkan kippah—atribut agama Yahudi di bagian kepala kaum pria—ini memarodikan surat kabar New York Times dan harian sayap kiri Israel, Haaretz, karena kedua media tersebut mengkritik tindakan-tindakan Israel.

Dalam sebuah video pada media sosial, dia menyamar sebagai seorang hipster serta berulang kali mengucapkan “maaf”. Adegan selanjutnya, dia mengungkap penyamarannya dan berkata: “Mulai hari ini kita mundur meminta maaf”.

About Author


Kenneth Sanders