‘Jaringan teroris perempuan di Indonesia lebih aktif’ – Istri terduga teroris asal Indonesia disebut pemerintah Filipina rencanakan bom bunuh diri

'Jaringan teroris perempuan di Indonesia lebih aktif' - Istri terduga teroris asal Indonesia disebut pemerintah Filipina rencanakan bom bunuh diri

serangan di Jolo, Filipina

Pemerintah Filipina mengatakan istri terduga teroris pokok Indonesia, Andi Baso, yang tengah hamil, merencanakan melakukan aksi bom bunuh diri setelah melahirkan.

Kepala Kepolisian Filipina, Jenderal Polisi Camilo Pancratius Cascolan mengatakan Senin (12/10), Nana Isirani alias Rezky Fantasya Rullie alias Cici tengah berisi lima bulan dan masih beruang di Sulu, Filipina selatan.

“Dia masih di (provinsi) Sulu. Kami sedang harus mendapatkan hasil kewarganegaraannya, dan pada saat yang sama, ana masih harus mengambil beberapa bahan karena tentu saja itu periode dari prosedur, dan kami kudu menjaga kesehatan fisiknya, ” cakap Cascolan dalam siaran pers.

Sebelumnya, penguasa militer setempat menyebut Nana S. Isirani alias Rezky Fantasya Rullie alias Renzy Fantasya Rullie nama lain Cici sebagai warga negara Indonesia.

Pejabat militer setempat juga mengutarakan Cici berencana melakukan aksi peledak bunuh diri di Kota Zamboanga sebagai balas dendam atas kematian suaminya, Andi Baso.

Cici ditangkap bersama dengan dua perempuan lainnya yang teridentifikasi sebagai Inda Nhur dan Fatima Sandra Jimlani Jama.

Ketiganya diyakini sebagai istri dari anggota kelompok Debu Sayyaf yang ditangkap di Barangay San Raymundo di Jolo, Sulu, Sabtu (10/10).

Konsul jendral Indonesia di Filipina menyatakan masih kesulitan menjumpai identitas “Cici” sebagai WNI karena masih belum mendapat akses wawancara langsung.

Sebelumnya, pemerintah Filipina juga mengecap dugaan dua perempuan WNI asing yang terlibat aksi teror.

Di Indonesia, sebuah laporan menyebutkan perempuan dengan ditahan karena terlibat aksi teroris meningkat delapan kali lipat dalam lima tahun terakhir.

Menyita bahan peledak

Penguasa Filipina mengatakan dalam penangkapan Cici tersebut, petugas menyita dua pipa tabung, satu batere 9V, satu tombol saklar, satu kabel yang diduga untuk detonator, satu klip batere, dan satu rompi.

Kekuatan bom yang diperkirakan sama kuat dengan ledakan bom bunuh diri di dua lokasi pada 24 Agustus lalu di Filipina.

Cici pula disebut sebagai istri dari Andi Baso alias Amin Baso yang tewas dalam baku tembak pasukan keamanan Filipina, akhir Agustus. Agenda aksi Cici ini diduga buat membalas dendam kematian suaminya.

Para pejabat militer mengatakan bom direkatkan di sepeda motor.

Apa tanggapan KJRI di Davao, Filipina?

Sementara itu, Wakil Jenderal RI di Kota Davao, Filipina, Dicky Fabrian mengatakan pihaknya masih belum dapat memastikan Cici berkewarganegaraan Indonesia, karena belum diberi akses aparat keamanan setempat buat bertemu dengan Cici.

“Kita tak memiliki dokumen yang lengkap atau sertifikat yang kita miliki bahwa dengan dikatakan aparat keamanan Filipin tersebut, atas nama Cici, itu betul-betul WNI.

“Jadi sampai sekarang kita tak punya data dukung, kalau memang bersangkutan betul-betul WNI, ” kata Dicky kepada BBC News Indonesia, Senin (12/10).

Hal ini tercatat suami dari Cici yang disebut-sebut pejabat militer Filipina sebagai WNI.

“Nah, yang Andi Baso tersebut juga kita tidak punya salinan bahwa Andi Baso adalah betul-betul WNI.

“Jadi, tadi saya telah bilang kemungkinan masuknya mereka ke Filipina, itu tidak melalui jalan resmi, ” tambah Dicky.

Philippines map

Sejauh ini, kata Dicky, tantangan yang dihadapi perwakilan Indonesia di Filipina terkait pendataan karena mereka yang berniat ‘jihad’ dalam Filipina kemungkinan akan menghilangkan jejak identitas diri.

“Ini niatnya membentuk untuk jihad, jadi data mereka, kalau mereka datang itu mungkin sudah dihilangkan dengan sendirinya, maka kesulitan kita untuk melakukan kroscek ke mereka, apalagi sampai masa ini kita belum dapat akases untuk bertemu, ” kata Dicky.

Sapa saja WNI perempuan yang disebut terlibat serangan bom diri dalam Filipina?

Penangkapan Cici dan dua karakter lainnya di Filipina menguak kontribusi perempuan dalam serangan bom pati padam diri.

Dua bulan lalu, dua ledakan bom bunuh diri yang mengganyang 15 orang dan melukai 75 orang lainnya dilakukan oleh dua janda milisi kelompok Abu Sayyaf. Mereka teridentifikasi sebagai Nanah dan Inda Nay.

“Nah, sampai saat ini pemeriksaan DNA itu tidak sudah dilakukan, ” kata Konsul Jenderal RI di Kota Davao, Filipina, Dicky Fabrian.

Untuk memutar gambar ini, aktifkan JavaScript atau jika di mesin pencari lain

Sebelum peristiwa ini, serangan bom juga dikerjakan suami-istri, Ruille dan Ulfa dibanding Indonesia. Mereka meledakan diri di sebuah gereja di Jolo pada 27 Januari 2019, menyebabkan 22 orang meninggal dan 100 yang lain luka.

Keduanya sempat menjalani program deradikalisasi di Indonesia setelah dideportasi sebab Istanbul, Turki, karena terlibat dengan kelompok ISIS.

Kenapa muncul tren hawa terlibat aksi bom bunuh muncul?

Analis dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Dyah Jelita Kartika mengatakan keterlibatan perempuan di dalam pelaku aktif teroris dimulai sejak ISIS menyasar kelompok ini di dalam 2014.

Tak seperti jaringan teroris lama, yaitu Al Qaeda dan Jemaah Islamiyah yang menempatkan rani sebagai pengelola keuangan dan perekrutan, tapi ISIS memberi ruang bertambah besar untuk melakukan penyerangan.

“Karena itu, ada bahkan section khusus supaya rani mau ikut terlibat tidak cuma datang ke Suriah, tapi juga melakukan jihad di tempat masing-masing, ” kata Dyah kepada BBC News Indonesia, Senin (12/10).

dian

Di Indonesia, pelibatan rani untuk mati di medan jihad dimulai dari kasus Dian Yuliana Novi yang berencana melakukan bom bunuh diri di Istana Kepala, Desember 2016.

Saat ini Dian masih mendekam di penjara Bandung setelah melahirkan anak pada 2017.

“Dari situ (kasus ini) mulai isu di mana perempuan terlibat tidak hanya sebagai pelaku bom pati padam diri, tapi juga penyerang dengan terlibat di training-training militer… & perempuannya sendiri merasa akhirnya terfasilitasi, karena selama ini mereka terpatok, jihadnya itu, ” kata Dyah.

Berdasarkan riset IPAC, perempuan yang ditangkap karena terlibat aktif aksi terorisme meningkat setelah 2014.

Periode 2000 – 2014, hanya delapan rani yang ditangkap karena terkait lagak teroris.

Sementara periode 2014 semrawut 2020, perempuan yang ditangkap meningkat empat kali lipat, yaitu 32 orang.

MNLF

Belakang yang ditangkap adalah L pedengan Ummu Syifa istri muda Ali Kalora, pemimpin Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Dia baru bergabung dengan MIT selama 23 hari zaman ditangkap pada 29 Juli 2020 karena menyembunyikan informasi tentang MIT, tulis laporan IPAC.

Bagaimana kaitan jaringan teroris Indonesia-Filipina?

Riset IPAC menyebutkan Andi Baso, suami Cici yang tewas dalam baku tembak akhir Agustus lalu memiliki peran penting dalam penghubung jaringan teroris Indonesia-Filipina.

Andi merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terhubung dengan ISIS di Filipina.

Namun, kelompok JAD di sini, kata Dyah, cukup unik karena mungkin tidak saling terhubung.

“Karena JAD benar-benar file kecil, teman-teman sepermainan. Satu kompleks pesantren, sekolah, punya pandangan sama, mengaku sebagai JAD. Mereka tidak saling terhubung utama sama lain, ” katanya.

Hal ini dikuatkan pernyataan kepolisian, Andi Baso lihai merekrut orang.

Pria pokok Makassar diyakini ikut mengatur kunjungan pasangan pelaku Rullie-Ulfah untuk mengabulkan aksi bom bunuh diri dalam Gereja Katedral, Jolo, Filipina.

polri

“Jadi, ada beberapa upaya-upaya kerjasama dengan (jaringan) Filipina, dan itu udah periode sejak zaman JI, dan sekarang, makin ada karena di declarekan nya East Asia wilayah ISIS pusatnya di Filipina, ” kata Dyah.

polri

Tren perempuan pelaku peledak bunuh diri akan ditiru di Indonesia?

Menurut Dyah, aksi-aksi serangan teroris perempuan lebih banyak dilakukan Indonesia ketimbang Filipina.

Jaringan teroris hawa di Indonesia lebih aktif. “Karena kalau rutenya lebih duluan di Indonesia, lebih aktif di Nusantara jaringannya, ” katanya.

Dyah menambahkan, Filipina sejak dulu menggunakan konsep ritual perang sabil.

Perang sabil tersebut adalah kebiasaan laki-laki teroris mendalam ke wilayah non-muslim, lalu menyerang sampai meninggal.

“Itu dari zaman penjajahan Spanyol dulu, dan belakangan tidak terlalu dipakai oleh ISIS. Sesudah 2017, pimpinan Abu Sayyaf diklaim Isnilon Hapilon itu meninggal, diganti sama Sawadjaan. Kayak mulai ada perubahan strategi, ” kata Dyah.

About Author


Kenneth Sanders