Jenazah WNI ditemukan di dalam koper di Mekah, apa yang diketahui sejauh ini?

Jenazah WNI ditemukan di dalam koper di Mekah, apa yang diketahui sejauh ini?

Dapatkan promo member baru Pengeluaran HK 2020 – 2021.

sejam yang lalu

koper

Aparat Kerajaan Arab Saudi menahan dua warga negara Indonesia (WNI) yang diduga terlibat menancapkan jenazah seorang perempuan warga Nusantara lainnya ke dalam koper di Mekah, pada Jumat (27/11) berantakan.

Kasus ini, sebagaimana diberitakan media di Timur Tengah, berawal ketika seorang warga melihat suatu koper besar tergeletak dekat hidup lingkar Kota Mekah. Ketika dibuka, isi koper tersebut berisi perempuan dalam keadaan tewas.

Setelah aparat melaksanakan pelacakan, perempuan itu adalah seorang WNI berusia 23 tahun.

Konsul Jenderal RI di Jeddah, Eko Hartono, mengatakan pihaknya sudah dihubungi abdi Saudi dan mendapat penjelasan.

Lantas, apa saja yang sudah diketahui?

Bagaimana kronologi kasus ini?

Menurut Konsul Jenderal RI di Jeddah, Eko Hartono, kasus ini bermula ketika seorang pelaku migran asal Indonesia berinisial AS “kabur” dari pekerjaannya sebagai aparat pembersih di sebuah perusahaan Saudi di Mekah.

“Dia bekerja semenjak Februari tahun ini, ” sekapur Eko kepada wartawan BBC News Indonesia, Jerome Wirawan.

Belum diketahui penyebab perempuan asal Tangerang, Banten, itu meninggalkan pekerjaannya tersebut.

Merujuk keterangan dengan didapat dari pihak berwenang Saudi, Eko mengatakan AS ditampung sebab seorang perempuan WNI berinisial H.

“Jadi si tersangka pelaku ini, segera H ini, dia menampung overstayer dan orang-orang kaburan termasuk almarhumah. Setelah tiga bulan ditampung pada situ, sakit, kemudian meninggal, ” papar Eko, seraya menambahkan bahwa dirinya belum bisa memastikan penyakit yang diidap AS.

Bagaimanapun, sendat Eko, kepolisian menyebut tidak tersedia tanda tanda pembunuhan atau kekerasan pada jenazah AS. Untuk menetapkan penyebab kematian, akan dilakukan jalan autopsi.

“Hasil autopsi resmi belum keluar. ”

Mengapa dimasukkan ke pada koper dan dibuang?

Setelah AS wafat, menurut Eko dari keterangan dengan didapatkan aparat, H “takut berurusan dengan polisi”.

“Karena kalau dia lapor, misalnya polisi datang, tersebut juga nanti kan akan berhubungan [dengan aparat]. Dia akan ditanya: ‘Kenapa sakitnya? ‘ Dia mau kena juga karena menampung orang-orang kaburan dan overstayer , ” kata Eko.

Disebutkan Eko, H kemudian bekerja sama dengan seorang pria WNI untuk meluluskan jenazah AS ke dalam koper dan membuangnya di pinggir tiang.

“Harapannya akan ditemukan orang serta dibantu penguburannya. Itu pengakuan sebab pelaku, ” papar Eko.

Bagaimana jalan pelacakan?

Eko mengaku KJRI Jeddah mendapat laporan pada Sabtu (28/11) malam ketika tersangka belum ditangkap.

KJRI memastikan jenazah adalah WNI setelah melakukan pengecekan Surat Izin Tinggal alias Iqomah.

“Jadi almarhumah itu disidik jari sebab polisi. Setelah disidik jari lalu ketahuan iqomah nya. Lalu langsung dari awak kita lacak. Dari iqomah nya ketahuan kalau paspor Indonesia, berarti orang Nusantara. Orang Tangerang, ” kata Eko.

Mengenai kedua WNI yang menjadi simpulan juga berasal dari Provinsi Banten.

“[Yang menampung] perempuan pokok Serang. Dia dibantu oleh seorang laki-laki dari Lebak untuk mencoret mayat, ” jelas Eko.

Bagaimana kelanjutannya?

Eko mengatakan pihaknya sedang berupaya berkontak dengan perusahaan tempat AS sudah bekerja untuk melacak keluarganya.

Situasi ini dilakukan untuk mengetahui apakah jenazah AS hendak dimakamkan pada Arab Saudi atau dibawa pulang ke Indonesia.

Adapun terhadap dua WNI yang menjadi tersangka pelaku pembuangan jenazah AS, Eko mengaku KJRI Jeddah akan memberi pendampingan asas.

“Jadi rencananya hari ini [Senin, 30 November 2020] kita melakukan pendampingan. ”

Bukan hanya itu, pada 2019, total pengaduan persoalan buruh migran Nusantara di Arab Saudi (1. 372 laporan) menempati posisi kedua, setelah Malaysia (4. 845 laporan). Pengaduan ini di antaranya terkait dengan gaji yang tak dibayar, penipuan, perdagangan orang, tindak kekerasan daripada majikan dan pemalsuan dokumen.

About Author


Kenneth Sanders