‘Kapal beracun’ berbendara Singapura, X-Press Pearl, yang menyebabkan bencana lingkungan

kapal-beracun-berbendara-singapura-x-press-pearl-yang-menyebabkan-bencana-lingkungan-12

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SGP 2020 – 2021.

2 jam yang lalu

Kapal mulai tenggelam dalam foto tanggal 2 Juni 2021

Sumber gambar, EPA

Dalam awal Juni, kapal kargo yang mengangkut bahan kimia terbakar di laut terlepas Sri Lanka yang berpotensi menyebabkan bencana lingkungan selama puluhan tahun mendatang di negara itu, lapor kuli BBC, Ranga Sirilal dan Andreas Illmer.

Kapal itu terbakar semasa berhari-hari di lepas pantai Sri Lanka. Asap hitam pekat mengepul yang dapat dilihat dari jarak dengan jauh dari lokasi pesawat.

Namun kapal yang diberi nama X-Press Pearl itu sudah setengah tenggelam, lambung kapal berada di dasar laut.

Walaupun kobaran api telah padam, bervariasi persoalan baru mengemuka.

Di pada kapal terdapat tumpukan kotak kemas. Banyak petik kemas itu menyimpan bahan kimia yang amat berbahaya untuk lingkungan, bahkan sebagian telah bocor ke laut serta memunculkan kekhawatiran bahan kimia itu mungkin meracuni kesibukan laut.

Di samping tersebut, berton-ton pelet plastik telah hanyut ke sejumlah miring setempat. Tak hanya tersebut, ratusan ton bahan mengobarkan untuk mesin disimpan dalam badan kapal yang masuk itu dan mungkin berisiko bocor ke laut.

Selain ancaman terhadap lingkungan, kelompok setempat juga terancam kecelakaan, misalnya para nelayan.

“Kami adalah nelayan kecil-kecilan & melaut setiap hari. Kami hanya bisa mendapatkan bayar jika kami menangkap ikan- jika tidak seluruh bagian keluarga kami akan kelaparan, ” kata seorang nelayan, Denish Rodrigo, kepada BBC.

Miliran pelet plastik

Satu hal yang menganjurkan jika mencermati foto-foto dibanding kecelakaan kapal ini ialah adanya butiran-butiran kecil plastik yang membentang hampir sejauh mata memandang.

Pelet plastik ini digunakan buat membuat hampir semua keluaran plastik.

Butiran plastik dari MV X-Press Pearl

Sumber gambar, Getty Images

“Terdapat 46 benih kimia berbeda-beda di pesawat itu, ” kata Hemantha Withanage.

Ia adalah pencetus lingkungan dan pendiri lembaga Pusat Keadilan Lingkungan di ibu kota Sri Lanka, Colombo

“Tetapi yang menyesatkan kelihatan sejauh ini ialah berton-ton pelet plastik. ”

Sejak akhir Mei, butiran-butiran plastik dari kapal X-Press Pearl terhanyut ke pantai-pantai di Negombo. Ditemukan pula ikan-ikan mati yang perut kembung dipenuhi pelet plastik sementara sebagian butiran plastik menyangkut di periode insang.

Ikan mati dengan butiran plastik menyangkut di insang

Sumber tulisan, EPA

Plastik memerlukan periode antara 500 hingga satu. 000 tahun untuk terurai dan kemungkinan besar mudah terbawa arus ke pantai-pantai di Sri Lanka bahkan ke tempat-tempat yang jaraknya ratusan kilometer dari letak kapal karam.

Meskipun sejauh ini plastik mungkin menjadi dampak yang menyesatkan tampak, plastik bukanlah dengan paling berbahaya.

“Jika palet plastik ini tersedia di dalam ikan yang kita konsumsi, butiran plastik itu biasanya berada di tata cara pencernaan, ” jelas Britta Denise Hardesty dari CSIRO Oceans and Atmosphere, Australia.

“Tapi kita tidak mengunyah seluruh bagian ikan kecuali ikan teri atau sardin. ”

Keluarga kami akan alami kelaparan

Bagi kalangan nelayan Negombo, kekhawatiran sempurna mereka bukan hanya barang apa yang terkandung di dalam ikan, tetapi kemungkinan mereka tidak bisa menangkap ikan sama sekali.

Bagian berwenang telah melarang penangkapan ikan di kawasan yang terdampak sehingga warga kematian mata pencaharian dan bayar seketika.

“Ikan berkembanng biak di terumbu halaman di kawasan ini serta pihak berwenang mengatakan semua tempat ikan berkembang tumbuh rusak akibat bahan kimia berbahaya. Tak ada pilihan lain bagi kami kecuali menceburkan diri ke bahar dan mati, ” ujar Tiuline Fernando, yang menjadi nelayan selama 35 tahun terakhir.

Warga menjual ikan

Walaupun negeri Sri Lanka mengharapkan dana kompensasi dan dana asuransi dari pemilik kapal yang berkantor di Singapura tersebut, penduduk setempat tidak terlalu yakin bahwa sebagian gede uang akan sampai ke mereka.

Bagaimanapun, persatuan nelayan mengaku mereka amat menggunakan bantuan, bukan hanya kalangan nelayan tetapi juga umum secara umum.

“Terdapat industri-industri lain yang terdampak. Awak membeli jaring dan pesawat dan perahu, kami memerlukan bahan bakar, lalu ada orang-orang yang menarik perahu. Ada ribuan lapangan pekerjaan lain yang terkait dengan industri perikanan, ” sebutan ketua persatuan nelayan Densil Fernando.

Nelayan

Pengotoran kimia

Dampak dengan paling panjang yang jalan akan dialami Sri Lanka adalah polusi kimia.

Di antara bahan-bahan kimia menyesatkan berbahaya yang diangkut pesawat tersebut terdapat asam nitrat, sodium dioksida, tembaga serta timbal, kata Withanage.

Begitu masuk ke air, bahan-bahan kimia itu terserap ke perut penghuni laut.

Ikan kecil mungkin akan cepat mati akibat keracunan ini, tetapi ikan besar kemungkinannya kecil. Sebaliknya, ikan besar akan terkontaminasi racun jika memakan ikan-ikan kecil itu.

Patuh Withange, ikan, penyu & lumba-lumba yang mati telah hanyut ke pantai. Sebagian di antaranya berubah warna menjadi kehijau-hijauan, yang peluang telah terkontaminasi dengan logam dan bahan kimia.

Artinya, ikan dari tempat itu berbahaya bagi pribadi, tidak hanya sekarang tetapi bertahun-tahun kemudian.

“Warga perlu diberi edukasi mengenai perkara ini, ” kata Withange.

“Kapal ini penuh secara racun sekarang. Sampah pada bentuk apapun yang terbawa ke pantai sangat beracun dan warga bahkan seharusnya tidak menyentuhnya, ” tambahan Withange seperti dilaporkan oleh wartawan BBC, Ranga Sirilal dan Andreas Illmer.

Reruntuhan kapal dikumpulkan di Negombo, Sri Lanka

Sumber gambar, EPA

Masalah tersebut tidak hanya terlokasir dalam kawasan sekitar kapal masuk di pesisir barat Sri Lanka.

“Sampah, toksin, plastik tidak terikat dalam batas geografis, ” terang Britta Denise Hardesty dari CSIRO Oceans and Atmosphere, Australia kepada BBC.

“Barang-barang itu akan dibawa oleh angin, ombak, arus dan kejadian-kejadian lain dengan berubah sesuai dengan musim. ”

Operasi pembersihan

Meskipun sebelumnya pernah menemui kapal tenggelam, Sri Lanka belum pernah mengalami pesawat karam yang mengangkut isi beracun seperti ini. Negeri itu tidak siap bertemu tugas berat ini.

Perusahaan kapal pemilik X-Press Pearl telah mengontrak kongsi internasional untuk menangani genting tersebut dan mengatakan para-para ahli perusahaan itu sudah berada di Sri Lanka.

Aktivis lingkungan serta pendiri lembaga Pusat Keadilan Lingkungan, Hemantha Withanage, ragu apakah perusahaan komersial itu akan berusaha maksimal buat mengatasi masalah.

Peristiwa kapal karam telah menjadi kejadian pengajuan klaim asuransi dengan banyak menyedot perhatian & kemungkinan pembayaran klaim yang besar bisa jadi menggagalkan dampak yang dialami kesibukan laut.

Pusat Keseimbangan Lingkungan pimpinan Withanage telah melayangkan gugatan kepada negeri Sri Lanka dan kongsi kapal, namun diakuinya buatan terbaik dari gugatan tersebut kemungkinan hanyalah berupa pengembangan kesadaran masyarakat.

About Author


Kenneth Sanders