Komnas HAM klaim temukan bukti ‘memperjelas’ insiden tewasnya anggota FPI, pemulihan polisi menuai kritik, apa yang diketahui sejauh ini?

Komnas HAM klaim temukan bukti 'memperjelas' insiden tewasnya anggota FPI, pemulihan polisi menuai kritik, apa yang diketahui sejauh ini?

Dapatkan promo member baru Pengeluaran SDY 2020 – 2021.

4 jam yang lalu

Sejumlah anggota tim penyidik Bareskrim Polri memperagakan adegan saat rekonstruksi kasus penembakan enam anggota laskar Front Pembela Islam (FPI) di Karawang, Jawa Barat, Senin (14/12/2020) dini hari.

Komisi Nasional Hak Asasi Bani adam (Komnas HAM) menyatakan berhasil menjumpai sejumlah bukti yang dinilai “memperjelas” insiden bentrok yang menewaskan enam anggota Front Pembela Islam (FPI).

Komnas HAM menegaskan akan lestari melakukan pemeriksaan dan penelusuran dengan independen tanpa berafiliasi dengan bagian manapun, meski kepolisian telah mengabulkan rekonstruksi terkait tewasnya enam bagian FPI, yang mengawal perjalanan kepala FPI, Rizieq Shihab.

Sebelumnya, tim ikatan dari Bareskrim Polri dan Polda Metro Jaya menggelar rekonstruksi relasi tembak antara polisi dan Angkatan FPI di empat titik pada Karawang, Jawa Barat.

Polri mengisbatkan rekonstruksi ini sebagai “bentuk transparansi polisi”.

Namun FPI memandang adanya kejanggalan dalam rekonstruksi yang dilakukan polisi.

FPI mengutarakan kejanggalan ini karena dalam informasi sebelumnya polisi menyebut anggota FPI tewas dalam baku tembak dengan polisi. Namun, hasil rekonstruksi mengungkap bahwa keempat anggota FPI mati di tangan polisi karena dikenal merebut senjata polisi ketika ditangkap.

Pengamat kepolisian menyebut rekonstruksi itu menuai pertanyaan publik sebab di dalam rekonstruksi terungkap bahwa “polisi tidak melakukan langkah preventif” dan “bertindak tidak sesuai SOP” (standard operation procedure ), serta mendesak dibentuknya tim swasembada pencari fakta.

Bentrokan antara polisi dan Laskar FPI terjadi Tol Jakarta – Cikampek pada Senin (07/12) dini hari. Dalam kejadian tersebut, enam anggota FPI mati ditembak oleh aparat kepolisian.

Versi polisi menyebut enam anggota FPI itu ditembak mati karena mencari jalan menyerang petugas kepolisian yang membuntutinya. Namun versi FPI menyebut mereka diserang terlebih dulu.

Kapolda Metro Jaya

Bagaimana dengan penyelidikan independen Komnas HAM?

Di bagian lain, Komnas HAM yang serupa melakukan penyelidikan di lapangan serta mengklaim telah memiliki bukti kejadian penembakan anggota FPI, yang disebut bisa memperjelas peristiwa tersebut.

Komnas HAM melakukan pemeriksaan terhadap Kapolda Metro Jaya dan Direktur Pati PT Jasa Marga pada Senin (07/12) terkait tewasnya enam bagian FPI di Tol Jakarta semrawut Cikampek.

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara menjelaskan Dirut Kebaikan Marga Subakti Syukur memberikan petunjuk tambahan terkait rekaman CCTV, namun Kapolda Metro Jaya, Irjen Fadil Imran menerangkan kronologi kejadian berangkat dari sebelum peristiwa hingga sesudah peristiwa meninggalnya keenam anggota FPI.

Komnas HAM

“Ada bukti baru, masukan tambahannya juga semakin memperjelas peristiwa yang terjadi dan juga perkara temuan-temuan lain. Artinya, ini melengkapi puzzle-puzzle yang ada sehingga tinggal ana analisa, ” ujar Beka Ulung.

Ketika ditanya apa bukti-bukti yang memperjelas insiden itu, Beka Ulung menjelaskan: “Pertanyaan mendasar kan demikian ini, apakah kemudian memang terjadi dasar tembak atau tidak. Atau kemudian saksi-saksi mendengar tembakan, ini membangun membedakan antara mendengar tembakan dan melihat baku tembak kan lain. ”

Kendati begitu, ia menjelaskan tersedia beberapa yang memerlukan pendalaman bertambah lanjut.

“Terkait misalnya bagaimana suasana fisik mobil, baik mobil aparat maupun dari FPI. Yang kedua, soal uji balistik dan pula forensik, ini perlu pendalaman sebab kami harus juga melihat dengan fisik, ” jelas Beka.

Beka menjelaskan Komnas HAM menargetkan penyelidikan akan usai dalam waktu satu bulan mendatang.

Direktur Utama PT Jasa Marga Subakti Syukur

Apa tanda yang terungkap dalam rekonstruksi?

Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menjelaskan rekonstruksi dilakukan di empat bercak tempat kejadian perkara (TKP) secara total 58 adegan pada Senin (14/12) dini hari.

Kegiatan dikerjakan di malam hari agar menyelaraskan dengan berita acara pemeriksaan (BAP).

“Rekonstruksi ini merupakan hasil berita acara pemeriksaan, dari olah TKP dan bukti-bukti petunjuk yang ada, ” ujar Argo usai rekonstruksi, seraya menambahkan pihaknya telah membuktikan 26 saksi terkait insiden itu.

“Rekonstruksi kita lakukan biar polisi transparan dalam menangani kasus tersebut. Jadi kita bisa melihat segenap adegan per adegan, peran dibanding saksi seperti apa. Biar seluruh kita bisa lihat bersama, ” katanya kemudian.

Empat titik pemulihan terdiri dari TKP di bundaran Hotel Novotel Karawang, Jembatan Badami, Rest Area KM 50 & KM 51+200.

Dalam rekonstruksi, tersibak bahwa dua laskar FPI terluka di Jembatan Badami sedangkan empat lainnya di mobil polisi di Rest Area KM 50 Pungutan Jakarta – Cikampek.

rekonstruksi

Babak rekonstruksi dimulai dengan beberapa bagian kepolisian yang mengendarai mobil Toyota Avanza berwarna silver dihalangi oleh dua mobil yang dikendarai bagian Laskar FPI, yakni mobil Toyota Avanza berwarna silver dan Cheverolet spin warga abu-abu.

Mobil Toyota Avanza yang dikendarai Laskar FPI menabrak kendaraan yang ditumpangi aparat polisi kemudian melarikan diri, patuh petugas yang melakukan rekonstruksi.

Lalu, mobil Laskar FPI yang lain menghadang mobil petugas. Empat karakter keluar dari mobil disebut keluar sambil membawa senjata tajam, lalu melakukan penyerangan terhadap mobil aparat.

Petugas lalu mengeluarkan tembakan peringatan yang disambut oleh tiga tembakan dari mobil Laskar FPI ke arah mobil polisi kemudian melarikan diri.

Di Jembatan Badami, mobil yang memuat enam anggota FPI itu kemudian disalip oleh mobil petugas dari sisi sebelah kiri.

Dalam rekonstruksi, salah seorang barisan membuka kaca mobil dan mengarahkan senjata ke salah seorang aparat di dalam mobil yang menyimpan empat petugas polisi itu.

Dalam lokasi itulah, baku tembak antara polisi dan laskar FPI disebut terjadi.

Usai kejar-kejaran sekitar 200 – 300 meter, mobil petugas tertinggal jauh dari mobil dengan ditumpangi anggota FPI.

Namun, mobil Chevrolet yang ditumpangi anggota FPI terhalang sebuah mobil ketika akan muncul dari Rest Area KM 50 Tol Jakarta – Cikampek.

Pada saat itulah, aparat mengepung mobil tersebut dan meminta penumpang buat menyerahkan diri.

Dalam rekonstruksi, terungkap bahwa dua orang anggota FPI terluka. Sebab, keduanya tampak keluar lantaran mobil dengan jalan terpincang.

rekonstruksi

Patuh Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian, kedua orang itu terluka saat gerak laku baku tembak di TKP sebelumnya.

“Di dalam proses pengejaran, melihat sejak gelagat pelaku yang mencoba menyasarkan tembakannya kepada petugas, daripada didahului, anggota melakukan tindakan tegas. Ternyata sampai TKP 3 begitu lulus di blok, begitu dibuka perut dari pelaku sudah dalam laksana terluka, ” terang Andi, minus merinci lebih lanjut luka dengan dialami kedua orang tersebut.

Kemudian, kedua anggota FPI yang terluka dibawa menggunakan mobil polisi. Tatkala empat orang lain dibawa menggunakan mobil Daihatsu Xenia milik penjaga lainnya, yang tiba untuk membantu polisi yang melakukan pengejaran.

Di TKP terakhir, yakni KM 51+200 empat anggota FPI itu ditembak polisi karena diduga mencoba menawan senjata petugas.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian, menjelaskan satu anggota FPI duduk di bangku tengah bergabung anggota polisi, sementara tiga yang lain duduk di bangku belakang. Keempatnya tidak diborgol.

“Dalam penjelajahan yang tidak jauh jaraknya, dari KM 50 Rest Area sampai dengan KM 51 sampai KM 51, 2 terjadilah penyerangan atau merebut senjata anggota. Terjadi pemeriksaan untuk merebut senjata anggota dari pelaku yang ada di pada mobil, ” jelas Andi yang menggambarkan aksi yang dilakukan sebab petugas polisi itu sebagai “tindakan pembelaan”.

“Di situlah terjadi upaya dibanding penyidik yang ada di di mobil untuk lakukan tindakan pledoi sehingga keempat pelaku dalam mobil itu semuanya mengalami tindakan kasar dan terukur dari anggota dengan ada di dalam mobil, ” katanya kemudian.

Dalam insiden tersebut, enam orang anggota FPI dengan meninggal dunia yakni Andi Oktaviawan (33 tahun), Lutfi Hakim (24 tahun), Faiz Ahmad Syukur (22 tahun), M Reza (20 tahun), Muhammad Suci Khadafi Poetra (21 tahun) dan Akhmad Sofian (26 tahun).

rekonstruksi

Apa respons FPI dan kepolisian hasil rekonstruksi?

Benny Mamoto dari Kompolnas, yang turut serta dalam rekonstruksi itu melahirkan “bahwa memang benar terjadi penyerangan yang aktif” dari anggota FPI.

“Ini kiranya menjadi pemahaman kita bersama apa yang sesungguhnya terjadi, ” ujarnya.

Hal itu ditegaskan juga oleh Direktur Tindak Kejahatan Umum Bareskrim Polri, Brigjen Andi Rian, yang menjelaskan dari TKP 1, mulai terjadi penyerangan kepada anggota kepolisian.

“Sehingga tentu menyikapi penyerangan tadi, anggota Polri di dalam hal ini penyidik dalam organ tersebut melakukan pengejaran, ” akunya.

Kapolda dan pangdam Jaya

Sekretaris Umum FPI, Munarman, mengungkap adanya keanehan dalam rekonstruksi yang dilakukan penjaga.

Ia mengatakan kejanggalan itu tampak dari keterangan polisi sebelumnya kalau anggota FPI tewas dalam baku tembak dengan polisi.

Namun hasil rekonstruksi mengungkap bahwa keempat anggota FPI tewas di tangan polisi karena disebut merebut senjata penjaga ketika ditangkap.

“Kalau serangannya dalam atas mobil, kita pertanyakan. Jika empat orang sudah di mobil artinya sudah diakui sekarang itu bahwa empat masih hidup, itu dulu poinnya.

“Empat masih hidup bilamana itu tidak terjadi tembak menembak, kemudian dibawa pakai mobil dan di dalam mobil dikatakan, difitnah bahwa mencoba merampas senjata aparat. Jadi ini ceritanya berubah, ” ujar Munarman ketika ditemui wartawan usai menjenguk pemimpin FPI, Rizieq Shihab yang ditahan sejak Sabtu (12/12) lalu.

“Pertanyaan yang patut diajukan, berapa orang itu di mobil? Masak empat-empatnya cuma dikawal besar petugas? Nah ini makin langka, ” imbuhnya kemudian.

Masih banyak pertanyaan yang belum terungkap – tanggapan pengkritik kepolisian

Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies, Jelas Rukminto menganggap “masih banyak pertanyaan” yang belum terjawab dalam rekonstruksi yang dilakukan polisi.

“Bagaimana karakter yang sudah tertangkap kemudian mengabulkan penyerangan. Ini yang akan mendirikan pertanyaan banyak pihak juga, ” kata dia.

Ia juga menyebut bahwa “polisi tidak melakukan langkah preventif”.

“Bila sebelumnya mereka melakukan penyerangan, lalu terjadi penangkapan, mengapa bisa berlaku empat orang itu dikumpulkan di satu mobil kemudian mereka mampu melakukan penyerangan.

Jenazah anggota FPI

“Artinya di situ tidak ada rasio yang proporsional antara tersangka dengan polisi dengan mengawal yang tertangkap, ini melahirkan penyerangan kembali kemudian muncul insiden dan memunculkan korban meninggal itu, ” katanya.

Dalam Peraturan Kapolri tahun 2009, kata Bambang, polisi seharusnya melakukan standar preventif untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti itu.

Senada, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menganggap aparat polisi telah “melanggar standar operasi dan metode (SOP)” dalam kasus kematian bagian FPI tersebut.

Ia mempertanyakan mengapa keempat anggota FPI yang diamankan tak diborgol saat dimasukkan ke mobil polisi.

Neta juga menganggap bagian polisi yang seharusnya terlatih, tak mampu melumpuhkan anggota FPI dengan tak bersenjata yang sudah diamankan.

“Sehingga para polisi main gasak menembak dengan jarak dekat maka keempat anggota FPI itu mati, ” kata Neta.

Menyikapi aksi penjaga yang diduga tidak melakukan kelakuan preventif dan tidak sesuai SOP, Komisioner Komnas HAM Beka Cakap Hapsara menjelaskan bahwa lembaganya “akan menganalisa dengan instrumen HAM serta instrument internal kepolisian”.

Khususnya, kata Beka Ulung, Peraturan Kapolri nomor satu tahun 2009 soal penggunaan gaya dalam tindakan kepolisian dan Peraturan Kapolri nomor 8 tahun 2009 tentang implementasi nilai dan patokan hak asasi manusia dalam perintah sehari-hari kepolisian.

“Di situ belakang akan terlihat bagaimana tahapan-tahapan dengan digunakan kawan-kawan kepolisian dalam menyikapi situasi yang ada, ” menyusun Beka Ulung.

Bagaimana dengan desakan dibentuknya tim independen pencari data?

Neta S Pane mendesak Mabes Polri mau mengakui adanya pelanggaran SOP tersebut.

Ia pun mendesak Komnas HAM dan Komisi III DPR mau mencermati pelanggaran SOP yang kemudian menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM dalam kematian anggota FPI yang mengawal Rizieq

“Sebab itulah, Komnas HAM dan Komisi III perlu mendesak dibentuknya Tim Independen Pencari Fakta agar kasus ini terang benderang, ” ujarnya kemudian.

Namun, Bambang Rukminto dari Institute for Security and Strategic Studies menganggap tim mandiri pencari fakta menjadi langkah terakhir.

Komnas HAM

“Yang terpenting, bagaimana saat itu semangat kepolisian menjaga profesionalisme, membukanya dengan penuh transparan. Kemudian pada situ terjadi kesalahan-kesalahan, tentunya harus ada pertanggungjawaban yang bisa diterima publik, ” kata Bambang.

Pada pernyatannya pada Minggu (13/12), Presiden Joko Widodo menegaskan jika tersedia perbedaan pendapat perihal proses penegakkan hukum, ia meminta semua pihak menggunakan mekanisme yang ada, yaitu melalui proses peradilan.

Jika menggunakan keterlibatan lembaga independen, katanya, klub dapat menyampaikan pengaduannya melalui Komnas HAM.

“Tidak boleh ada awak dari masyarakat yang semena-mena menyalahi hukum yang merugikan masyarakat, makin membahayakan bangsa dan negara dan aparat hukum tidak boleh tertinggal sedikit pun, ” kata Jokowi.

“Tapi aparat penegak hukum serupa wajib mengikuti aturan hukum di menjalankan tugasnya, melindungi HAM dan menggunakan kewenangannya secara wajar & terukur, ” ujarnya kemudian.

Sementara Beka Ulung Hapsara dari Komnas PEDOMAN memastikan bahwa lembaganya akan main secara independen tanpa berafiliasi dengan apapun.

“Komnas HAM adalah lembaga independen artinya kami tak punya atasan atau kemudian bertanggung jawab kepada yang lain. saya hanya kepada negara yang tersedia saja.

“Tentu saja kami akan menyala secara independen, objektif dan tetap saja transparan supaya akuntabilitasnya mampu dipertanggungjawabkan. ”

About Author


Kenneth Sanders