Konflik Afghanistan: Perundingan damai ‘bersejarah’ dengan Taliban dimulai, apa yang bisa diharapkan?

Konflik Afghanistan: Perundingan damai 'bersejarah' dengan Taliban dimulai, apa yang bisa diharapkan?

Warga Afganistan

Perundingan tenteram pertama antara pemerintah Afghanistan & Taliban dimulai di Qatar di dalam hari Sabtu (12/09) setelah tertunda selama berbulan-bulan.

Dalam pidato pembukanya, kepala delegasi Afghanistan, Abdullah Abdullah, mengatakan ada kesempatan untuk menyudahi hal yang ia sebut “penderitaan tak berkesudahan”.

Pemimpin politik Taliban, Mullah Baradar, berkata ia ingin Afghanistan menjadi negara independen dengan bentuk Islam.

Perundingan itu seharusnya dimulai menyusul kesepakatan keamanan AS-Taliban pada Februari.

Tetapi perdebatan soal pertukaran tawanan yang kontroversial memperlambat tahapan berikutnya, begitu pula kekerasan di Afghanistan, wadah perang yang telah berlangsung selama empat dekade menemui jalan mati.

AS telah memainkan peran penting jadi perantara negosiasi. Menteri Luar Jati Mike Pompeo menyebut perundingan tersebut “peristiwa penting”, dan mengatakan pada kedua pihak bahwa seluruh dunia mengharapkan kesuksesan mereka.

Delegasi para majikan Afganistan berangkat dari Kabul ke Doha pada Jumat – 11 September, tanggal terjadinya serangan mematikan terhadap AS 19 tahun cerai-berai, yang berujung pada akhir kekuasaan Taliban.

Pada hari Kamis, Taliban mengonfirmasi bahwa mereka akan hadir, sesudah enam tawanan terakhir dilepaskan.

Apa dengan bisa diharapkan dari perundingan tersebut?

Itu adalah pertemuan langsung pertama antara Taliban dan perwakilan pemerintah Afghanistan. Sebelumnya, kelompok militan itu selalu menolak menemui pemerintah, menyebut mereka tidak berdaya dan “boneka” Amerika.

Kedua kubu bertujuan mencapai rekonsiliasi kebijakan dan mengakhiri kekerasan yang telah berlangsung puluhan tahun, yang dimulai dengan invasi Uni Soviet di dalam 1979.

Perundingan ini seharusnya dimulai di Maret tapi ditunda berkali-kali karena perselisihan soal pertukaran tawanan yang disepakati dalam perjanjian AS-Taliban di bulan Februari, serta kekerasan dalam Afghanistan.

Kesepakatan AS-Taliban yang terpisah tetapi saling terkait menetapkan jadwal untuk penarikan pasukan asing, dengan balasan berupa jaminan kontra-terorisme.

Kesepakatan tersebut perlu satu tahun untuk difinalisasi, & perundingan pemerintah-Taliban diperkirakan akan menjelma lebih kompleks. Banyak yang kacau bahwa kemajuan yang telah dicapai dalam hal hak-hak perempuan mampu dikorbankan dalam prosesnya.

Perundingan ini juga menjadi tantangan bagi Taliban, yang harus mengajukan visi politik yang nyata bagi Afghanistan. Sejauh itu mereka selalu samar-samar, menyatakan mereka mendambakan pemerintahan yang “Islami” tapi juga “Inklusif”.

Perundingan ini mungkin mau menunjukkan bukti tentang bagaimana gerombolan militan tersebut telah berubah semenjak 1990-an, ketika mereka menggunakan terjemahan yang keras dari hukum Syariah.

Apa isi kesepakatan AS-Taliban?

AS dan federasi mereka di NATO setuju untuk menarik semua pasukan dalam periode 14 bulan, sementara Taliban berkomitmen untuk tidak membiarkan al-Qaeda ataupun kelompok ekstremis lainnya untuk jalan di wilayah yang mereka kuasai.

GANDAR juga setuju untuk mencabut hukuman terhadap Taliban dan bekerja sebanding dengan PBB untuk mencabut sanksi-sanksi lainnya terhadap kelompok itu, serta mengurangi jumlah pasukannya di negara itu dari sekitar 12. 000 menjadi 8. 600 dan menutup beberapa pangkalan.

Pasukan yang dipimpin GANDAR telah hadir di Afghanistan semasa hampir dua dekade, usai melampiaskan serangan udara untuk menggulingkan Taliban pada 2001, menyusul serangan mematikan pada 11 September yang dilakukan al-Qaeda di New York. Masa itu Taliban melindungi pemimpin al-Qaeda Osama Bin Laden dan menegah untuk menyerahkannya.

Pemerintah Afghanistan tidak jiplak bagian dalam kesepakatan Februari, namun diharapkan akan memulai perundingan tenang dengan Taliban pada bulan Maret.

Kesepakatan tersebut juga meliputi pertukaran kira-kira 5. 000 tahanan Taliban & 1. 000 personel keamanan Afghanistan yang ditawan untuk diselesaikan pra perundingan Maret dimulai.

Tahanan Taliban

Apa yang terjadi setelahnya?

Namun ujung runding pemerintah Afghanistan dan Taliban tidak sepakat soal jumlah tahanan yang dibebaskan dan siapa selalu mereka. Kekerasan yang terus terjadi juga membuatnya terus tertunda.

Beberapa karakter yang Taliban minta untuk dibebaskan adalah komandan-komandan yang diyakini terkebat dalam serangan besar.

“Kami tidak mampu membebaskan para pembunuh rakyat kami, ” kata seorang negosiator negeri saat itu.

Menurut sebuah laporan sebab Washington Post bulan lalu, tiga warga Afghanistan yang dituduh terkebat dalam kematian tentara AS selalu menjadi sorotan.

Progresnya lambat, tetapi dalam bulan Agustus, pemerintah Afghanistan mulai membebaskan 400 tahanan terakhir Taliban, setelah langkah tersebut disetujui sebab majelis besar, atau loya jirga para tetua.

Para delegasi menghadiri loya jirga untuk mendiskusikan pembebasan tahanan Taliban.

Gerombolan 400 orang itu tidak tepat dibebaskan seluruhnya, setelah Prancis & Australia menyatakan keberatan pada pembebasan enam tahanan yang dituduh menyelenggarakan serangan fatal terhadap warga negeri mereka, termasuk pekerja kemanusiaan.

Pembebasan serta pemindahan mereka ke Doha di dalam malam sebelum pembicaraan menghilangkan rintangan terakhir.

Perang terpanjang AS

Telah berlangsung semasa 19 tahun, konflik di Afghanistan – dengan nama sandi Operation Enduring Freedom dan kemudian Operation Freedom’s Sentinel – adalah dengan terpanjang dalam sejarah AS.

Pasukan AS di Afganistan.

Pada awal operasi itu di tahun 2001, AS dibantu oleh koalisi internasional, dan secara cepat meruntuhkan kekuasaan Taliban. Namun kelompok militan itu berubah menjadi pasukan pemberontak yang melancarkan serangan mematikan terhadap pasukan koalisi & militer Afghanistan, serta pejabat negeri Afghanistan.

Koalisi internasional mengakhiri misi tempurnya pada tahun 2014. Total objek tewas dari koalisi pada era itu hampir mencapai 3. 500. Lebih dari 2. 400 awak militer AS telah tewas. Inggris kehilangan lebih dari 450 tentaranya.

Institut Watson di Universitas Brown di dalam November 2019 memperkirakan lebih dibanding 43. 000 warga sipil telah tewas, dengan 64. 000 personel keamanan Afghanistan dan 42. 000 pejuang anti-pemerintah tewas. Angka sesungguhnya tidak akan pernah diketahui.

Setelah 2014, AS melanjutkan operasi tempurnya sendiri dalam skala kecil, termasuk serbuan udara. Sementara Taliban terus memperoleh momentum dan sekarang mengendalikan lebih banyak wilayah dibandingkan ketika mereka berkuasa tahun 2001.

About Author


Kenneth Sanders