Kongres Rusia akan berikan ‘kekebalan hukum’ bagi Putin di tengah tudingan ‘berniat jadi presiden seumur hidup’

Kongres Rusia akan berikan 'kekebalan hukum' bagi Putin di tengah tudingan 'berniat jadi presiden seumur hidup'

President Vladimir Putin, 2 Jul 20

Majelis Federal Rusia, Duma, mendukung rancangan undang-undang (RUU) yang akan memberikan imunitas terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin.

Jika peraturan itu disahkan, upaya hukum apapun tidak hendak bisa menjerat Putin dan keluarganya setelah orang nomor satu Rusia itu turun dari tampuk adikara.

RUU itu adalah bagian dari amandemen konstitusi Rusia yang disepakati melalui referendum, Juli lalu. Mayoritas kedudukan di Majelis Federal dan Sidang Federasi Rusia diduduki pendukung Putin.

Kala kepresidenan Putin yang keempat bakal berakhir tahun 2024. Namun amandemen konstitusi memungkinkannya untuk kembali menganjurkan diri dan menjadi presiden setidaknya hingga dua periode lagi.

Saat itu Putin berusia 68 tahun. Belum jelas kepada siapa dia akan memberikan tongkat estafet kepemimpinan.

Hak imunitas yang diajukan ini melanjutkan pemikiran tentang masa depan politik Putin. Sejak tahun 2000 dia sudah memimpin Rusia, menjadi patron, dan memiliki pengaruh yang luar umum.

“Mengapa Putin membutuhkan undang-undang yang memberikannya kekebalan sekarang? ” kata lupa satu pengkritik terbesar Putin, Alexei Navalny, di Twitter.

Navalny juga bertanya, “Bisakah diktator mundur atas hasrat bebas mereka sendiri? ”

Putin

RUU itu lolos dari forum pertama di Duma, Selasa (17/11). Sebagian besar bagian parlemen berasal dari partai pro-Putin, Partai Rusia Bersatu. Terdapat 37 anggota parlemen dari Partai Komunis yang menentang rancangan itu.

RUU itu masih harus melalui dua konvensi lanjutan di Duma, sebelum diteruskan ke Dewan Federasi (majelis tinggi) dan diteken Putin.

Dengan hak imunitas, mantan presiden dan keluarganya tidak akan bisa digeledah dan diinterogasi polisi. Aset mereka pun hendak kebal dari penyitaan.

Mereka tidak hendak dituntut atas kejahatan yang dikerjakan seumur hidup mereka, kecuali berasaskan tuduhan pengkhianatan atau kejahatan berat lainnya dalam keadaan luar pelik.

Zaman ini satu-satunya mantan presiden Rusia yang masih hidup adalah federasi Putin, Dmitry Medvedev.

Mantan Presiden Soviet Mikhail Gorbachev tidak akan mendapatkan kekebalan seperti itu, karena dia bukan presiden Rusia.

Anggota parlemen sejak Partai Rusia Bersatu sekaligus satu diantara penggagas RUU itu, Pavel Krasheninnikov, menyebut hak imunitas bertujuan memberikan “jaminan stabilitas negara dan masyarakat” kepada presiden.

Mayoritas pemilih Rusia mengangkat reformasi konstitusi pada Juli berantakan yang menjadikan Vladimir Putin jadi presiden sampai 2036 mendatang.

Reformasi itu akan membuat masa jabatan Putin sebagai presiden kembali ke nihil pada 2024, sehingga dia bakal dapat mencalonkan diri lagi sebagai presiden untuk dua masa bagian hingga 2036 mendatang.

Kubu oposisi mendakwa Putin mencoba menjadi “presiden seumur hidup”, yang kemudian dibantah Putin.

About Author


Kenneth Sanders