Kudeta Myanmar: ‘Kami tak sedia kembali ke masa gelap di bawah diktator, ‘ kata anak-anak muda dalam jantung aksi protes

kudeta-myanmar-kami-tak-mau-kembali-ke-masa-gelap-di-bawah-diktator-kata-anak-anak-muda-di-jantung-aksi-protes-18

Bonus harian di Keluaran HK 2020 – 2021.

sejam yang lalu

protes di Myanmar.

Anak-anak muda di Myanmar mengatakan mereka “tak mau balik ke masa gelap pada bawah diktator”, dalam aktivitas protes menentang kudeta tentara yang disebut pengamat bisa lebih parah dari kekacauan Indonesia pada Mei 1998.

Semangat menentang kudeta militer mereka tunjukkan dengan tetap turun ke jalanan pada Jumat (05/03), perut hari setelah Myanmar menyaksikan hari paling berdarah, dengan 38 orang meninggal tersentuh peluru tajam aparat.

Sejak korban jiwa mulai berjatuhan pada Minggu (28/02), jumlah total korban wafat sudah lebih dari 50 orang.

Gelombang protes besar-besaran mulai muncul beberapa keadaan setelah militer melancarkan kudeta dan menahan Aung San Suu Kyi serta majikan sipil lain pada 1 Februari.

Pemakaman remaja usia 19 tahun, Angel yang meninggal pada Rabu (03/02).

Anak-anak muda ini menyuarakan pesan yang serupa, mereka akan berjuang biar bisa hidup di alam demokrasi.

Ma Thandar termasuk di antara ribuan anak muda di Yangon yang turun ke ustaz. Nama-nama dalam laporan tersebut bukan nama sebenarnya buat menjaga keamanan.

“Alasan kami bergabung adalah karena kami termasuk orang yang menderita di bawah diktator semenjak saya lahir. Kami sudah memiliki demokrasi dan beta tidak bisa membayangkan kenangan berulang. Saya tak bisa membayangkan kembali ke zaman gelap. Saya tak sedia generasi berikutnya hidup seolah-olah kami, ” kata Ma Thandar kepada BBC News Indonesia.

Pemerintahan biasa di Myanmar baru dimulai pada 2011, mengakhiri dekat 50 tahun pemerintahan militer.

Dalam pemilu pertama Myanmar pada 2015, Asosiasi Nasional untuk Demokrasi (NLD), partai pimpinan Aung San Suu Kyi, menang luhur dan demikian pula halnya pada November 2020 berserakan, kemenangan yang tak diterima oleh kubu militer.

Junta militer Myanmar tidak mengindahkan seruan Perhimpunan Negara Asia Tenggara, ASEAN, dan negara-negara lain untuk menahan diri setelah puluhan korban lepas akibat peluru tajam.

Kusukuan sangat kuat, kecurigaan antaragama tinggi

Pemakaman demonstran di Myanmar.

Penyelidik masalah hubungan internasional Dinna Prapto Raharja mengatakan jalan di Myanmar dapat bertambah parah dibandingkan kerusuhan di Indonesia pada Mei 1998.

“Dalam perkembangan terakhir, sudah ada isu bahwa militer sebenarnya sudah tidak stabil, sudah terbentuk faksi-faksi, makanya faksi yg kuat memutuskan untuk lebih keras memakai senjata, ” kata Dinna, praktisi dan pengajar Hubungan Internasional dari Synergy Policies, kepada wartawan BBC News Indonesia, Endang Nurdin.

“Tetapi karena NLD belum lulus menguasai satupun faksi tentara tersebut, risikonya adalah pertumpahan darah yang saya khawatirkan lebih buruk daripada Indonesia tahun 1998. Mungkin malah lebih buruk daripada Nusantara 1965, ” imbuh Dinna yang pernah menjadi wakil Indonesia untuk ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights dari 2016-2018.

Demo reformasi mahasiswa 1998 berkembang menjadi kerusuhan besar di sebesar kota besar termasuk Jakarta, Medan dan Solo. Saat itu menurut kepolisian, jumlah korban yang meninggal di Jakarta saja mencapai 200 orang.

Namun, Dinna mengatakan kondisi di Myanmar jauh lebih buruk dipadankan Indonesia dulu.

“Di Myanmar belum terbangun konsensus nasional tentang identitas negara, masih sangat kuat kesukuannya dan partai-partainya pun berbasis suku, kecurigaan antar agama sedang sangat tinggi, dan tersedia negara-negara asing yang investasinya diuntungkan oleh kubu tentara, katanya lagi.

Negara totaliter, ekonomi buruk

protes di Myanmar.

Dalam satu video yang dikirimkan ke BBC News Indonesia oleh seorang demonstran di Myanmar, terlihat anak-anak muda menggunakan tripleks tipis sebagai perisai & topi plastik yang lazim digunakan pekerja bangunan di dalam menghadapi aparat.

Aparat menggunakan peluru karet, gas air mata, dan peluru pandai dalam membubarkan massa.

U Aung Tun, yang mengirimkan video tersebut, sempat dikejar aparat namun berhasil kembali ke rumahnya dengan selamat.

“Kami tak mau berharta di bawah kediktatoran. Beberapa besar generasi kami dan yang berada di akan kami, tahu persis bagaimana buruknya. Inilah peluang terakhir kami. Bila kami beristirahat sekarang, hidup akan berantakan balau, ” kata U Aung Tun yang tinggal di Yangon.

Cecep Yadi, WNI yang tinggal di pusat kota Yangon, menyaksikan demonstrasi ini setiap keadaan dalam beberapa pekan belakang.

“Saya berkomunikasi dengan teman-teman saya yang warga Myanmar dan ikut berdemonstrasi, segenap memberi jawaban yang hampir sama, mereka ingin demokrasi, mereka tidak mau sedang hidup bernegara di bawah diktator militer, ” rencana Cevep.

“Melihat antusiasme & semangat para demonstran di Myanmar, membuat saya merasakan salut dengan orang Myanmar, terutama generasi mudanya. Mereka menghadapi kudeta yang padahal terjadi dengan tetap mengutamakan persatuan dan kemanusiaan. Itu melakukan demonstrasi, orasi pada jalan secara besar-besaran, akan tetapi berusaha tertib dan tenteram, ” imbuhnya.

Tekanan yang dirasakan anak-anak muda tersebut sempat diamati oleh Eni Mulia, Direktur Perhimpunan perluasan media Nusantara, yang berkunjung ke Myanmar sekitar perut tahun lalu.

“Teman-teman jurnalis muda yang saya temui mengatakan mereka sangat ingin bisa bekerja dengan tenang dan bebas. Pemerintah & aparat sudah mengontrol jalan dengan kekuasaan mereka sejak lama sebelum kudeta. Independensi pers benar-benar di bercak yang terendah. Itu saat saya berkunjung pada 2019.

“Apalagi sekarang, sejak kudeta terakhir ini, ” cakap Eni.

protes di Myanmar.

Sementara pengamat hubungan global, Dinna Prapto Raharja, mengatakan kondisi di bawah lagu dengan perekonomian buruk mewujudkan anak-anak muda semakin kausa untuk melakukan protes.

“Saya tidak terkejut dengan perkembangan bahwa banyak anak muda yang terlibat dalam aliran pembangkangan sipil di Myanmar. Sebenarnya protes mahasiswa pernah berkali-kali muncul sebagai wujud kekecewaan mereka karena negara yang totaliter tetapi ekonominya buruk, pekerjaan tidak tersedia, lulusan sulit mendapatkan order.

“Kita masih ingat peristiwa tersebut sebagai gerakan 8888 di tahun 1988 yang ditumpas sangat keji sekaligus diakhiri dengan kudeta berbakat, ” kata Dinna.

protes di Myanmar.

Kurang lantaran 72 jam setelah tentara melakukan kudeta pada tanggal 1 Februari lalu, karakter Myanmar menumpahkan kemarahan serta frustasi terhadap militer melalui media sosial paling beken, Facebook.

Pembangkangan sipil tiba muncul di dunia siber dan menyatukan semua kalangan, mulai dari dokter, pembela, guru, aparat sipil negeri dan bahkan polisi.

Gerak-gerik protes kemudian segera berpindah dari media sosial ke jalanan.

Lebih dibanding dua minggu setelah kudeta, demonstrasi anti-kudeta terus tumbuh, sampai hari berdarah perdana pada Minggu, 28 Februari lalu.

Militer tidak cuma menggunakan peluru karet, meriam air dan gas minuman mata untuk membubarkan massa, namun juga peluru tajam. Rabu (03/03) lalu, Myanmar menyaksikan hari paling berdarah dengan korban meninggal 38 orang dan secara total korban meninggal lebih daripada 50 orang.

Mereka dengan berada di jantung penolakan ini adalah Generasi Z, mereka yang lahir pada akhir 1990-an dan 2012. Generasi yang menolak kembali ke era militer sesudah sempat merasakan singkat demokrasi.

Myanmar kembali ke tadbir sipil pada 2011, sesudah hampir 50 tahun beruang di bawah militer.

Pemilihan umum pertama pada 2015 dimenangkan oleh Kelompok Liga Nasional untuk Demokrasi, NLD pimpinan Aung San Suu Kyi. NLD balik menang besar pada pemilu November lalu, namun ditentang oleh militer.

protes di Myanmar.

Siapa Generasi Z Myanmar?

Sejarawan Myanmar, Thant Myint-U, menulis baru-baru ini dalam Financial Times bahwa cantik militer dan Aung San Suu Kyi serta golongan NLD patut disalahkan.

Ia mengatakan generasi muda mau dapat mengubah arah negeri.

protes di Myanmar.

Generasi Z Myanmar mencakup demografi dengan cukup luas, termasuk para-para dokter, perawat, seniman, banjir, para guru dan para-para aktivis lain.

Mereka memiliki aspirasi berbeda. Para demonstran juga mendapatkan dukungan lantaran selebritas termasuk para pemain, musisi dan blogger.

Sementara warga Burma dengan tinggal di luar negeri juga memainkan peranan istimewa dalam mendukung protes melalaikan media sosial.

Kenangan membatalkan demonstrasi 1988

protes di Myanmar.

Keberanian yang ditunjukkan para demonstran ini muncul walaupun ada kenangan buruk pada kekerasan selama kudeta militer pada 1988.

Para pengunjuk rasa menyadari bahwa tentara dapat melakukan penahanan semena-mena dan militer bahkan dilaporkan merencanakan untuk menerapkan “hukum keamanan siber”, sehingga menyusahkan demonstran mengatur protes melalaikan internet.

Sejak timbulnya korban pada Minggu (28/02), tentara menggunakan kendaraan lapis baja di Yangon dan semenjak itu jumlah demonstran dalam jalan-jalan agak berkurang.

Para-para pakar mengatakan, gerakan yang terjadi di Myanmar saat ini ini serupa dengan penentangan pada 1988.

Namun kemurkaan saja tidak cukup.

Pengamat politik Min Zin, perdana berusia 14 tahun zaman bergabung dalam protes tarikh 1988. Ia saat tersebut tinggal di pengasingan serta menjadi pengamat.

Baru-baru itu, Zin mengatakan kepada New York Times bahwa “tekanan publik saja tidak hendak membuka jalan bagi pertukaran politik”.

“Tanpa strategi dengan dipikirkan mendalam untuk menyentuh tujuan konkret, cepat atau lambat, kami akan tetap berakhir dengan menghadapi represi, di bawah bentuk pemerintahan militer, ” katanya.

About Author


Kenneth Sanders