Kudeta Myanmar membuat layanan kesehatan tubuh nyaris kolaps: ‘Saya tidak akan kembali bekerja’

kudeta-myanmar-membuat-layanan-kesehatan-nyaris-kolaps-saya-tidak-akan-kembali-bekerja-8

Info seputar SGP Hari Ini 2020 – 2021.

  • Nick Marsh
  • BBC News

9 jam dengan lalu

myanmar, militer

Sumber gambar, Getty Images

Para tenaga kesehatan Myanmar kini berada pada status dilematis, antara kewajiban merawat pasien dan bekerja buat pemerintahan junta militer dengan melakukan aksi brutal terhadap rakyatnya sendiri.

Moe* berusia 53 tahun dan kini mengidap kanker payudara stadium tiga.

Dia menjalani perawatan terapi iluminasi setiap tiga pekan sekadar di Rumah Sakit Ijmal Mandalay milik pemerintah dalam Myanmar utara.

Namun, ketika militer melengserkan tadbir sipil Myanmar yang terpilih melalui pemilu demokratis pada 1 Februari, rumah melempem tersebut mendadak tutup.

Para dokter, perawat, dan tenaga kesehatan tubuh lain melangkah ke sungguh dari fasilitas itu sebagai aksi protes. Sampai masa ini mereka belum kembali ke rumah sakit itu.

Akibatnya, perawatan Moe terlunta-lunta. Dia tidak mampu menutup biaya sekitar US$700 (Rp10, 1 juta) untuk menuntaskan terapi penyinaran di sendi sakit swasta.

Tanpa pembelaan itu, dia meyakini umurnya tersisa satu tahun sedang.

Walau demikian, Moe tidak menyalahkan para dokter. “Ini salah militer, ” katanya kepada BBC.

“Kalaupun beta meninggal akibat kanker, beta menerimanya. Rakyat Myanmar mempunyai mendapatkan demokrasi. ”

‘Nyaris kolaps’

Sistem layanan kesehatan adalah salah satu daerah paling terdampak parah pascakudeta pada 1 Februari. Zaman itu militer mengambil alih kekuasaan yang kemudian ditanggapi sebagian rakyat dengan mewujudkan rangkaian demonstrasi.

Para peserta aksi-aksi tersebut beragam, termasuk ribuan dokter. Mereka & sejumlah pegawai negeri sipil turut ambil bagian di gerakan pembangkangan sipil, yakni mogok bekerja di kolong junta militer.

Kebanyakan dari 54 juta warga Myanmar bergantung pada sistem layanan kesehatan umum Myanmar yang mencakup sekitar 80% dari semua rumah sakit dan klinik di negeri itu melalui sistem subsidi.

Sehingga ketika ribuan dokter ambil bagian pada mogok nasional di tengah pandemi global, sistem itu tiba-tiba lenyap.

“Situasinya suram, ” kata Dr Mitchell Sangma, yang berada dalam lapangan untuk organisasi Dokter Lintas Perbatasan (MSF) dalam Kota Yangon.

“Sistem kesehatan umum nyaris kolaps, ” tambahnya.

Akan tetapi, para-para dokter merasa hanya memiliki sedikit pilihan.

myanmar, militer

Sumber tulisan, Getty Images

“Selama junta militer memegang kekuasaan, hamba tidak akan kembali berlaku, ” cetus Kyi Kyi, seorang dokter di Mandalay yang telah mogok kegiatan selama hampir tiga bulan.

“Saya tidak ingin menyungguhkan kewenangan mereka dalam wujud apapun, ” lanjutnya.

Semasa hampir tiga pekan perdana setelah kudeta, Kyi Kyi menawarkan pemeriksaan gratis pada rumah sakit swasta.

Namun, dia segera menyadari kalau tindakannya terlalu berbahaya. “Kami mulai menyaksikan tentara ditempatkan di sekitar rumah melempem, menunggu kedatangan kami. ”

Tenaga kesehatan diincar

Sebesar laporan menyebutkan militer membidik para tenaga kesehatan dengan mogok dengan menggerebek fasilitas medis gratis. Mereka menangkap, menahan, dan dalam kira-kira kasus, memukuli para tenaga kesehatan.

“Kami harus sangat hati-hati, ” ujar Kyi Kyi.

“Setelah kudeta, kami semua dipaksa meninggalkan akomodasi milik pemerintah depan rumah sakit. Jadi saat ini saya tinggal bersama kira-kira kawan di tempat asing di kota. Kami sangat takut, ” imbuhnya.

Beberapa layanan kesehatan umum dengan masih buka telah dijaga oleh tentara.

Militer mencari jalan membujuk para dokter untuk kembali bertugas. Baru-baru itu militer bahkan meminta penguasa senior rumah sakit-rumah sakit besar untuk turun tangan.

Namun, sejauh itu upaya tersebut kurang jadi.

Dr Mitchell Sangma mengutarakan ada upaya menggelar servis mendasar di dalam barak yang kekurangan staf dan di lahan parkir rumah sakit.

Namun, kira-kira pengamat memandang bahwa penuh warga terlalu takut mengakses layanan dasar ini karena risau dengan keberadaan prajurit atau takut ada kelakuan balasan dari sesama masyarakat karena mereka berinteraksi secara militer.

Situasi ini membuahkan beberapa rumah sakit swasta—yang banyak terdapat di kota-kota besar—benar-benar kewalahan. Awalnya sejumlah RS itu mencoba menanggung biaya untuk para anak obat, tapi langkah ini telah berhenti.

“Hal ini menghasilkan sebagian besar masyarakat tak punya akses ke layanan vital yang kadang menyelamatkan nyawa, ” kata Joy Singhal, ketua delegasi Myanmar untuk Federasi Palang Abang Internasional dan Bulan Sabit Merah.

‘Sistem dengan rusak’

Kudeta yang berlaku di tengah pandemi malah memperparah keadaan.

Dr Singhal mengatakan sistem layanan kesehatan Myanmar memulai agenda vaksinasi pada Januari berserakan. Namun, orang-orang yang terlibat dalam rencana itu kini “tidak lagi di sini”.

“Kami menghadapi krisis dengan bakal terjadi di pusat Covid, ” kata Dr Singhal.

“Perkumpulan massa, tiada testing, dan kurangnya akses ke perawatan, semuanya menerbitkan risiko besar bagi kesehatan tubuh masyarakat, ” tambahnya.

myanmar, militer

Sumber gambar, Getty Images

Bukti statistik resmi Kementerian Kesehatan dan Olahraga yang kini dikendalikan junta militer menjelma tidak dapat diandalkan. Tetapi, sekilas, laporan rata-rata transmisi menunjukkan sistem pengujian sudah rusak.

Pada Januari, sebulan sebelum kudeta terjadi, Myanmar mencatat 15. 515 kasus Covid-19.

Pada bulan Maret, atau sebulan setelah kudeta, Myanmar hanya mencatat 538 kasus—penurunan 97%.

Patuh para pakar, tanpa peninjauan secara epidemiologi, kemungkinan Covid-19 di Myanmar telah menyebar luas dan punya konsekuensi mematikan.

‘Mengerikan’

Kudeta pula berdampak pada penyebaran penyakit lainnya. Berdasarkan keterangan sejumlah dokter, jumlah pengidap aib mematikan, seperti HIV dan tuberkolosis, telah menurun dengan perlahan selama 20 tahun terakhir.

Akan tetapi, kondisi ini bisa berubah 180 nilai.

HIV, misalnya, merupakan kritis yang berkembang di Myanmar pada 1990-an. Tapi jumlah penularan dan kematian terpaut Aids merosot, sebagian sebab program pemerintah yang disokong bantuan internasional.

Program tersebut malah dibekukan pascakudeta, kata Pavlo Kolovos, mantan besar MSF di Myanmar.

“Ini mengerikan. Benar-benar tragis tahu kemajuan yang dibuat Myanmar di bidang kesehatan umum menghilang secara cepat sesuai ini, ” kata Kolovos.

Ditambahkannya, pendonor besar global enggan berurusan dengan Kementerian Kesehatan dan Olahraga sehingga mereka menarik bantuan persediaan dari program-program kunci yang menyediakan jaring pengaman bagi jutaan pasien.

militer, myanmar

Sumber tulisan, Getty Images

Pertanyaan untuk mereka di dalam maupun di luar Myanmar adalah berapa lama negara tersebut bisa terus-terusan dalam keadaan seperti ini.

“Kami berjalan ke pinggir jurang dan kami tidak tahu bagaimana mengatasinya, ” kata Dr Singhal.

“Layanan kesehatan mendasar adalah tulang punggung masyarakat di manapun. Dan saat ini layanan itu terjelabak. ”

Kyi Kyi belum digaji sejak Januari namun dia mengaku punya pas tabungan dan sokongan dari orang tua untuk bertahan hidup sementara.

Namun dia tahu bahwa sesungguhnya pasien dengan membayar harga dari bentuk ini.

“Semakin banyak kami memikirkan pasien-pasien, semakin kami menderita. Namun, walaupun saya menderita, kami tidak hendak tinggal diam, ” tegasnya.

“Kami yakin negara ana adalah hal paling penting saat ini. Jika awak tidak peduli, kami cakap kami akan menderita untuk 20 tahun atau 30 tahun mendatang. ”

* Nama-nama telah diubah

About Author


Kenneth Sanders