Malaysia pulangkan lebih dari 1. 000 migran ke Myanmar, kelompok PEDOMAN sebut ‘tidak manusiawi dan menyedihkan’

malaysia-pulangkan-lebih-dari-1-000-migran-ke-myanmar-kelompok-ham-sebut-tidak-manusiawi-dan-menyedihkan-8

Promo menarik pada undian Data SGP 2020 – 2021.

enam jam yang lalu

Migran Myanmar yang dideportasi dengan kapal AL.

Malaysia memulangkan lebih dari 1. 100 migran ke Myanmar beberapa minggu setelah kudeta, walaupun pengadilan memerintahkan untuk menghentikan repatriasi.

Sebanyak 1. 086 warga Myanmar itu dipulangkan dengan menggunakan kapal militer, dengan dikirim oleh militer Myanmar yang melakukan kudeta pada 1 Februari lalu.

Kudeta militer ini menimbulkan penolakan berminggu-minggu oleh aktivis pro-demokrasi.

Pada mulanya Malaysia mengatakan akan mendeportasi satu. 200 orang, dan tidak terang mengapa jumlah yang dipulangkan bertambah sedikit dari jumlah awal.

Malaysia menyatakan berjanji untuk tak akan mendeportasi Muslim Rohingya ataupun mereka yang dikategorikan sebagai pelarian oleh badan pengungsi PBB, UNHCR.

Tetapi UNHCR mengatakan paling tidak ada enam orang pengungsi dalam rombongan yang dipulangkan itu.

Kelompok yang mengurus pengungsi juga mengatakan para pencari suaka dari kelompok minoritas Chin, Kachin dan non-Rohingya — dengan lari dari persekusi — tercatat mereka yang dideportasi.

Direktur Jendral Imigrasi Malaysia, Khairul Dzaimee Daud, mengutarakan warga Myanmar yang dipulangkan tak termasuk pengungsi Rohingya atau pencari suaka.

“Semua yang dipulangkan sepakat buat dipulangkan secara sukarela tanpa dipaksa oleh pihak manapun, ” logat Khairul Dzaimee Daud dalam mulia pernyataan.

Amerika Serikat dan PBB serta kelompok hak asasi manusia mempertimbangkan rencana deportasi yang dijalankan sesudah pengadilan di Kuala Lumpur memerintahkan penghentian sementara sambil menunggu metode hukum.

Para aktivis sebelumnya sudah siap menyatakan bahwa Malaysia akan menyalahi kewajiban internasional karena mendeportasi warga yang rentan, terlebih setelah militer Myanmar mengambil alih kekuasaan.

Namun kapal-kapal yang mengangkut warga Myanmar tersebut telah diberangkatkan dan pemerintah Malaysia tidak memberikan penjelasan mengapa instruksi pengadilan diabaikan.

Tak manusiawi dan menyedihkan

Kapal AL Myanmar yang dikirimkan junta untuk mengembalikan para migran.

Amnesty Internasional, salah satu gerombolan HAM yang mengajukan tantangan halal ini, mengatakan langkah Malaysia langgeng melakukan repatriasi “tidak manusiawi & menyedihkan. ”

“Keputusan yang menyangkut tumbuh orang ini mempengaruhi lebih sebab 1. 000 orang dan keluaga mereka dan menjadi noda bagi rekor hak asasi Malaysia, ” kata Katrina Jorene Maliamauv, penasihat eksekutif Amnesty Internastional di Malaysia.

Tengah Phil Roberson, wakil direktur Asia Human Rights Watch, mengatakan Malaysia “mengirimkan mereka ke tangan junta militer yang dikenal mempersekusi karakter yang lari dari negara karena alasan politik”.

Para pejabat Malaysia mendahulukan mereka yang dipulangkan melanggar sistem termasuk pelanggaran visa dan deprotasi itu adalah bagian dari kalender rutin repatriasi migran.

Sekitar 37. 000 warga asing direpatriasi tahun morat-marit.

Jutaan migran asing bekerja di Malaysia dan sebagian besar bekerja dalam sektor konstruksi dan pembangunan.

Kelompok HAM sangat jarang melakukan langkah hukum menentang deportasi.

Truk mengangkut para migran di Malaysia.

Kelompok-kelompok itu melakukan tindakan hukum sebab memburuknya kondisi hak asasi bani adam di Myanmar sejak militer melampiaskan kudeta.

Mereka menyatakan kelompok sensitif termasuk para migran.

Para aktivis membuktikan kekhawatiran sejak pemerintah melarang para petugas UNHCR masuk ke bermacam-macam kamp tahanan imigrasi di Malaysia pada 2019.

Dengan larangan itu, PBB tidak dapat menilai apakah para migran itu adalah pencari suaka karena penganiyaan atau migran dengan mencari kerja.

Kelompok HAM menyebut repatriasi para migran "tidak manusiawi".

Setelah militer melancarkan kudeta di Myanmar, pemerintah Malaysia pada awalnya “menyatakan keprihatinan” atas pengambil alihan kewibawaan, namun tak lama kemudian tampak berita bahwa Kuala Lumpur menerima tawaran junta militer mengirim kapal perang untuk merepatriasi tahanan.

About Author


Kenneth Sanders