Negeri klaim abu batu bara bukan limbah B3 telah berdasarkan ‘kajian ilmiah’, masyarakat terdampak abu PLTU: ‘debu bukan seperti cabe begitu dimakan langsung pedas’

pemerintah-klaim-abu-batu-bara-bukan-limbah-b3-sudah-berdasarkan-kajian-ilmiah-warga-terdampak-abu-pltu-debu-bukan-seperti-cabe-begitu-dimakan-langsung-pedas-10

Info seputar SGP Hari Ini 2020 – 2021.

  • Raja Eben Lumbanrau
  • Wartawan BBC News Indonesia

12 Maret 2021, 07: 24 WIB

Diperbarui 48 menit yang lalu

Kapal tongkang membawa batu bara di Sungai Mahakam, Samarinda, Kaltim.

Kementerian Lingkungan Tumbuh dan Kehutanan (KLHK) meminta hasil pembakaran batu tidak keruan (FABA) masuk sebagai kategori bukan limbah B3 telah berdasarkan kajian ilmiah.

“Kami sebagai sebagai instansi teknis pasti punya keterangan, saintifiknya. Jadi, semua bersandarkan scientific based knowlege, ” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 (PLSB3), Rosa Vivien Ratnawati, dalam keterangan kepada jalan, Jumat (12/03).

Rosa mengutarakan, pembakaran batu bara di PLTU sudah menggunakan pulverize coal . Artinya, kata dia, pembakaran batu bara menggunakan temperatur tinggi sehingga karbon yang tak terbakar dalam FABA “menjadi minimum dan bertambah stabil”.

“Hal ini yang menyebabkan, FABA itu sanggup dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, substitusi semen, jalan, tambang bawah tanah, serta restorasi tambang, ” kata Rosa dalam keterangan kepada media, Jumat (12/03).

Rosa menambahkan FABA yang masuk kategori non limbah B3 hanya dari PLTU saja. Sementara swasta yang sudah menggunakan fasilitas pulverize coal, FABA dari kilang mereka harus tetap “harus memakai standard, bagaimana pengangkatan, itu harus tetap itu lakukan dengan baik. ”

Sementara itu, bagi industri swasta yang masih memakai metode pembakaran batu tidak keruan tungku, hasil pembakaran kurang ajar bara mereka masih dikategorikan limbah B3.

“Pembakaran dilakukan pada temperatur rendah, & sehingga unburned carbon di FABA-nya masih tinggi. Menunjukkan pembakaran masih kurang lengkap dan relatif tidak stabil saat disimpan, sehingga masih dikategorikan limbah B3, ” lanjut Rosa.

Sementara itu, Edy, warga Cilegon, Banten, yang rumahnya dekat secara PLTU Suralaya mengaku, sesudah ada pabrik warga menjalani persoalan kesehatan.

“Debu fly ash itu tidak seperti makan cabe, sejenis dimakan langsung pedas. Langgeng debu fly ash kalau terhisap oleh manusia itu prosesnya satu tahun sampai dua tahun, ” logat Edy dalam sebuah acara Zoom, Jumat (12/03).

Di sana, pada 2019 terjadi hujan debu hasil sebab pembakaran batu bara PLTU Suralaya yang sempat mengganggu aktivitas warga. “Setelah abu debu, di jalan itu sudah ditutup sama duli. Orang-orang yang berkendara tahu berhenti. Bahkan orang-orang kendaraan roda dua, nggak bisa, ” lanjut Edy.

Edy juga mengatakan kehidupan anak dan masyarakat di kian lebih baik sebelum ada PLTU. “Makanan dulu sebelum ada industri terjamin benar, berani. Sekarang petani kesulitan. Jadi kalau berbicara, menguntungkan sumber kehidupan yang berdampak. itu sesuatu yang bohong, ” katanya.

lingkungan, protes

Sebelumnya, Jaringan Pembelaan Tambang (Jatam) melontarkan pertimbangan atas keputusan pemerintah terkait FABA itu.

“Jadi lantaran Jatam kami usul Pak Presiden dan juga yang di Istana, coba berkantor di dekat PLTU kotor bara, coba hirup debu batu bara apakah tersebut limbah B3 atau bukan. Lalu, lihat juga bangsa sekitarnya mengalami sesak nafas, dan paru-parunya ada yang bolong karena abu itu. ”

Demikian yang disampaikan Jatam saat merespons keputusan Presiden Joko Widodo yang mengeluarkan limbah abu lelap dan abu dasar buatan pembakaran batu bara, yang disebut FABA ( fly ash and bottom ash ) daripada kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), sesuai yang terlampir dalam Sistem Pemerintah Nomor 22 Tarikh 2021 tentang Penyelenggaraan Pelestarian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan disahkan awal Februari 2021.

Ini tercatat Peraturan Turunan dari Peraturan Omnibus Law Cipta Kerja. Sebelumnya, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 101 Tahun 2014 masih menggolongkan FABA sebagai limbah B3.

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menjelaskan, ketika FABA meresap dalam kategori limbah B3 maka akan sulit dimanfaatkan di tengah biaya tata yang besar.

Penghapusan abu batu bara sebab limbah B3 merupakan proposal dari 16 asosiasi yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

Tarikh 2021, pemerintah memperkirakan ada 17 juta ton FABA yang dihasilkan dan di dalam 2050 diperkirakan mencapai 49 juta ton.

Namun, Jatam menyatakan FABA memiliki pengaruh buruk bagi kesehatan bani adam dan lingkungan karena mengandung arsenik, merkuri, kromium, imbang dan logam berat yang lain.

Ahli kesehatan paru serupa menyebut abu batu panas dapat menyebabkan penyakit dikenal coal workers pneumoconiosis yang beresiko menimbulkan kematian.

Ilusi pemanfaatan limbah

Ilustrasi PLTU tenaga batu bara.

Dalam periode penjelasan Pasal 459 Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tarikh 2021 tentang Penyelenggaraan Pelestarian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, abu hasil pembakaran akik bara dari Pembangkit Elektrik Tenaga Uap (PLTU) dan kegiatan lainnya tak tercatat sebagai limbah B3.

Padahal menurut Koordinator Jatam, Abang Johansyah, FABA memiliki beragam partikel beracun, mulai daripada arsenik, merkuri, kromium dan logam berat lainnya.

“Dampaknya jika terbang di udara akan menganggu kesehatan pernafasan manusia yang menghirup, awut-awutan kalau mengalir ke minuman akan merusak biota bahar, sungai dan pesisir, & air juga menjadi masam, ” kata Johansyah kepada BBC News Indonesia, Kamis (11/03).

Johansyah menjelaskan, era FABA masuk dalam limbah B3 saja perusahaan sudah abai, apalagi jika dikeluarkan.

Ia mencontohkan, 14 orang meninggal dunia akibat FABA yang ditimbulkan PLTU batu bara di Pemukul. “Mayoritas meninggal karena kanker nasofaring, paru-paru hitam, serta kanker paru-paru. Lalu pada Kalimantan Timur, abunya meresap ke sumber air awak saat hujan, dan terbang masuk ke rumah saat musim kering, ” kata pendahuluan Johansyah.

“Perusahaan PTLU akan ugal-ugalan mengelola limbah, terjadi polusi di mana-mana, masyarakat sekitar sakit, serta perusahaan lepas tangan sebab tidak termasuk B3 serta bukan tanggung jawab perusahaan. Lalu terjadi konflik. ” tambahnya.

Ia pula menegaskan, alasan nilai hati-hati FABA menjadi bahan konstrusi dan bangunan seperti batako, dan semen hanyalah ilusi.

“Itu diciptakan buat menyembunyikan kepentingan sesungguhnya, yaitu mengurangi biaya perusahaan dengan besar dalam mengelola limbah dan melepas tanggung pikiran sosial dan kesehatan ke masyarakat,, ” katanya.

Alasannya adalah pertama, perkataan Johansyah, penggunaan FABA benar berbahaya karena memiliki perut racun jika digunakan untuk bahan bangunan yang hendak menguapkan saat musim biasa.

“Kedua, jumlah FABA yang digunakan itu kecil presentasenya, karena harus dicampur pasir, air, dan unsur lain. Selama ini sudah dijalankan juga tapi tidak berhasil. Jadi ini hanyalah alasan dan ilusi pura-pura hijau dan peduli dunia, ” kata Johansyah.

Menurut Johansyah, jiak FABA memiliki nilai ekonomis harusnya dikeluarkan regulasi yang menguatkan pemanfaatan, bukan malah mengeluarkannya dari kategori limbah B3.

“Jadi sangat politis mementingkan pengusaha, investor dan oligarki batu bara, berarakan tidak ilmiah alasannya beserta menimbulkan beban lingkungan, kesehatan dan sosial, ” katanya.

“Jadi dari Jatam kami usul Pak Presiden dan juga yang dalam Istana, coba berkantor dalam dekat PLTU batu bara, coba hirup abu tekak bara apakah FABA tersebut bukan limbah B3. Cerai-berai, lihat juga bagaimana kelompok sekitar sesak nafas, dan paru-parunya ada yang bolong karena abu ini, ” tutup Johansyah.

Senada dengan itu, peneliti dibanding Wahana Lingkungan Hidup Nusantara (Walhi) Dwi Sawung mengutarakan, keputusan ini merupakan “jalan pintas” yang diambil buat melepaskan tanggung jawab pengerjaan limbah FABA demi efisiensi biaya.

“Di aturan limbah B3 jelas kok, dibanding pengelolan hingga pemanfaatan. FABA itu banyak unsurnya dan tidak bisa disamaratakan, ada tingkatannya. Jadi harus dites. FABA bisa dimanfaatkan tanpa perlu dikeluarkan dari B3 cuma perusahaan mau tangkap jalan singkat dan murah, ” katanya.

Penyakit pernafasan pneumokoniosis

Seorang pekerja penambangan batu bara di luar Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Guru besar pulmonologi dan ilmu kedokteran respirasi dari Universitas Indonesia, Faisal Yunus, menjelaskan abu batu bara dapat menciptakan aib pernafasan yang disebut pneumokoniosis pekerja tambang (coal worker pneumoconiosis), karena terjadi endapan elemen dari abu kurang ajar bara yang bersifat anorganik (tidak hidup) dalam peparu.

“Abu batu bara mengakar ke tubuh bisa langsung bereaksi dan bisa serupa butuh waktu lama 10-15 tahun karena bersifat ‘jinak’, tergantung beberapa syarat, ” katanya.

Abu batu bara berbahaya jika mempunyai konsentrasi yang tinggi, menyimpan silikon bebas, masyarakat kira-kira PLTU memiliki kesehatan dengan rendah, dan memiliki aib tuberkolosisi.

“Abu keras kepala bara akan menjadi sundal karena terjadi komplikasi. Gejalanya, batuk-batuk, dahak warna hitam, sesak nafas, hingga urung pernafasan yang menyebabkan maut, ” katanya.

Apindo sambut baik

Kapal menarik batu bara.

Ketua Umum Apindo, Hariyadi Sukamdani, menyambut molek keputusan pemerintah yang menggunakan FABA dari kategori limbah B3.

“FABA sejak kajian akademik itu tidak B3, malah bisa didaur ulang dan mempunyai jumlah ekonomis, ditimbang ditumpuk siap hamparan yang akan menodai tanah dan timbul masalah baru, ” kata Hariyadi.

Hariyadi menjelaskan, negeri lain mendaur ulang FABA untuk dijadikan bahan bangunan dan konstruksi.

“Jadi saya tidak tahu jika ada aktivis lingkungan yang mempersalahkan itu, ya dengan jalan apa, kita lihat saja kenyatannya, di negara lain malah diolah dan menjadi berlaku karena punya nilai komersil, ” katanya.

Pertengahan tahun lalu, 16 asosiasi di Apindo mengusulkan penghapusan lebu batu bara dari jadwal limbah B3. Industri Indonesia menghasilkan FABA sebanyak 10-15 juta ton per tahun dengan tingkat pemanfaatan hanya 0%-0, 96% untuk pemanfaatan fly ash dan 0, 05%-1, 98% untuk penggunaan bottom ash.

Organisasi peduli energi dan lingkungan, Trend Asia, menyebutkan dalam akun Twitter-nya bahwa penghapusan itu tak terlepas dari desakan bersama-sama Apindo dan Asosiasi Pertambangan Batu bara Indonesia (APBI-ICMA) yang menjadi bagian pada dalamnya sejak pertengahan tarikh 2020.

“Keputusan pemerintah menghapus limbah batu bara dibanding kategori limbah berbahaya dan beracun (B3) adalah keputusan bermasalah dan sebuah kabar sangat buruk bagi kelestarian lingkungan hidup dan kesehatan tubuh masyarakat, ” twit Tren Asia.

Abu dari proses pembakaran batu bara pada PLTU, boiler, dan tungku industri tersebut semasa ini tercantum pada Daftar 4 Lampiran I Susunan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah B3.

Pemerintah mendorong penggunaan FABA

BBC News Nusantara telah mencoba mengkonfirmasi ke Kementerian Lingkungan Hidup serta Kehutanan (KLHK) terkait secara dasar penghapusan FABA sebab kategori limbah B3. Eksekutif Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK, Rosa Vivien Ratnawati, pada Kamis mengatakan akan ada penjelasan mengenai hal tersebut kepada media pada hari Jumat (12/3).

“Sebelum terbitnya PP 22 Tahun 2021, Kemenko Marves telah memerosokkan adanya revisi Permen LHK Nomor 10 tahun 2020 tentang Uji Karakteristik Limbah B3 untuk mengakomodasi penyederhanaan prosedur uji limbah FABA agar bisa dikecualikan daripada status B3. Ini memang sudah dibahas secara uraian dan sudah diakomodir jalan pengecualian FABA sebagai B3 dan dapat memanfaatkan FABA sambil menunggu hasil tes karakteristik toksikologi sub kritis yang memerlukan waktu pas lama” kata Nani secara virtual pada Lokakarya Penggunaan Fly Ash Bottom Ash (FABA) Selasa (02/03).

Dengan regulasi ini, tambah Nani, PLTU yang banyak memanifestasikan FABA sudah bisa begerak cepat dalam menyiapkan skenario dan peta jalan pemanfaatannya.

Dalam acara yang sama, penasihat khusus Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Yohanes Surya mengatakan secara keputusan itu maka mampu menurunkan biaya produksi listrik dan mendapatkan keuntungan lantaran pemanfaatanya.

Cara penanganan limbah abu batu panas hingga saat ini masih terbatas pada penimbunan lahan sehingga jika tidak ditangani dengan baik akan menimbulkan pencemaran.

Aplikasi pemanfaatan FABA yang sudah diterapkan dalam lapangan sebagian besar terkait dengan bidang konstruksi serta infrastruktur.

PLTU Paiton 1-2, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) telah memakai 100 persen fly ash sebagai green pozzolan untuk material pembangunan jalan tol Manado – Bitung, dalam Provinsi Sulawesi Utara.

PLTU Asam Asam memanfaatkan FABA sebagai lapisan jalan dalam pembuatan akses timah.

PLTU Suralaya menggunakan FABA sebagai bahan baku batako dan bahan pokok di industri semen.

About Author


Kenneth Sanders