Negeri yang menolak vaksin Covid-19: Disebut ‘berbahaya’ dan serukan pengobatan pilihan seperti hirup uap untuk melayani virus corona

negara-yang-menolak-vaksin-covid-19-disebut-berbahaya-dan-serukan-pengobatan-alternatif-seperti-hirup-uap-untuk-lawan-virus-corona-8

Promo menarik pada undian Data Sidney 2020 – 2021.

sejam yang lalu

Menkes Dorothy Gwajima

Selama berbulan-bulan, pemerintah Tanzania mengeklaim bahwa “mereka telah bebas sejak Covid-19” dan karenanya tak berencana menjalankan program vaksinasi.

Yang menjadi kekhawatiran adalah, di tengah permintaan ini dan penolakan bahwa tak ada wabah, banyak warga dengan terkena dan meninggal dunia.

Seperti yang terjadi dengan Peter, bukan tanda sebenarnya.

Suatu hari ia pulang kegiatan dan batuk-batuk. Ia juga kematian indera perasa. Kondisi ini berlangsung selama sekitar satu pekan. Dia lantas dibawa ke rumah kecil dan meninggal dunia beberapa tanda kemudian.

Tidak mungkin buat mengetahui seberapa banyak tingkat transmisi Covid-19 di negara itu & hanya sedikit orang yang dengan resmi diizinkan untuk membicarakan virus corona.

Pernyataan para pejabat baru-baru tersebut menunjukkan kenyataan yang berbeda pada lapangan, sehingga sejumlah orang kaya istri Peter, berkabung dengan diam-diam karena kematian anggota keluarga dengan dicurigai tertular virus corona.

Sejumlah anak di Tanzania mengalami hal selaku namun memilih untuk diam karena takut dibalas oleh pemerintah.

Pemerintah Inggris melarang semua orang dari Tanzania, sementara Amerika Serikat memperingatkan warganya ke negara itu karena virus corona.

Sengketa vaksin

Dalam situasi ini, Presiden Tanzania, John Magufuli, mengatakan “jika warga percaya Tuhan, maka vaksin Covid-19 tak diperlukan”.

Ia juga menyarankan warga untuk “memanfaatkan pengobatan pilihan seperti menghirup uap” untuk menangkal virus.

Presiden Maugufuli

Dalam kepala kesempatan, Magufuli dikutip mengatakan kalau vaksin virus corona “mungkin adalah bagian dari persekongkolan asing untuk menyebar penyakit dan menggarong kapital Afrika”.

Ia juga mengatakan, “Kami pada Tanzania selama satu tahun terbuka corona. Bahkan di sini, tak ada satu pun orang menggunakan masker. Tuhan kami lebih berpengaruh dari setan dan setan tetap gagal menggunakan bermacam penyakit. ”

Kepala Magufuli mengecilkan pandemi dan telah mendesak Kementerian Kesehatan untuk tidak terburu-buru membeli vaksin.

“Beberapa dari vaksin-vaksin ini tidak baik bagi kita. Saya sungguh-sungguh meminta Kementerian Kesehatan tubuh untuk ekstra hati-hati dengan vaksin yang diimpor ke negara kita. ”

“Tak semua vaksin punya niat baik ke negara kita… sangat penting bagi Tanzania untuk berhati-hati dengan vaksin ini, ” sebutan Presiden Magufuli.

Sejak Juni 2020 Magufuli menyatakan bahwa “Tanzania telah sunyi dari Covid-19”.

Bersama sejumlah pejabat pemerintah ia secara terbuka mengolok-olok perlunya masker dalam membantu menekan penyebaran virus.

Ia meragukan perlunya pengetesan virus dan mengejek beberapa negara tetangga yang memberlakukan pembatasan di mengatasi pandemi.

‘Mengapa tidak ada vaksin AIDS dan kanker? ‘

Mandi uap

Belum begitu jelas mengapa Presiden Magufuli skeptis dengan vaksin.

Namun belum lama ini ia mengatakan bahwa “tak semestinya rakyat Tanzania dimanfaatkan sebagai kelinci percobaan”.

“Jika memang orang-orang kulit putih sungguh mampu mengembangkan vaksin, mestinya sekarang mereka sudah bisa membuat vaksin AIDS, kanker, dan TB, ” kata Presiden Magufuli.

Sikap Presiden Magufuli yang anti terhadap vaksin Covid-19 dikecam oleh para pejabat WHO.

Sistem PBB ini mendesak Tanzania untuk menggunakan sains sebagai pijakan buat mengatasi pandemi Covid-19, setelah presiden negara tersebut mengeklaim bahwa vaksin virus corona “berbahaya dan tak diperlukan”.

Direktur WHO untuk Afrika, Matshidiso Moeti, mendesak Tanzania cepat menerapkan protokol kesehatan berbasis ilmu.

Melalaikan Twitter, Moeti mengatakan, “[Saya] mendesak Tanzania menggencarkan aturan kesehatan seperti [memakai] masker untuk memerangi Covid-19. ”

“Sains membuktikan bahwa vaksin efektif serta saya mendorong pemerintah [Tanzania] menyiapkan program vaksinasi, ” kata Moeti. Ia menambahkan WHO akan selalu siap membantu negeri dan rakyat Tanzania.

Seruan Moeti mendapat dukungan direktur jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, yang mengatakan kalau dirinya satu suara dengan Moeti mendorong Tanzania menggencarkan pelaksanakan adat kesehatan dan menyiapkan vaksinasi.

Ia juga mendesak Tanzania untuk berbagi data Covid-19 di negara tersebut. Tanzania tidak lagi mengeluarkan pembaruan data Covid-19 sejak akhir April 2020.

Terakhir kali, data resmi mereka memperlihatkan ada 509 kasus nyata, dengan angka kematian 21 karakter.

Di dalam negeri, banyak yang khawatir dengan sikap yang diambil para pejabat pemerintah.

Seorang dokter kepada BBC mengatakan dirinya tak putus dengan komentar pejabat yang mengucapkan “sayur mayur efektif melawan Covid-19”.

Mural di Tanzania.

“Itu komentar yang keliru, ” katanya. Ia serupa mengatakan masih banyak warga yang abai dengan protokol kesehatan.

Sementara tersebut, para pemerintah gereja, untuk prima kalinya mengeluarkan seruan yang tak senada dengan pandangan pemerintah.

Mereka mendesak warga untuk patuh dengan protokol kesehatan dalam upaya menekan pandemi.

“Covid belum selesai, Covid masih ada di sini. Jangan abai, kita perlu melindungi diri kita tunggal, cuci tangan dengan sabun. Pula, kami meminta warga untuk kembali mengenakan masker, ” kata Uskup Dar es Salaam, Yuda Thadei Ruwaichi.

About Author


Kenneth Sanders