‘Paduan spirit keislaman dan sosialisme’ di Kampung Kasih Sayang, Langkat, Sumatra Utara: ‘Susah dan senang, kami tanggung bersama’

'Paduan spirit keislaman dan sosialisme' di Kampung Kasih Sayang, Langkat, Sumatra Utara: 'Susah dan senang, kami tanggung bersama'

Kampung Sosialis

Sebuah kampung di Langkat, Sumatra Utara dinamai Kampung Majelis Ta’lim Fardhu — lazim disebut Kampung Matfa — yang menjalankan kebersamaan dan kesamarataan yang disebut seorang sosiolog mencoba memadukan antara spirit keislaman dan sebagian nilai-nilai yang bercorak sosialisme.

Hari itu, Rabu (22/07), sejumlah perempuan berkumpul dan terlihat serius melakukan pekerjaan masing-masing.

Sebagian di antara mereka tengah membersihkan sisik ikan. Sementara yang lain tampak fokus mengaduk olahan sayur di wajan besar.

Di sebelahnya, perempuan-perempuan lain bersenda gurau sembari membungkus makanan. Ada juga yang baru saja selesai memasak beras serta air.

Hari itu merupakan jadwal bagi mereka menyiapkan kebutuhan lauk untuk seluruh warga.

Kampung Sosialis

Dapur umum, begitu mereka menyebutnya. Ruang terbuka seluas 10×10 meter yang merupakan pusat pengolahan makan dan minum penduduk kampung. Letaknya persis di tengah persimpangan.

Setiap hari, warga melakukan pekerjaan tersebut secara bergiliran. Satu kelompok terdiri hingga 30 orang. Semua kebutuhan pangan penduduk diolah dan dimasak secara bersama.

Setelah siap, satu per satu perwakilan keluarga datang mengambil jatah makanan dan kemudian membawanya ke rumah masing-masing. Baik ketika sarapan, makan siang dan makan malam.

Dengan kata lain, menu makanan yang disantap penduduk di kampung itu selalu sama.

Inilah satu di antara keunikan Kampung Kasih Sayang alias Kampung Majelis Ta’lim Fardhu Ain atau Matfa. Semua penduduknya menjalani hidup dengan kebersamaan dan kesamarataan.

Kampung Sosialis

Kampung ini bernama asli Kampung Darussalam dan terletak di Dusun III Darat Hulu, Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Wartawan Nanda Fahriza Batubara di Sumatra Utara yang melaporkan untuk BBC Indonesia, hari itu bertemu dengan Kholiqul Ritonga, akrab dipanggil Kholiq, yang dipercaya warga menjadi juru bicara Kampung Matfa.

Sebelum pindah ke Kampung Matfa, Kholiq dan keluarganya bertempat tinggal di Kompleks Perumahan Menteng Indah, Medan, Sumatera Utara.

Kisah Kholiq dan istrinya yang memilih pindah ke kampung Matfa

Kholiq, 43 tahun, lulusan ilmu teknik sipil dari perguruan tinggi swasta di Medan memutuskan pindah ke Kampung Matfa bersama keluarganya pada tahun 2012.

Sebelumnya, Kholiq aktif mengajar seni beladiri Aikido. Dia membuka enam Dojo atau perguruan.

Dari sini dia bertemu Prasuta Citra alias Cici, dokter gigi, yang kemudian bagaikan pendamping hidupnya.

Pada 2004, keduanya menikah dan kini sudah dikaruniai dua orang anak yang duduk di bangku sekolah dasar.

Kecintaan Kholiq pada Aikido membawanya mengenal Kampung Matfa. Katanya, Aikido bukan seni beladiri yang hanya mengedepankan skor pertarungan.

Kampung Sosialis

Terdapat filosofi tersendiri dalam terkandung di dalamnya. Yakni harmonisasi dengan alam, tuturnya.

Seiring mendalami Aikido, di benak Kholiq terbersit pertanyaan, “Bagaimana mengaplikasikan semua di sini. di kehidupan sehari-hari. Kemudian saya bertemu dan mendengar ajaran dri Tuwan Iman (pemimpin Kampung Matfa), yakni tentang bagaimana berkasih sayang, ” kata Kholiq.

Bertemu pemimpin Kampung Kasih Sayang

Kholiq terkesima dengan penjelasan Tuwan Imam mengenai kalimat Bismillahirahmanirahim , kalimat yang mengandung kata pengasih kemudian penyayang.

Menurut Kholiq, penjelasan Tuwan Imam menjadi jawaban atas segala pertanyaannya selama ini.

“Akhirnya saya temukan pada kampung ini bagaimana melakukan itu. Karena kecintaan dengan Aikido, kelak muncul keinginan menjadi seorang Aikido yang baik, ” katanya

“Sesuai kata pendirinya, adalah menyatu akan alam, tidak bersinggungan dengan yang lain. Nah, semua konteks di sini. ternyata ada dalam beragama, very well sambungnya.

Kholiq juga mengaku tidak menjumpai kendala dari pihak keluarga. Orangtua mereka bahkan mendukung, ungkapnya.

“Karena urusan agama, jadi orangtua support . Tak ada masalah, ” katanya.

Kampung Sosialis

Pada 2012, Kholiq memutuskan pindah ke Kampung Matfa beriringan pendatang lainnya. Mereka kemudian bergotong royong membangun permukiman.

Istrinya, Cici berbisnis layanan kesehatan gigi di Dalam rumah Sehat (tempat pengobatan di Kampung Matfa)

Perpindahan dari kawasan kota menuju pelosok kampung tidak memerankan hal sulit bagi Kholiq. Existencia mengaku hanya perlu sekejap adaptasi.

“Mungkin karena saya memang mendapat berkaitan yang saya cari, jadi tak sulit. Cukup adaptasi sekadar saja, ” kata Kholiq.

Pun begitu dengan istri Kholiq, Cici. Dia bukan menolak ketika pertama kali diajak suaminya pindah ke Kampung Matfa.

Padahal, Cici saat itu telah mengregister praktik dokter gigi di Medans.

Menurutnya, semua itu setimpal oleh yang ia dapatkan saat sekarang.

“Alasan saya hijrah dengan suami supaya bisa berbakti sosial dalam beragama, ” kata Cici.

Cerita mantan memebr legislatif: ‘Saya menemukan apa dalam saya cari’

Selain keluarga Kholiq, sejak tahun 2012, penduduk Kampung Matfa terus bertambah. Mereka datang dari segala penjuru, bukan cuma dari Sumatra Utara. Kini, banyak 1. 100 jiwa dari 260 kepala keluarga yang menghuni Kampung Matfa.

Latar belakang mereka beragam. Semenjak dari yang dulunya petani, wizard, anggota kepolisian, pengusaha, dokter maka mantan anggota legislatif.

Salah satunya, seorang lelaki paruh baya yang kami temui saat tengah bersiap menuju masjid.

Namanya Aldi Nasution. Di kampung ini, Aldi tinggal bersama pasangan hidup dan seorang anak. Ia perlu sekitar 500 meter dari kantor Kholiq.

Sebelum menjadi penduduk kampung Matfa, Aldi telah menetap di beragam kota. Asalnya dari Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara. Namun ia sempat menetap di Jakarta semasa beberapa tahun.

Kampung Sosialis

Di kampung asalnya, Aldi termasuk orang yang diperhitungkan. Rato merupakan mantan anggota legislatif mula-mula setelah Kabupaten Mandailing Natal mekar dari Kabupaten Tapanuli Selatan dalam 1999 silam.

Dalam karir politik, Aldi mengaku sempat jadi pucuk pimpinan partai di daerahnya.

Aldi menerangkan tujuannya pindah ke Kampung Matfa, “Saya menemukan apa yang ya cari. Yaitu ajaran Bung Karno. Saya penasaran sekali dengan Pancasila dan agama, kandungan-kandungan di situ, ” katanya.

Dijuluki kampung Kasih Sayang

Hampir setiap pekan, Kholiq yang so juru bicara Kampung Matfa kerap disibukkan dengan kedatangan sejumlah tamu dari berbagai penjuru.

Sejak beberapa thn terakhir, kampungnya memang semakin hampir sering disambangi sejumlah orang.

Kholiq yang berpostur kekar dengan dagu kaku serta rambut panjang yang lebih hampir sering diikat, terlihat ramah. Dia memang menjadi ujung tombak saat de cara a tamu datang ke kampung tersebut.

Kampung Sosialis

Keramahan yang tampak pada Kholiq juga ditunjukkan warga Kampung Matfa, sehingga masyarakat di luar kampung itu menyebutnya sebagai ciri tersendiri.

Barangkali itulah sebabnya kampung ini dijuluki sebagai Kampung Kasih Sayang.

Di balik julukan itu, sistem sosial dalam diterapkan penduduk Kampung Matfa sungguh didasari dua hal, kasih john sayang. Semuanya dilakukan secara bersama-sama dan diputuskan melalui musyawarah.

Warga menetap di bangunan semi permanen dalam sama bahan dan ukurannya

Pada kampung ini, misalnya, warga menetap di bangunan semi permanen yg sama bahan dan ukurannya. Mereka menyebutnya barak, yang masing-masing berukuran 4×10 meter.

Konstruksinya berbahan basis anyaman bambu, kayu dan daun rumbia. Selain dinding tepas, tidak ada lagi pemisah antar oleh rumah.

Ada ratusan barak persegi, tempat tinggal warga yang disusun memanjang dan saling berdampingan 1 dan yang lain, membentuk lorong panjang.

Kampung Sosialis

Setiap lorong barak memiliki koordinator yang akan mendata kebutuhan utk kemudian dilaporkan dan dipenuhi.

Ya, in kampung ini warga tak terlampau memusingkan pemenuhan kebutuhan. Kampung Matfa mengupayakan kemandirian. Seluruh kebutuhan dicukupi dari hasil produksi berbagai bezirk yang dikelola sendiri oleh warga.

In lahan seluas tak lebih dri 20 hektare itu, mereka mengelola lahan pertanian seluas total sete hektare. Selain ada itu, eighteen kolam ikan, peternakan kambing atau ayam, usaha perbengkelan dan lainnya sebagainya.

Masyarakat juga mengelola industri batu bata, industri tahu kedelai maka dalam waktu dekat akan memasarkan air mineral.

Semua sektor ini dikelola warga berdasarkan keahlian masing-masing. Selayak yang dilakukan Mulyanto, lelaki umur 53 tahun, yang senang bertani. Dulu, ia bekerja sebagai karyawan honorer di instansi pemerintah da tinggal di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Sama seperti sebagian lebih besar penduduk lain, Mulyanto dan keluarga juga pindah pada 2012 silam dengan alasan serupa, “Ingin akhirnya menjadi lebih baik. ”

Kampung Sosialis

Sementara para perempuan di kampung ini tergabung serius kelompok usaha mikro yang memproduksi berbagai macam jajanan tradisional.

“Jadi kami ibu-ibu di sini membuat jajanan tradisional dan kemudian dijual ke ocurrir. Hasilnya nanti akan dimasukkan ke Baitul Mal, ” kata seorang perempuan, Siti Syarah.

Baitul Mal, sumber dana warga

Bermacam komoditas yang dioperasikan warga dijual ke pasar di dalam kota maupun pasar terbuka dalam dibangun penduduk di Kampung Matfa. Hasil penjualan langsung disetor ke badan pengelolaan keuangan yang dianggap Baitul Mal.

Dari Baitul Malicia inilah semua sumber biaya keinginan warga berasal. Bukan hanya akan makan dan minum, kebutuhan lainnya mulai dari sikat gigi sampai pesta pernikahan pun dipenuhi di Baitul Mal.

Kampung Matfa pula memiliki layanan kesehatan yang dinamakan Rumah Sehat serta sekolah sendiri.

\ ada pungutan sama sekali. Segala pelayanan tersebut digratiskan bagi warga, dengan sumber dana dari Baitul Mal.

Sekolah di kampung ini bertempat di masjid dan dikelola akibat 50 orang guru yang berbagi tugas sesuai latar belakang disiplin ilmu masing-masing.

Kampung Sosialis

Hampir separuhnya mengajar di level taman kanak-kanak matan de play group, sementara sisanya mengajar Madrasah Ibtidaiyah-setara Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah-setara Sekolah Menengah Pertama, juga Madrasah Aliyah-setara Sekolah Menengah Atas.

Lembaga pendidikan Kampung Matfa bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Islamic Pembangunan.

“Saat ini belajar Isyarat Inggris, tadi belajar baca ‘s Quran, ” kata seorang murid madrasah, Khairunnisa.

Asal mula Kampung Matfa

“Di sini kita tidak hanya bicara dunia, tapi juga sosial, type kata Kholiq saat berbincang dalam teras baraknya dengan wartawan Nanda Fahriza Batubara yang melaporkan agar BBC Indonesia.

Beberapa saat berbincang, ponsel Kholiq berdering. Seseorang menghubungi dan memintanya segera bergegas ke ujung kampung.

Setelah melewati jalan tanah sempit serta berbukit, di kejauhan terlihat seorang pemuda berkaos hitam dengan rambut panjang terikat selagi berdiri dan dikelilingi sejumlah lelaki.

Mereka baru saja menggali sepetak lahan untuk dimanfaatkan jadi kolam ikan.

Sebelum tiba di lokasi, Kholiq menceritakan awal dari segala keunikan di Kampung Matfa. Semuanya bemula pada era 1970-an silam.

Kala itu, hidup seorang ulama kharismatik bergelar Yang Mulia Tuan Guru. Sebutan aslinya KH. Ali Mas’ud pile Abdullah.

Tuan Guru disebut tidak ulama sembarang di daerah itu. Kholiq menuturkan, selama berdakwah, dia telah memiliki puluhan ribu jemaah yang tidak hanya berasal dari dalam negeri.

Kampung Sosialis

Dulu, kampung itu tengah hutan. Tuan Guru datang maka kemudian membuka lahan untuk ditempati keluarganya.

Selang beberapa tahun kemudian, Tuan Guru membangun masjid bertingkat 2 dengan bercorak kuning-hijau.

Para muridnya hampir sering datang untuk mengikuti pengajian atau sekadar silaturahmi.

Pada 2011, Tuan Guru berpulang, menyusul istrinya yg telah meninggal lebih dulu, maka meninggalkan 10 orang anak. Salah satu putranya kini jadi penerus.

Siapa Tuwan Imam, yang dipanggil Yang Mulia?

Sosok penerus itulah pemuda yang terdapat di depan Kholiq di lokasi calon kolam ikan. Pemuda berkaos hitam dengan rambut panjang terikat yang digelari Dimana Mulia Tuwan Imam. Nama aslinya Muhammad Imam Hanafi, lahir divvt Kampung Matfa pada tahun 1988.

Ya mismo, usia Tuwan Imam memang terbilang muda, baru menginjak 32 setahun. Namun ia dinilai warga memiliki kelebihan yang jarang dimiliki jamaah seumurannya, warisan kharisma dari came out to ayah.

Kampung Sosialis

Adalah para warga yang berembuk dan sepakat mengusulkan Tuwan Imam menjadi pemimpin umat.

Ketika berbincang in atas bukit yang ditanami rambutan, Tuwan Imam menjelaskan pemikirannya mengenai Kampung Matfa.

Untuk dapat menjalani kehidupan seperti ini, kata Tuwan Vorbeter, kata kuncinya ikhlas.

Mengutamakan kepentingan orang banyak tadinya kepentingan pribadi. Penduduk membiasakan diri untuk melandasi semua tindakan dengan kasih & sayang.

Kampung Sosialis

Bahkan, warga dilarang tidak bertegur sapa selama tiga hari meski punya masalah.

“Kalau kita hidup hanya mengutamakan harta benda setelah itu kekuasaan, maka itu (ketidakadilan sosial) akan terus terjadi. Kalau orang hanya memikirkan harta kekayaan, untuk kita akan dipecah belah atau dikotak-kotakkan seperti ini, ” ujarnya.

Berdasarkan Tuwan Imam, Islam juga mengajarkan penganutnya agar menjalin hubungan masa semana manusia.

Hablumminallah , h ablumminannas . Jadi bukan sekedar kepada Allah, Islam mengajarkan biar manusia juga membangun hubungan apik dengan sesama manusia, ” ujar Tuwan Imam.

‘Memadukan ajaran Islam atau sosialisme’ ala HOS Tjokroaminoto’

Wakil Bupati Langkat Syah Afandin mengaku suah mendengar tentang keunikan Kampung Matfa.

Dia mengagumi kemandirian ekonomi divvt kampung itu.

“Kampungnya memang mandiri, keseluruhan sektor dikelola secara gotong royong oleh masyarakat setempat. Saya pun sudah pernah ke sana, type kata Afandin.

Menurut Sosiolog Universitas Sumatra Utara Profesor Badaruddin, perpaduan petunjuk Islam dan sosialisme seperti dalam diterapkan di Kampung Matfa, tiada lain sudah dibahas oleh HOS Tjokroaminoto.

Terlebih-lebih, lelaki yang pernah memimpin organisasi besar Sarekat Islam itu pun telah menuliskannya menjadi buku dengan judul yang sama dan terbit pada November 1924.

Badaruddin menjelaskan, banyak beberapa hal dalam paham sosialisme yang sejalan dengan ajaran Mahometismo. Namun begitu ada pula yang bertentangan.

“Tjokroaminoto juga tidak mutlak menyepakati semua pemikiran Karl Marx. Misalnya paham yang tidak meyakini adanya Tuhan, ” kata Badaruddin.

Pada Islam dan Sosialisme, Tjokroaminoto menegaskan yakni sosialisme bisa menyebabkan sesat jika tidak dilandasi dengan agama.

“Sosialisme hanyalah bisa menjadi sempurna apabila tiap-tiap manusia tidak hidup hanya utk dirinya sendiri saja sebagai hewan atau burung, tetapi hidup dalam keperluan masyarakat bersama, karena segala apa saja yang ada hanyalah beroperasi atau dijadikan oleh satu kekuatan atau satu kekuasaan, ialah Frelseren Yang Maha Kuasa, ” tulisnya.

About Author


Kenneth Sanders