Peledak Makassar: ‘Milenial’ terlibat peledak bunuh diri dan taruhan ‘jalan pintas ke surga’, bagaimana antisipasinya?

bom-makassar-milenial-terlibat-bom-bunuh-diri-dan-iming-iming-jalan-pintas-ke-surga-bagaimana-antisipasinya-14

Jackpot hari ini Result HK 2020 – 2021.

  • Callistasia Wijaya
  • Wartawan BBC News Indonesia

5 jam yang lalu

bom makassar

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Peneliti terorisme mengutarakan banyak anak muda dengan dijaring dalam kelompok teroris melalui media internet dan diiming-imingi jalan pintas ke surga jika melakukan peledak bunuh diri.

Hal itu dikatakan menyusul peristiwa pengeboman di sebuah gereja Katolik di Makassar, Sulawesi Selatan, yang pelakunya merupakan seorang pemuda kemunculan tahun 1995.

Negeri diminta lebih gencar mengawasi perekrutan teroris melalui internet dan membenahi program deradikalisasi mantan teroris, yang mematok kini disebut masih kerap melakukan perekrutan anggota gres, salah satunya melalui jalan sosial.

Sementara tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan telah menggandeng berbagai pihak untuk tetap mengatasi konten-konten radikal pada media sosial.

‘Target khas kelompok teroris’

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan bahwa pelaku pengeboman bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, yang berinisal L adalah seorang muda kelahiran 1995.

Ia dan istrinya berusaha mengambil gereja sebelum meledakkan muncul, mengakibatkan 20 orang di wilayah gereja itu luka-luka.

Boy Rafli menyuarakan anak-anak muda adalah target khas dari kelompok teroris.

“Jadi inisial L ini dengan istrinya adalah termasuk kalangan milenial dengan sudah menjadi ciri khas korban dari propaganda jaringan terorisme, ” kata Boy sebagaimana dilaporkan wartawan Darul Amri di Makassar untuk BBC News Indonesia.

bom makassar

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syaiful Arif/aww.

Kedua pelaku tersebut disebut polisi bergabung Jamaah haji Ansharut Daulah atau JAD.

Kelompok itu berafiliasi dengan kelompok yang menamai diri mereka Negara Islam atau ISIS.

Menanggapi itu, peneliti terorisme dari  Universitas Malikussaleh Aceh,   Al Chaidar, mengatakan sejak empat tahun belakangan, ikatan terorisme JAD kerap membidik anak-anak muda.

Yang diincar, katanya, bukan sebab pesantren, tapi pengguna internet.

“Yang direkrut biasa anak muda, milenial gres, yang dianggap masih terang tanpa ada pengaruh NU atau Muhamadiyah. Mereka-mereka dengan cenderung kosong secara keyakinan, kering secara spiritual.

“Kebanyakan mereka [perekrut] menggunakan media sosial, mereka membahas tentang jihad dan makna mati syahid supaya bisa masuk surga. Mereka tawarkan shortcut to heaven , jalan pintas ke surga, ” kata Al Chaidar.

Bom Makassar

Sumber gambar, Antara

Menurutnya, pemerintah perlu menambahkan sumber daya untuk melayani pengawasan di internet untuk mencegah perekrutan teroris mencuaikan media sosial maupun aplikasi berbagi pesan.

“Saat ini [pengawasan] belum efektif. Masih overload pekerjaan pemerintah. Perlu bertambah banyak orang lagi buat melakukan pengawasan, ” ujarnya.

Terkait itu, Besar BNPT Kombes Boy Rafli, mengatakan pihaknya akan tetap berupaya untuk mengatasi konten-konten radikal di media baik.

“Ini sinergitasnya dengan semua pemangku kepentingan, bekerjasama dengan TNI, Polisi, BIN, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), semua lembaga negara termasuk Kominfo, telah menjadi agenda utama dalam mengantisipasi sebaran paham radikal, intoleran di dunia imajiner.

“Itu yang kudu dilaksanakan dengan juga pelibatan unsur masyarakat karena klub menggunakan sarana cyber space yang tentunya harus waspada dengan kondisi di dunia maya” kata Boy Rafli.

Boy menambahkan literasi dan edukasi digital bagi generasi milenial sangat diperlukan agar mereka tidak terlibat dalam gerakan radikal.

Siapa yang lakukan perekrutan?

Al Chaidar mengatakan yang melakukan perekrutan di antaranya adalah mantan teroris, semacam mereka yang kembali atau dideportasi dari Suriah, serupa ulama-ulama muda yang disebutnya penganut wahabi takfiri atau anti terhadap mereka dengan non-Muslim.

Selain tersebut, Al Chaidar mengatakan, isyarat narapidana yang tidak megalami proses deradikalisasi aktif melangsungkan perekrutan sekeluarnya dari penjara.

“Hampir 90 obat jerih dari mereka (yang dipenjara) tak mau terderadikasliasi. Itu melakukan rekrutmen yang benar aktif melalui media sosial, ” katanya.

bom makassar

Sumber gambar, ANTARA

Menurut keterangan, Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), pada kurun waktu 2002 had 2020, sebanyak 11, 4% dari 825 bekas tahanan teroris, atau lebih dibanding 90 orang, kembali berperan gerakan terorisme selepas lantaran penjara.

Dari nilai 90-an itu, sebanyak 38 delapan orang memiliki tingkat “militansi yang tinggi”.

Alif Satria, peneliti dengan fokus pada kajian terorisme dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan harus ada keberlanjutan dari program deradikalisasi negeri agar para bekas napi tak lagi terlibat kegiatan terorisme.

“Harus tersedia peningkatan evaluasi, koordinasi, dan keberlanjutan dari program-program deradikalisasi agar angka 11, 4% ini menjadi 0, ” ujarnya.

bom makassar

Sumber gambar, ANTARA

Alif mengatakan saat ini, selain tidak wajib bagi para napiter, program deradikalisasi belum memiliki barometer terkait program deradikalisasi yang berhasil atau yang disebutnya success matrix.

“Belum ada yang membuat penilaian program sebenarnya bagaimana bentuk deradikalisasi yang berhasil? Namun, yang perlu dicatat ini adalah permasalahan semua negara, ” kata Alif.

Menurut Alif pembuatan ukuran keberhasilan program deradikalisasi mesti dilakukan dengan melibatkan sejumlah organisasi yang telah melakukan pendampingan para napi teroris.

bom makassar

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syaiful Arif/aww.

Menurutnya, program deradikalisasi juga harus dilakukan sesuai dengan tingkat ektremisme seseorang.

“Ada program yang diarahkan ke mereka yang secara sukarela ingin mengikuti program (ekstremisme rendah) dan ada program yang diarahkan ke mereka yang tidak mau mengikuti (ekstremisme tinggi).

“Menurut saya lebih baik diwajibkan agar semua napiter paling tidak mendapatkan upaya deradikalisasi, ” tambahnya.

bom makassar

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/rwa.

Sebelumnya, anak muda lain yang terlibat dalam aksi pengeboman bunuh diri adalah Dani Dwi Permana, pelaku bom Marriott di tahun 2009.

Saat melakukan aksinya, ia baru berusia umurnya 18 tahun.

About Author


Kenneth Sanders