Penolakan menentang kudeta di Myanmar bersambung: ‘Kami tidak ingin kediktatoran militer’

protes-menentang-kudeta-di-myanmar-berlanjut-kami-tidak-ingin-kediktatoran-militer-5

Jackpot hari ini Result SGP 2020 – 2021.

3 jam yang lalu

Demonstrators hold placards showing the image of detained Myanmar leader Aung San Suu Kyi in Yangon

Puluhan ribu orang melakukan protes keadaan kedua di kota Yangon, Myanmar, Minggu (07/02) untuk menentang kudeta, gerakan yang tidak bisa dibendung oleh pemblokiran internet yang diberlakukan oleh penguasa militer.

“Kami tidak ingin kediktatoran militer, ” teriak banyak demonstran.

Banyak yang memiliki foto pemimpin yang ditahan Aung San Suu Kyi dan mengenakan pakaian merah, warna partai Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin Suu Kyi.

Tempat tidak terlihat lagi sejak prajurit menggulingkan pemerintahannya Senin (31/01) awut-awutan.

Demonstrasi yang lebih mungil dilaporkan terjadi di Kota Mawlamine dan Mandalay.

Beberapa gambar dan video protes telah diunggah ke internet, meskipun penguasa militer telah memutuskan internet sejak hari Sabtu (06/02).

Sebelumnya, militer juga memblokir akses ke Facebook, Twitter, dan Instagram untuk menghalangi orang-orang bergerak untuk protes.

Jaringan telepon juga masih terhambat.

Di Yangon, pengunjuk rasa mempunyai balon merah, sementara mobil & bus melambat untuk membunyikan lonceng untuk mendukung demonstran.

Banyak dengan memberikan hormat tiga jari, yang telah menjadi simbol perlawanan kepada otoritarianisme di wilayah tersebut.

“Hormati pandangan kami, ” tertulis di satu diantara spanduk yang merujuk pada hasil telak NLD dalam pemilihan November.

Myo Win, seorang pengunjuk menemui berusia 37 tahun, mengatakan kepada kantor berita AFP: “Kami akan bergerak maju dan terus menuntut sampai kami mendapatkan demokrasi. ”

Sekitar ini, otoritas militer, yang dikenal dengan taktik penindasan dan kekerasan, tidak menghentikan aksi pembangkangan massal ini.

Namun, banyak orang berasumsi otoritas akan mencoba melakukannya di dalam waktu dekat, lapor koresponden BBC Asia Tenggara, Jonathan Head.

Suu Kyi dan para pemimpin senior NLD, termasuk Presiden Win Myint, telah menjadi tahanan rumah sejak tentara mengambil kendali pemerintah dan mengumumkan keadaan darurat selama setahun.

Protesters march during a demonstration against the military coup in Yangon

Truk polisi dan aparat anti huru hara ditempatkan di jalan-jalan dekat Universitas Yangon (07/02), tapi belum ada laporan tentang kekerasan.

Protes hari Minggu dikenal sebagai yang terbesar sejak apa yang disebut Revolusi Saffron di 2007, ketika ribuan biksu negara itu bangkit melawan rezim tentara, lapor kantor berita Reuters.

Otoritas tentara belum berkomentar. Mereka ada dalam ibu kota, Nay Pyi Daw, dan sejauh ini menghindari keterlibatan langsung dengan para pengunjuk mengalami.

Klan hak asasi manusia Amnesty International menyebut pemblokiran internet “keji dan sembrono” dan memperingatkan hal tersebut dapat menempatkan rakyat Myanmar di risiko pelanggaran hak asasi manusia.

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di pesawat pencari lain

Pelapor khusus PBB untuk Myanmar, Thomas Andrews, mengatakan: “Para jenderal sekarang berusaha untuk membekukan gerakan perlawanan warga – serta membuat dunia luar berada pada kegelapan – dengan memutuskan dekat semua akses internet. ”

Kudeta berlaku ketika sesi baru parlemen mau dimulai, menyusul pemilihan November di mana partai NLD memenangkan 80% kursi parlemen.

Banyak orang Burma menyaksikan peristiwa tersebut secara langsung pada Facebook, yang merupakan sumber fakta dan berita utama negara tersebut.

Tetapi tiga hari kemudian, penyedia internet diperintahkan untuk memblokir platform tersebut karena alasan stabilitas.

Menyusul pembatasan tersebut, ribuan pengguna aktif pada Twitter dan Instagram menggunakan tagar untuk menyatakan penentangan mereka terhadap kebijakan itu.

Pada pukul 22: 00 waktu setempat pada hari Jumat, akses ke platform media sosial itu juga diblokir.

About Author


Kenneth Sanders