Petugas selidiki ‘siapa yang menyuruh’ pekik ‘jihad’ dalam azan, MUI tekankan teks azan tak boleh diubah

Petugas selidiki 'siapa yang menyuruh' pekik 'jihad' dalam azan, MUI tekankan teks azan tak boleh diubah

Jackpot hari ini Result Sidney 2020 – 2021.

4 Desember 2020, 12: 42 WIB

Diperbarui 36 menit yang lalu

Masjid

Kepolisian Jawa Barat sedang mendalami kemungkinan adanya “perintah dari pihak tertentu” dalam kasus ‘ajakan jihad’ melalui perubahan lafal seruan salat yang disebarkan di media sosial.

Dugaan itu didasarkan bahwa ‘ajakan jihad’ melalui azan itu dilakukan secara serentak, kata seorang pejabat Polda Jabar, seperti dilaporkan wartawan di Bandung, Yulia Saputra untuk BBC News Indonesia.

“Ini lagi didalami, karena yang kita khawatirkan pada satu hari serentak (video azan), ada di Jabar maupun kawasan lain. Nah, tentunya Jawa Barat akan fokus untuk menyelidiki sapa yang menyuruh dan siapa dengan memviralkan, ” kata Kabidhumas Polda Jawa Barat, Kombes Pol. Erdi Adrimulan Chaniago, Jumat (04/12).

Sebelumnya, Polda Metro Jaya telah menangkap setidaknya dua orang yang diduga masing-masing mengubah dan menyebarkan lafal azan dari ‘hayya’lash sholah’ menjadi ‘hayya alal jihad’.

Mereka dianggap sudah menimbulkan kebencian atau permusuhan dalam masyarakat.

Berdasarkan keterangan salah-seorang tersangka, Polda Metro Jaya mengeklaim bahwa itu mengaku mendapatkan video azan berisi ‘ajakan jihad’ itu dari grup WhatsApp Forum Muslim Cyber One (FMCO News).

Terhadap pengakuan tersebut, Polda Jabar mengaku “masih mendalaminya”, kata Erdi. Sejauh ini Polres Majalengka telah memeriksa tujuh orang terduga pelaku ‘azan jihad’.

“Penyidik juga akan mencari apakah tersedia yang menyuruh dan sebagainya, dicek handphone dan sebagainya. Jadi tersebut tunggu dulu, ” tambah Erdi. Tujuh orang terduga melafal ‘azan jihad dilaporkan meminta maaf.

Erdi menambahkan, polisi menaruh perhatian khusus pada siapa yang pertama kala memviralkan video tersebut. Beberapa orang telah dipanggil untuk menjalani penjagaan yang dijadwalkan minggu depan.

“Jadi sekadar lagi penyidik dari Polda Mencuraikan dan penyidik dari Polres Majalengka akan menyelidiki siapa yang memviralkan dan siapa yang menyuruh. Tersebut ada perhatian khusus dari Polda Jabar, ” ujar Erdi

MUI: Bang tidak boleh diubah

Sementara, Kepala Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat, Rachmat Syafe’i mengatakan, perkataan azan tidak boleh diubah, sebab hal itu menyalahi syariat.

“Gak bisa (diubah). Teks bang itu tidak bisa diubah seperti itu. Azan itu walaupun buat azan apa saja, termasuk buat azan perang, azan angin ribut ataupun azan kelahiran, tetap saja teksnya seperti azan mengajak salat, ” kata Rachmat.

“Hukumnya sudah menyalahi ketentuan syariat, ” papar Rachmat saat dihubungi wartawan di Bandung, Yulia Saputra untuk BBC News Indonesia, melalui saluran telepon, Jumat (04/12).

Kalimat azan yang diubah menjadi ajakan berjihad, kata Rachmat, tidak relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.

“Sangat tidak relevan. Jadi justru dari segi daya tidak relevan, bahkan membuat keonaran, ” tegasnya.

Karena itulah, Rachmat mengaku mendukung langkah polisi menyelami kasus tersebut.

Dua orang pelaku dan penyebar ‘azan jihad’ ditangkap

Polisi telah menangkap seseorang yang diduga mengubah lafal azan lantaran ‘hayya’lash sholah’ menjadi ‘hayya alal jihad’, karena tindakannya dianggap menimbulkan kebencian atau permusuhan di masyarakat.

Besar Divisi Humas Polri Irjen Argo Yuwono, dalam keterangan tertulis kepada BBC News Indonesia, Jumat (04/12), membenarkan bahwa polisi telah menangkap pria berinisial SYM, 22 tahun.

Pada sepekan terakhir, beredar sejumlah video di media sosial yang memperlihatkan sejumlah orang yang mengubah lafal azan dari ‘hayya’lash sholah’ menjelma ‘hayya alal jihad’.

Diunggah oleh sebesar media, ‘ajakan hijad’ dalam bang oleh sejumlah orang itu sewajarnya digelar di beberapa tempat berbeda.

Kehadiran video ini kemudian membakar kontroversi dan muncul kecaman dibanding berbagai pihak.

Sejumlah tokoh petunjuk dan politikus lantas meminta penjaga untuk mengusut siapa pelakunya.

Ditangkap di Sukabumi dan Jakarta

Menurut Argo, SYM ditangkap pada hari Jumat (04/12) dini hari, karena berniat menyebarkan informasi yang ditujukan buat menimbulkan rasa kebencian atau kesumat berdasar SARA.

“Tersangka diamankan di Bulevar Raya Sukabumi, Kecamatan Cibadak, Jawa Barat, ” kata Argo Yuwono.

Tempat dijerat Pasal 45A ayat (2) Jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 156a KUHP.

Sebelumnya, Kamis (03/12), penyidik Polda Metro Jaya serupa telah menangkap seorang pria berinsial H yang diduga menyebarkan video “ajakan jihad” melalui perubahan pelafalan azan di media sosial.

Menurut petugas, H ditangkap di Cakung, Jakarta Timur pada Rabu (02/12).

Yang bergandengan diduga menyebarkan video tersebut meniti akun instagram pribadinya.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus mengatakan, tersangka H mengaku mendapatkan video azan berisi ‘ajakan jihad’ itu dari grup WhatsApp Forum Muslim Cyber One (FMCO News).

“Modus operandi pelaku memang masuk dalam satu grup WhatsApp FMCO News ( Lembaga Muslim Cyber One ), kemudian dia menemukan adanya unggahan video-video yang ada di perkumpulan tersebut, ” kata Yusri Yunus kepada wartawan, Kamis (03/12).

Sejauh ini belum ada keterangan resmi apakah kedua penangkapan ini saling bersentuhan.

About Author


Kenneth Sanders