‘Pulau perempuan’, cerita kekuatan kaum perempuan di pulau terasing di Laut Baltik

pulau-perempuan-cerita-kekuatan-kaum-perempuan-di-pulau-terpencil-di-laut-baltik-6

Info seputar HK Prize 2020 – 2021.

3 jam yang lalu

Inilah Kihnu, yang dikenal sebagai Pulau Wanita, tempat terpencil di Laut Baltik di lepas pantai barat Estonia.

Sumber gambar, Getty Images

Seorang hawa dengan rok warna-warni padahal duduk sendirian di bagian. Di tangannya, terukir kerutan seperti anak sungai yang mengalir dari bahu ke pergelangan tangan .

Pekerjaan sehari-hari hawa yang telah dilakukan sepanjang hidupnya itu belum sempurna – yaitu mengurus pertanian mulai dari bertani, menyelenggarakan ayam dan domba, menghasilkan pakaian, bahkan memperbaiki traktor.

Tapi untuk masa ini, perempuan itu fokusnya tangannya pada jarum jala-jala yang bergoyang secara ritmis. Dia sedang merajut pakaiannya untuk upacara pemakaman.

Ini adalah cerita tentang kala lalu yang penting buat masa depan.

Perempuan itu berasal sejak Kihnu yang dikenal jadi Pulau Perempuan, pulau terisolasi di Laut Baltik, dalam lepas pantai barat Estonia.

Komunitas ini kala disebut sebagai matriarki terakhir di Eropa.

Klub pulau ini didominasi sebab kepemimpinan dan kekuatan para-para perempuan.

Para penjaga kebudayaan yang sangat kaya itu kini masuk dalam jadwal warisan budaya Unesco.

Para perempuan Kihnu menyeimbangkan tanggung jawab mulai sejak menyediakan kebutuhan makan sehari-hari, mengasuh anak, bertani serta beternak, hingga melestarikan peninggalan tradisi leluhur.

Dalam tempat ini, peran para laki-laki secara historis mangkir – mereka pergi mencari ikan di laut ataupun merantau ke luar tanah – yang menyebabkan suruhan para perempuan di Kihnu telah berkembang melampaui posisi gender tradisional dan mengikuti setiap aspek kehidupan dalam lahan kering pulau itu.

Kihnu, yang dikenal sebagai Pulau Wanita, berada di Laut Baltik di lepas pantai barat Estonia.

Sumber gambar, Jean-Luc LUYSSEN/Getty Images

Mereka adalah pembela lagu, tari, tenun & kerajinan tangan tradisional. Mereka juga menjadi konduktor sempurna upacara penting seperti ijab kabul dan pemakaman.

Kematianlah dengan membawa arti sebuah kehidupan seperti yang digambarkan pada “Big Heart, Strong Hands”, sebuah buku karya fotografer potret Norwegia, Anne Helene Gjelstad.

Diundang ke acara pemakaman seorang perempuan di Kihnu, Gjelstad menemui dirinya berada di suatu dapur yang dikelilingi sebab para perempuan tua berpakaian biru – menjadi warna duka mereka.

Di saat itu, Gjelstad menyadari, kisah tentang para pelindung lingkaran kehidupan yang menua ini perlu diabadikan & dibagikan.

Ini adalah cerita tentang masa lalu dengan penting untuk masa ajaran, katanya. “Keyakinan batin hamba mengatakan bahwa saya harus menangkap ini, menaruhnya dalam buku, dan menulis ceritanya. ”

Potret dan karya yang ditangkap Gjelstad menuturkan kisah sebuah tempat dengan kental dengan tradisi lagu-lagu Kalevala-meter (sebuah tradisi lisan cerita musikal kuno), baju tenun dan bordir beragam cerah, serta kemampuan rani untuk melakukan segala objek mulai dari memperbaiki motor hingga merawat ternak serta tanaman.

Dalam dongeng ini terungkap pula perjuangan mereka bertahan hidup pada tengah ancaman akan zaman depan.

Wanita Kihnu adalah pemelihara tradisi budaya termasuk menenun.

Sumber gambar, Getty Images

Melewati cuaca buruk yang sering menghantam dan 50 tahun perebutan Uni Soviet, tradisi matriarkal di Kihnu masih bisa bertahan.

Tetapi merantaunya generasi muda mencari lebih banyak peluang di luar pulau sekarang membahayakan adat pulau yang unik tersebut.

Meskipun pariwisata musiman tumbuh subur karena para pengunjung yang penasaran untuk belajar tentang kekayaan kebiasaan Kihnu dan menyediakan kolom kehidupan yang sangat dibutuhkan pulau itu, populasi sah pulau ini terus menyusut seiring bertambahnya usia.

Secara turun-temurun, cara Kihnu sudah diwariskan melalui garis rani.

Tetapi dengan setiap pemakaman, dan benang adat yang terurai merajut baju biru, dalam bukunya Gjelstad menuliskan bahwa budaya matriarki itu terancam punah.

Artikel ini pertama kali tayang dalam bahasa Inggris di BBC Travel.

About Author


Kenneth Sanders