Rumah Menlu Pertama RI Achmad Soebardjo dan polemik pelestariannya, ‘Kami sudah tidak berkecukupan merawatnya’

rumah-menlu-pertama-ri-achmad-soebardjo-dan-polemik-pelestariannya-kami-sudah-tidak-mampu-merawatnya-34

Bonus harian di Keluaran SDY 2020 – 2021.

  • Abraham Utama
  • BBC News Indonesia

28 April 2021, 12: 12 WIB

Diperbarui 24 menit yang lalu

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keluarga aktivis proklamasi Indonesia, Achmad Soebardjo, berkukuh menjual rumah berumur ratusan tahun yang pernah jadi kantor pertama Kementerian Luar Negeri, termasuk jika pemerintah berniat mengubahnya sebagai museum.

Kalangan pemerhati sejarah berharap rumah era kolonial Belanda yang beruang di kawasan Cikini, Jakarta, itu tidak dihancurkan, akan tetapi seorang anggota Tim Tanggungan Budaya DKI ragu negeri bersedia membelinya.

“Kami tak mampu mengurus rumah itu lagi, ya sudah ana lepas saja, ” sebutan Laksmi Pudjiwati Insia, anak pertama Soebardjo.

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Rupawan berusia sembilan tahun masa bersama ayah, ibu, & tiga saudara kandungnya tukar ke rumah itu tahun 1942.

Laksmi menyaksikan dengan matanya sendiri kesibukan Soebardjo dalam hari-hari jelang dan sesudah proklamasi.

“Dulu ana menyewa rumah di Jalan Palem, tapi karena sewanya sudah habis, kami harus pindah, ” ujar Elok.

“Waktu itu pasukan Jepang baru saja datang, oleh sebab itu di daerah ini banyak rumah yang ditinggalkan pemiliknya.

“Rumah ini waktu itu kosong dan kelihatannya sungguh-sungguh besar. Rupanya dulu yang punya orang Inggris, berarakan dijual ke orang Belanda. Pemilik terakhir ini ditahan Jepang, ” ucapnya.

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, Kemlu

Peran pokok Soebardjo untuk kemerdekaan Nusantara diakui secara resmi. Dia diangkat menjadi pahlawan nasional tahun 2009.

Pada 16 Agustus 1945, Soebardjo berganti dari rumahnya untuk menyambut golongan tua di Rengasdengklok. Dia lalu turut menyusun naskah proklamasi yang dibacakan Sukarno di Pegangsaan Timur keesokan harinya.

Rumah Sukarno dan Soebardjo berjarak sekitar satu kilometer. Namun vila Sukarno itu kini telah berubah rupa menjadi Tonggak Proklamasi.

Laksmi ingat juga bagaimana rumahnya hiruk-pikuk secara urusan diplomasi saat ayahnya ditunjuk menjabat menteri sungguh negeri.

Achmad Soebardjo

Sumber tulisan, IPPHOS

Namun masa-masa itu sudah berlalu. Rumah tersebut kini lowong. Halaman ajaran dan belakangnya tidak terawat.

Bangunan di sisi tepi dan belakang rumah Soebardjo juga remuk di sebanyak, termasuk yang pernah diinapi Tan Malaka, tokoh pergerakan nasional era kolonial.

Fakta soal Tan Malaka itu ditulis Achmad Soebardjo dalam memoarnya yang berjudul Kesadaran Nasional , Sebuah Autobiografi .

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Vila Soebardjo dikelilingi sejumlah pokok kayu besar yang menjulang tinggi. Dibandingkan bangunan di sekitarnya, rumah berarsitektur kolonial itu terlihat sangat mencolok.

Ustaz Cikini Raya kini dijejali bangunan berbagai komersial, termasuk apartemen setinggi nyaris 40 lantai. Dua restoran segera saji internasional juga hanya beberapa langkah dari panti keluarga Subardjo.

Mengapa dijual?

“Sebelum ibu kami wafat, dia menulis wasiat bahwa rumah ini sebaiknya dijual untuk kesejahteraan anak-anak serta cucunya, ” kata Jelita.

“Saya juga semakin gelap. Kami tidak bisa memeliharanya. Mahal.

“Saya saat ini janda, saya tidak berpengaruh membiayainya. Jadi lebih molek memang dijual. Saya memiliki anak dan cucu dengan perlu saya pikirkan selalu, ” ucapnya.

Soebardjo dan istrinya, Raden Ayu Poedji Astuti, memiliki lima anak, dua di antaranya telah wafat. Dari anak-anaknya, Soebardjo dikaruniai 12 cucu.

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Budak kelima Soebardjo, Dewi Seribudiarti, menyebut keluarganya telah mengontak pemerintah terkait rencana menjual rumah itu.

Buah hati berkata, mereka membahasnya masa beberapa kali berjumpa Gajah Luar Negeri, Retno Marsudi.

Sebuah surat sejak keluarga besar Soebardjo selalu diklaimnya sudah dikirim ke Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, KITLV

Tak lama usai kabar penjualan rumah Soebardjo viral di media sosial, Buah hati berkata Kepala Dinas Kultur DKI, Iwan Wardhana, mendekati mereka.

Iwan, sekapur Dewi, yakin rumah Soebardjo pantas diberi status boreh budaya. BBC Indonesia sudah berusaha mengonfirmasi ini kepada Iwan, tapi belum memiliki tanggapan.

“Kalau pemerintah beriktikad menjadikan rumah ini museum segera ayah kami, awak bersyukur, karena masyarakat mampu mengenang dan mengetahui perjuangan ayah, ” kata Buah hati.

“Tapi kalau tidak, ya kami menunggu pihak swasta saja, ” tuturnya.

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, ANTARA FOTO

Pada seremoni napak tilas Kementerian Luar Negeri tahun 2016, Menlu Retno Marsudi menyebut kediaman Achmad Soebardjo sangat bersejarah.

Retno berkata, panti itu menjadi saksi bagaimana Soebardjo merekrut sejumlah pegawai pertama Kemlu. Seperti dilansir Kompas. com, Retno memperhitungkan rumah itu vital dalam diplomasi kemerdekaan Indonesia.

“Langkah diplomasi Indonesia merdeka dimulai dari rumah ini, ” kata Retno.

“Tugas perdana bapak Achmad Soebardjo zaman itu mendapatkan pengakuan serta dukungan untuk Indonesia. Tentunya informasi kemerdekaan disampaikan seluasnya kepada seluruh negara pada dunia, ”

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, Buku Telepon Jakarta 1950

Cucu Soebardjo, Hutomo Said, menyebut tagihan pajak bumi dan bangunan bukan faktor yang mendorong keluarganya menjual rumah itu.

Rumor ini mencuat di umum merujuk kasus penjualan vila bergaya kolonial lain pada Jalan Cik Di Tiro, Menteng beberapa tahun berserakan. Sari Shudiono, pemilik lama rumah itu, mengaku tak sanggup membayar PBB sejumlah Rp16 juta per tahun.

Sejak tahun 2019, sendi Soebardjo tidak lagi dibebankan pajak, seiring kebijakan Anies Baswedan membebaskan keluarga pahlawan dari PBB.

“Kami sudah bayar lunas tagihan retribusi yang tersisa. Aturan hangat itu berlaku sampai turunan ketiga atau anak beta, ” kata Hutomo.

“Tapi tinggal di rumah sebesar ini untuk keluarga zaman sekarang kurang ada manfaatnya. Selain segi pemeliharaan, negeri ini juga sudah untuk komersial. Kurang layak untuk hidup layak.

“Apalagi ana semua masing-masing sudah punya rumah, ” ujarnya.

Molek mempersilakan pemerintah maupun swasta membeli rumah itu. Baik tak memaksa, ia merasa rumah itu pantas menjadi pengingat jasa ayahnya, sesuai kediaman sejumlah pahlawan nasional lain.

“Siapa saja yang duluan membeli. Adik hamba sakit. Dia perlu berobat secara serius. Biayanya garib, ” kata Laksmi.

Tapi mungkinkan pemerintah membeli & dan menjadikan rumah Soebardjo sebagai museum?

“Agak susah kalau pemerintah provinsi yang membeli, ” kata Chandrian Attahiyat, anggota Tim Mahir Cagar Budaya DKI Jakarta.

“Membeli rumah itu kudu pakai APBD dan perlu persetujuan dewan. Jadi menetapkan waktu dan kesabaran.

“Tapi kalau akhirnya rumah itu tetap dijual & pembelinya punya niat buat melestarikan, tidak akan tersedia masalah, ” ujar Chandrian.

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Anggota Komisi A DPRD DKI, William Sarana, sejumlah bahwa APBD tahun 2021 tidak memuat anggaran pembelian bangunan cagar budaya.

Walau menilai rumah Soebardjo patut dilestarikan, dia membicarakan Pemprov DKI harus berhati-hati memanfaatkan anggaran jika benar berencana membeli rumah tersebut.

“Setahu saya belum tersedia pengalokasian anggaran khusus untuk itu, ” kata William.

“Pada prinsipnya beta setuju bahwa sejarah dan budaya harus dijaga. Namun karena anggaran yang kudu dialokasikan cukup besar, oleh sebab itu benar-benar harus diperhatikan penghitungannya dan mengedepankan prinsip kehati-hatian, ” ucapnya.

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Merujuk UNDANG-UNDANG 11/2010, cagar budaya bisa beralih kepemilikan dan dimanfaatkan untuk beberapa kepentingan, daripada pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata.

Chandrian berkata, timnya tengah menelaah apakah rumah Soebardjo dapat ditetapkan sebagai cagar budaya.

Kalau status itu nantinya menempel, dia menyebut pemilik harus selalu berkonsultasi Pemda DKI saat hendak melakukan transformasi bangunan maupun fungsi.

Bila perubahan dilakukan tanpa dialog, pemilik dapat dijatuhi pidana maksimal lima tahun ataupun denda paling maksimal Rp1 miliar.

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, KITLV

Namun dalam berbagai urusan hilangnya berbagai bangunan jaminan budaya di Jakarta, Chandrian menyebut tidak pernah ada orang yang dijatuhi aniaya tersebut.

Padahal, menurutnya, tidak sedikit sejumlah gedung bersejarah di ibu praja yang ‘hilang’ seiring bertumbuhnya kebutuhan ruang bisnis Jakarta.

“Perubahan terjadi cepat berbarengan kebutuhan ekonomi. Tapi ana ingin cagar budaya pasti dipertahankan meski diberi fungsi baru, ” kata Chandrian.

“Seumur hidup saya, beta belum pernah melihat hukuman itu dijatuhkan kepada yang melanggar, ” ucapnya.

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, RAF/Lost Jakarta

Dengan jalan apa pelestarian rumah bersejarah asing di Jakarta?

Dua kilometer dari rumah Soebardjo berdiri Museum Sumpah Pemuda. Sendi di jalan Kramat Besar ini pada 28 Oktober 1928 adalah lokasi Kongres Pemuda Kedua yang dihadiri lebih dari 700 karakter.

Atas masukan sejumlah arsitek yang hadir dalam kongres tersebut, pada tahun 1972 rumah milik Sie Kong Lian itu ditetapkan jadi cagar budaya.

Yang menyingkirkan keputusan adalah Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Ali Sadikin.

Saat ini pengelolaan museum itu diambil mendaulat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata Eko Septian Saputra, Kurator Museum Sumpah Pemuda.

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, Koleksi Keluarga

Eko berkata, kala dijadikan museum, kepemilikan panti dan tanah tetap dimiliki ahli waris Sie Kong Minat. Mereka tidak menerima makna apapun dari status jaminan budaya ataupun operasional museum.

Belakangan, kata Eko, para-para darah daging menghibahkan kepemilikan itu kepada pemerintah.

“Dulu belum ada serah terima sejak keluarga ke Pemda DKI. Tapi mereka senang saja rumah mereka jadi museum, ” ujar Eko.

“Baru tahun 2000-an tersebut keluarga mengurus agar negeri dan bangunan diserahkan ke pihak Museum Sumpah Muda. Sekarang sertifikasi sedang berjalan, ”

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Pertanyaannya kini, apa dampaknya bagi jemaah jika rumah Achmad Soebardjo diubah atau bahkan dirubuhkan? Dan akankah dampak tersebut juga dirasakan generasi penerus keluarga Soebardjo?

BBC Nusantara menanyakan ini pada Sven Verbeek Wolthuys. Dia adalah penulis buku Lost Jakarta.

Buku itu merupakan buatan riset selama hampir 30 tahun tentang jejak leluhurnya di Batavia.

Kakek buyutnya adalah Wim van Garderen, direktur perusahaan asuransi Nederlandsch-Indische Levensverzekerings en Lijfrente Maatschappij (NILLMIJ).

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Sven berkata, ia harus tenggelam dalam berbagai arsip dan menyelenggarakan riset lapangan berbiaya garib dari Belanda ke Jakarta untuk menemukan sejarah leluhurnya.

Kesulitan yang paling menghambat risetnya, kata Sven, ialah hilangnya banyak bangunan bersejarah di Jakarta.

Sven khawatir generasi mendatang harus melalui beragam rintangan itu saat ingin mengetahui lakon Achmad Soebardjo atau masa-masa awal kemerdekaan Indonesia.

Achmad Soebardjo

Sumber gambar, BBC INDONESIA

“Saya kenal banyak orang dengan tidak tahu siapa kakek-nenek mereka, pekerjaan, bahkan dalam mana mereka tinggal, ” ujarnya.

“Memang tersedia orang-orang yang serupa sekali tak tertarik pada masa cerai-berai. Mereka hanya peduli di dalam apa yang mereka hidupi sekarang.

“Tapi saya menghabiskan banyak waktu untuk penelitian. Saya tidak punya masa untuk menonton film bagaikan teman-teman sebaya saya. Hamba tidak tahu banyak penuh hal. Itu pengorbanan saya, ” kata Sven.

“Rumah itu mungkin tidak pas lagi jadi rumah status, tapi bisa jadi museum supaya generasi mendatang bisa mengkaji peran Soebardjo dan kebolehan Kemlu untuk kemerdekaan Nusantara, ” ucapnya.

About Author


Kenneth Sanders