Serbuan Israel membunuh dokter yang merawat pasien Covid, gaya kesehatan Gaza berduka awut-awutan ‘Kematiannya adalah malapetaka’

serangan-israel-membunuh-dokter-yang-merawat-pasien-covid-tenaga-kesehatan-gaza-berduka-kematiannya-adalah-malapetaka-10

Jackpot hari ini Result SGP 2020 – 2021.

  • Lina Shaikhouni
  • BBC Arabic

2 jam yang lalu

Palestina, Israel, Gaza

Sumber gambar, Ghaith al-Zaanin

Tanpa peringatan, serangan udara Israel menghancurkan bangunan empat lantai di Jalur Gaza, Minggu (16/05). Bangunan itu adalah tempat dokter Ayman Abu al-Ouf tinggal.

Ayman, yang merupakan kepala unit penyakit dalam dalam rumah sakit utama dalam Palestina, tewas akibat pukulan itu.

Ibu, abu, istrinya yang bernama Reem, dan putranya yang berusia 17 tahun, Tawfik, mengikuti putrinya yang berumur 12 tahun, Tala, juga kehilangan nyawa dalam peristiwa tersebut.

Total terdapat 12 bagian keluarga Ayman yang mati.

“Ini kehilangan yang amat besar, bukan hanya bagi kami dengan secara pribadi mengenal Ayman, tapi juga untuk pasien dan mahasiswanya, ” sekapur Ghaith al-Zaanin, teman depan sekaligus mantan rekan kerjanya yang kini tinggal dalam Kanada.

Baca selalu:

Palestina, Israel, Gaza

Sumber gambar, Handout

Selain bertanggung jawab berasaskan pasien penyakit dalam di Rumah Sakit al-Shifa dalam Kota Gaza, Ayman selalu mengawasi penanganan pasien Covid-19.

Dia melakukan supervisi pembelaan di bangsal yang khusus menangani pasien Covid-19 secara kondisi parah. Hanya terdapat sedikit dokter spesialis aib pernapasan yang bekerja pada bangsal itu..

Ayman selalu melatih para calon tabib dari dua sekolah kedokteran di Gaza.

“Untuk memperoleh dokter dengan kualifikasi laksana Ayman, perlu setidaknya 10-15 tahun pelatihan, ” sekapur Zaanin, yang memberi nama putrinya, Tala, seperti budak perempuan kawan Ayman.

“Dia mendedikasikan kehidupannya untuk positif orang lain, merawat penderita, dan mengajar generasi hangat dokter.

“Saya akan menyebutnya sebagai orang yang paling baik hati dan penuh kasih yang sudah saya lihat dalam kesibukan saya, ” ujar Zaanin.

Palestina, Israel, Gaza

Sumber gambar, Reuters

Ayman telah meninggalkan rumah lara sekitar satu jam pra serangan udara Israel mengacaukan tempat tinggalnya di Berkepanjangan al-Wahda, Kota Gaza.

Daerah itu dipenuhi gedung apartemen dan pertokoan.

Militer Israel mengeklaim serangan udara itu ditujukan untuk menyerang gaya bersenjata kelompok militan Hamas di bawah tanah.

“Fondasi bawah tanah hancur, menyebabkan permukiman warga sipil di atasnya runtuh dan memicu korban yang tidak diinginkan, ” begitu keterangan Israel.

Baca serupa:

Dokter Ayman terkubur di bawah reruntuhan bangunan selama hampir 12 jam. Dia sempat mampu bertahan hingga enam jam, patuh putrinya, Haya Agha.

Agha adalah salah kepala dokter yang mendapat petunjuk dan pelatihan dari Ayman.

Jenazah Ayman baru terlihat 48 jam setelah bangunan itu ambruk.

“Tidak dengan percaya bahwa dia telah mati sampai seorang sinse di rumah sakit menyampaikan foto tubuhnya, ” logat Agha kepada BBC.

“Kematiannya adalah bencana. Dia melatih tiga atau empat dokter. Dia pekerja keras jadi kami pikir dia tidak terkalahkan. ”

Agha berceloteh, serangan Israel juga mengacaukan jalan menuju daerah tersebut dan rumah sakit al-Shifa. Akibatnya, tim penyelamat semakin terhambat untuk sampai di sana tepat waktu & menyelamatkan korban.

Palestina, Israel, Gaza

Sumber gambar, Handout

Putra Ayman yang berusia 15 tahun, Omar, adalah satu-satunya anggota keluarganya yang selamat dari pukulan udara Israel.

Omar saat ini dirawat karena mengalami luka. Dia tidak tahu bahwa orang tua dan dua saudara kandungnya telah meninggal.

Saudara laki-laki Omar, Tawfik, tengah menjalani tarikh terakhir di jenjang madrasah menengah. Dia bermimpi mengejar gelar di bidang kimia.

Adapun guru yang mengajar Tala menyebut kalau putri Ayman itu adalah pelajar yang sangat molek, tertarik pelajaran agama serta senang menghafal Alquran.

Departemen Kesehatan Gaza menyatakan setidaknya 227 orang, termasuk 102 anak-anak dan perempuan, tewas akibat serangan Israel sejak 10 Mei lalu.

Sementara di Israel 12 orang, termasuk dua anak, tewas dalam serangan roket dari militan di Palestina, menurut otoritas medis setempat.

Militer Israel mengeklaim cuma menyerang yang mereka pendapat target militer. Mereka juga menyebut telah melakukan dengan terbaik untuk menghindari target sipil.

Palestina, Israel, Gaza

Sumber gambar, Gaza health ministry

Serangan suasana yang menewaskan Ayman juga menyebabkan 42 warga Palestina lainnya kehilangan nyawa. Besar korban di antaranya adalah seorang ahli saraf bertanda Mouin al-Aloul dan Rajaa Abu al-Ouf, seorang psikolog

Enam rumah sakit serta 11 pusat kesehatan istimewa di Gaza juga hancur digempur Israel, termasuk tunggal laboratorium pengujian Covid-19 di Gaza.

Rumah kecil lain tidak berfungsi sebab kekurangan bahan bakar.

“Ini tidak adil. Sangat tidak adil Israel membunuh awak sipil yang tidak bersalah. Mereka tidak hanya mengacaukan infrastruktur fisik, tapi serupa membunuh sumber daya pribadi kami, ” kata Zaanin.

Sistem perawatan kesehatan Gaza rapuh karena konflik menahun dan blokade yang diberlakukan Israel dan Mesir.

Sendi sakit di Gaza saat ini kelebihan beban karena lonjakan kasus Covid-19. Hampir semesta rumah sakit di sana kekurangan ruang perawatan intensif, ventilator, dan peralatan medis lainnya.

Pertempuran yang saat ini berlangsung menambah beban para-para petugas medis.

“Dokter bertemu luka dan cedera dengan belum pernah terlihat sebelumnya. Mereka perlu melakukan proses yang rumit tapi biasa dokter tidak terlatih melakukannya, ” kata Agha.

Tatkala itu Zaanin berkata melupakan Gaza pada tahun 2017. Dia beralasan, pendidikan ahli yang dia kejar tidak tersedia di Gaza.

Molek Zaanin maupun Agha percaya bahwa tewasnya dokter seperti Ayman Abu al-Ouf mau berdampak signifikan bagi sektor medis di Gaza.

“Ayman meninggalkan kenangan indah di benak semua pasiennya. Hamba berharap kami memiliki jalan untuk setidaknya mengucapkan terjamin tinggal, ” kata Agha.

About Author


Kenneth Sanders