Tercepat di dunia, India salurkan 100 juta dosis vaksin Covid-19 dalam 85 keadaan

Promo menarik pada undian Data Sidney 2020 – 2021.

sejam yang lalu

Untuk memutar gambar ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

India telah menyalurkan lebih daripada 100 juta dosis vaksin Covid-19 di tengah kewaswasan terjadinya gelombang kedua pandemi di negara tersebut.

India mengklaim diri jadi negara tercepat yang bisa membagikan 100 juta dosis vaksin Covid-19. Mereka melakukannya dalam 85 hari.

Jadi perbandingan, pencapaian itu didapat Amerika Serikat dalam 89 hari, sementara China di dalam 102 hari.

Namun, satu diantara program vaksinasi terbesar dalam dunia ini juga bertemu sejumlah persoalan.

Belasan negara periode di India pekan ini melaporkan kekurangan dosis vaksin di saat pemerintah federal bersikeras stoknya yang tersedia cukup.

Pemerintah pusat India menyebut “tuduhan” kelangkaan vaksin “sama sekali tidak berdasar”. Mereka menyatakan memiliki stok lebih dari 40 juta dosis.

India menargetkan 250 juta warga mereka telah menerima vaksin Covid-19 Juli mendatang. Sejumlah pakar kesehatan tubuh menilai India perlu mempercepat pemberian vaksin agar bahan itu terpenuhi.

Vaksinasi pada India menargetkan orang-orang berumur di atas 60 tarikh dan pekerja garis depan seperti petugas medis.

Graph showing average daily cases in India

Fase ketiga vaksinasi di India dimulai pada 1 April lalu. Sejak saat itu, setiap hari lahir rata-rata 90 ribu kejadian positif baru di India.

Pada 4 April, India menjadi negara kedua setelah AS yang melaporkan 100 ribu kasus membangun baru dalam satu hari. Lebih dari setengah kejadian itu terjadi di negeri bagian Maharashtra, yang mencakup kota terbesar di India, Mumbai.

Jumlah kasus pasti di India sebenarnya menurun tajam ketika mereka menggelar vaksinasi awal tahun ini. Masa itu setiap hari rata-rata muncul 15 ribu kasus baru.

Namun total kasus harian mulai naik lagi pada bulan Maret. Pemicu terbesarnya diyakini adalah pelacakan kasus yang membatalkan dan penerapan protokol kesehatan yang lemah.

Para mahir kesehatan menilai gelombang kedua di India dipicu serupa oleh keteledoran masyarakat beserta pesan kesehatan yang berbeda-beda dari pejabat pemerintahan.

Semenjak pandemi terjadi, India mengkonfirmasi lebih dari 12 juta kasus positif dan bertambah dari 167 ribu maut.

Ini adalah jumlah infeksi Covid-19 tertinggi ke-3 di dunia setelah AS dan Brasil.

India

Sumber gambar, Reuters

Bagaimana pelaksanaan vaksinasi?

India memulai program vaksinasi pada 16 Januari semrawut. Namun saat itu vaksinasi terbatas untuk petugas kesehatan tubuh dan pekerja garis ajaran.

Pekerja di bidang sanitasi juga menjadi kelompok masyarakat India pertama yang menerima vaksin.

Mulai 1 Maret lalu, kriteria penerima vaksin diperluas untuk orang-orang dengan berusia di atas 60 tahun dan mereka yang berusia antara 45-59 tahun tapi memiliki penyakit asing.

Tahap ketiga vaksinasi lalu diperluas untuk semua orang yang berusia di pada 45 tahun dan memenuhi syarat menerima vaksin. Periode ketiga ini dimulai 1 April lalu.

Regulator dan pengawas obat di India sebelumnya memberikan lampu muda untuk dua vaksin. Yang pertama adalah yang dikembangkan AstraZeneca dengan Universitas Oxford, yaitu Covishield.

Satu vaksin lainnya adalah Covaxin, yang diproduksi perusahaan India Bharat Biotech.

Kira-kira kandidat vaksin lainnya zaman ini berada pada tahap uji klinis.

India

Sumber tulisan, EPA

India juga langsung berupaya membendung lonjakan kasus baru. Belum lama itu mereka menghentikan sementara seluruh ekspor vaksin virus corona Oxford-AstraZeneca, yang dibuat pembuat vaksin terbesar di India, Serum Institute of India (SII).

Pekan ini SII menyebut kapasitas produksi itu “sangat tertekan” dan “belum mampu memasok vaksin ke setiap warga India”.

SII berkata telah menyediakan 65-70 juta dosis setiap bulan ke India dan mengekspor total dosis yang dekat sama sejak memulai buatan awal pada tahun 2021.

Perusahaan itu berencana meningkatkan produksi vaksin hingga 100 juta dosis dalam sebulan. Namun mereka mengatakan target itu belum akan tercapai sebelum akhir Juni.

Mereka beralasan masih kudu memperbaiki kerusakan fasilitas produksi di Kota Pune dengan terbakar Januari silam.

Para ahli percaya India kudu meningkatkan vaksinasi di daerah dengan penularan tinggi dan di lima negara arah yang menggelar pemilu menetapkan mencegah penyebaran virus corona.

Murad Banaji, seorang ahli matematika di Middlesex University London, yang meneliti serta memantau pandemi, berharap vaksinasi dapat mengendalikan gelombang ke-2 di India.

“Tapi di kecepatan saat ini vaksinasi akan berdampak kecil untuk memperlambat penyebaran dalam mulia atau dua bulan, ” ujarnya.

“Jika menargetkan grup yang paling rentan, vaksinasi mungkin akan mengurangi jumlah rawat inap dan peristiwa kematian lebih cepat. ”

Bhramar Mukherjee, seorang ahli biostatistik di Universitas Michigan, menilai India perlu menyampaikan 10 juta suntikan vaksin setiap hari, alih-alih berpuas diri dengan 3 juta dosis sehari.

“Saya frustasi bahwa India tidak meluncurkan program vaksinasi secara bertambah agresif saat kurva sedang dalam keadaan sulit, ” kata Mukherjee.

“Jauh bertambah mudah untuk melakukan vaksinasi ketika infeksinya tidak sungguh-sungguh tinggi. Sekarang kapasitas perawatan kesehatan terbagi antara menyalurkan vaksin dan menjalankan perawatan pasien Covid. ”

india

Sumber gambar, Getty Images

Berapa banyak warga yang sudah divaksinasi sejauh ini?

Semasa beberapa dekade, India menjalankan salah satu program imunisasi terbesar di dunia. Vaksinasi untuk beberapa penyakit asing sebelumnya menargetkan puluhan juta orang, termasuk bayi dengan baru lahir dan hawa hamil.

Jadi sejumlah mampu yakin India sudah siap menghadapi tantangan vaksinasi Covid-19. Meski begitu, pelaksanaannya ternyata terhambat, salah satunya oleh skeptisisme sebagian kalangan dan kurangnya kesadaran masyarakat ekonomi bawah atau yang tingal di pedesaan.

Banyak orang miskin memiliki sedikit informasi tentang cara mendaftarkan muncul dan mengakses vaksin percuma. Orang yang memenuhi syarat sekarang dapat memesan suntikan mereka secara online atau masuk dan mendaftar pada pusat vaksinasi.

“Isu vaksin sangat jarang dikomunikasikan kepada masyarakat miskin dan kelas pekerja, ” kata Radha Khan, konsultan independen yang bekerja di bidang seks, tata kelola dan inklusi sosial.

Hingga Juli kelak, India menargetkan penyaluran hingga 500 juta dosis untuk 250 juta penduduk yang diprioritaskan.

Menariknya, di kira-kira negara bagian, lebih penuh wanita daripada pria yang telah divaksinasi. Alasannya tidak jelas.

India

Sumber gambar, Reuters

Siapa yang membayar vaksin?

Vaksinasi di India berkelakuan sukarela. Klinik dan vila sakit yang dikelola negeri menawarkan vaksin gratis akan tetapi warga lokal juga serupa dapat membayar 250 rupee (Rp48 ribu) untuk mendapatkan vaksin di rumah sakit swasta.

Mulai 11 April, warga India bisa memperoleh vaksin berbayar di wadah kerja swasta dan dengan dikelola negara.

Pemerintah India menghabiskan sekitar US$5 miliar (sekitar Rp73 triliun) buat menyediakan vaksin gratis.

India juga membeli jutaan dosis vaksin dan memberikan pemberian kepada negara bagian untuk program vaksinasi mereka.

Apakah ada ‘efek samping’ setelah vaksinasi?

Vaksinasi memiliki hasil samping bagi sebagian karakter.

India memiliki program perlindungan “efek samping” vaksinasi yang sudah berlangsung selama 34 tahun terakhir.

Penuh ahli kesehatan menyebut kegagalan untuk secara transparan mengadukan efek samping vaksin sanggup dengan mudah memicu ketakutan seputar vaksin.

Hingga pokok Februari lalu, India melaporkan 8. 483 kasus “efek samping” setelah vaksinasi Covid-19. Sebagian besar efek bibir itu bersifat “ringan”, bersifat kecemasan, vertigo, pusing, demam, dan nyeri.

Semua orang yang mengalami hasil samping itu telah sehat, menurut pernyataan resmi pemerintah India.

Program pengawasan sudah memeriksa 617 kasus “efek samping yang parah”, tercatat 180 kematian setelah vaksinasi hingga 29 Maret, menurut sejumlah laporan.

Hasil pemantauan menyebut “kematian terjadi di dalam kasus di mana penyambut vaksin memiliki penyakit bawaan, seperti masalah jantung, lagu darah tinggi, dan diabetes”.

Visualisasi tabel masukan oleh Shadab Nazmi

line

Untuk memutar video ini, aktifkan JavaScript atau coba di mesin pencari lain

line

About Author


Kenneth Sanders