Valentine di tengah pandemi Covid-19: Makin banyak yang suka pacaran lewat video online atau ‘zoomancing’

valentine-di-tengah-pandemi-covid-19-makin-banyak-yang-suka-pacaran-lewat-video-online-atau-zoomancing-12

Dapatkan promo member baru Pengeluaran HK 2020 – 2021.

  • Fernando Duarte
  • BBC World Service

8 jam yang lalu

pacaran, pandemi, covid-19

Zaman Inggris berlakukan lockdown karena pandemi Covid-19, untuk kali pertama Maret tahun lalu, Kristina sadar bahwa upayanya mencari jodoh makin pelik.

Seperti kebanyakan orang, tempat lalu beralih ke kencan virtual – yaitu gaya pacaran renggang jauh lewat video yang memproduksi dia kini lebih terbiasa, & dalam beberapa hal, lebih dia suka. Jadi, apakah “Zoomancing” (atau pacaran lewat Zoom) ini sudah mengubah cara orang berpacaran untuk seterusnya?

“Lockdown benar-benar bikin hamba tidak bisa keluar untuk berpacaran, ” kata Kristina, seorang hawa berusia 43 tahun asal Afrika Selatan yang bekerja sebagai pengasuh anak di London.

“Saya sedang ingin nongkrong di bar serta minum bersama teman-teman. Tapi beta tidak lagi kangen dengan cara bertemu seseorang yang belum aku cukup tahu seperti sebelumnya. ”

“Dengan [pacaran] lewat video, kita lestari berada di rumah, kalau tersedia yang salah dan jadi tak canggung. Saya pun bisa pendirian uang dan waktu. ”

‘Cinta pelan-pelan’

pacaran, kencan

Masa internet kian menjadi cara yang lazim bagi para sejoli untuk saling bertemu di belahan dunia manapun dalam dua dekade terakhir, pacaran selama pandemi ini telah mengalami sejumlah perubahan karena ada hambatan untuk bertemu dan jalan-jalan.

Bermacam-macam aplikasi kencan mengalami peningkatan jumlah anggota di seluruh dunia pada 2020. Aplikasi Hing, salah satunya, jumlah unduhannya naik 82%.

Banyak karakter pun kini menghabiskan lebih banyak uang untuk mengunjungi aplikasi kencan, menurut lembaga konsultan We Are Social, yang menemukan bahwa Tinder akhirusanah lalu berada di atas TikTok dan Netflix dalam peristiwa pengeluaran penggunanya.

Namun menurut sebanyak perusahaan jasa kencan mengungkapkan kalau beberapa survei mengungkapkan perubahan yang lain.

Mereka menemukan bahwa bahkan dalam tempat-tempat yang secara teknis masih sulit untuk bertemu secara langsung – meski secara sosial berjauhan – ada peningkatan jumlah pengguna aplikasi untuk memilih menunda berpacaran secara langsung dan malah menetapkan berkontak dahulu secara daring dengan calon jodoh mereka untuk sekian lama.

Tren itu, bagi para pakar, didorong oleh bertambahnya penggunaan sambungan lewat video (video calls), jadi dari situ muncul istilah Zoomancing.

“Cara yang lama dan pokok, yaitu bertemu secara langsung telah sulit dilakukan, keinginan orang-orang untuk bertemu seseorang dan berkontak sungguh belum berakhir, ” kata Hayley Quinn, seorang instruktur kencan & pembicara TedX, kepada BBC.

“Namun di masa pandemi ini mendorong tren Zoomancing, yang mana orang-orang ingin cari tahu satu setara lain lebih baik lagi, pra berkomitmen untuk pergi pacaran secara langsung. ”

pacaran, kencan

Kalangan pakar perkencanan yakin bahwa pembatasan kehidupan sosial telah memberi peluang bagi orang-orang untuk berkaca lebih jauh mengenai cara itu membangun hubungan.

Helen Fisher, paker antropologi biologis dan ketua advokat ilmiah perusahaan Match. com, yakin bahwa ada penguatan tren dengan dia sebut “cinta pelan-pelan. ”

“Saya sudah mensurvei kaum lajang di AS selama bertahun-tahun. Sebelum pandemi, hanya 6% yang menggunakan perbincangan video. Kini sudah dilakukan oleh satu dari lima kaum lajang, ” jelasnya.

“Orang-orang menghabiskan bertambah banyak waktu di rumah serta mereka menikmati percakapan yang lebih bermakna, lebih jujur, transparan, serta membuka diri. ”

Kristina, contohnya, mengucapkan bahwa pembatasan wilayah telah melaksanakan dia berkomunikasi lebih terbuka dengan para calon pacarnya sebelum melanjutkan untuk bertemu secara langsung.

“Artinya saat ini kami harus lebih mengenai mulia sama lain secara lebih dalam, ” katanya.

Pergeseran budaya

kencan, grindr, lgbtq

Tidak mengejutkan bahwa beberapa aplikasi perkencanan memiliki sifat percakapan video lebih luas sedang selama pandemi.

Grindr, yang menyediakan layanan bagi komunitas LGBTQ, membuat sifat percakapan video premium yang gratis diakses untuk beberapa waktu serta membawa para penggunanya untuk sedia secara virtual di kencan-kencan maupun acara-acara penting seperti “Pride Month. ”

“Kami tentu saja telah menyadari pergeseran budaya dalam menggunakan penerapan kencan selama pandemi, ” cakap Alex Black, kepala pemasaran Grindr, kepada BBC.

“Sekitar 48% sebab pengguna jasa kami mengaku telah berhubungan secara virtual dengan seseorang, termasuk dengan menggunakan foto dan video. ”

“Ini menunjukkan kalau mereka mencari cara lain buat terhubung di saat ‘bertemu masa itu juga’ harus menunggu. ”

kencan

Industri kencan bahkan telah menyaksikan peluncuran teknologi baru untuk menutup kebutuhan Zoomancers.

Salah seorang pendiri Filter Off, Zack Schleien, berkaca sejak pengalaman-pengalaman dia dalam berkencan saat menciptakan aplikasi video berbasis diskusi tahun lalu.

Menurut dia, makin sebelum pandemi dia biasa meminta calon pacarnya untuk bertemu menggunakan komunikasi video sebelum ketemu tepat.

“Saya sering berkencan dan terkadang secara cepat menyadari kalau memang tidak nyambung, pasti salah satunya benar tidak tertarik, ” kata tempat.

“Jadi saya minta orang-orang untuk pakai komunikasi lewat video buat memastikan bahwa ada prospek yang baik sebelum saya bertemu dengannya. Kebanyakan menolak saya. ”

“Tapi beta tahu pasti ada orang asing yang punya harapan yang sebanding. Pandemi ini telah mengubah persepsi dan chatting lewat video itu saat ini lebih sering bisa diterima. ”

kencan

Menurut Quinn, data dari sejumlah survei membuktikan bahwa bahkan saat pandemi berakhir, “banyak orang mengaku ingin pasti melanjutkan dengan komunikasi lewat video”

Menurut Tinder. com, lebih dari 65% pengguna yang mencoba fitur chat video sejak digulirkan secara global pada Oktober lalu mengaku akan menggunakannya lagi.

Sebagai sumber, gambar sudah menjadi alat pemeriksa yang Fisher yakini tidak akan ditinggalkan saat kehidupan kembali berjalan wajar.

“Menurut saya, kita akan tahu bakal lebih sedikit kencan pertama secara langsung karena banyak orang ingin menyingkirkan hal yang mereka tidak inginkan sebelum benar-benar bersemuka langsung. ”

“Namun di saat yang sama, kita akan melihat bertambah banyak lagi kencan pertama yang lebih berarti. ”

Tetap saja kencan virtual bisa jadi sulit. Kristina mengaku beberapa temannya yang lajang, yang bekerja di bidang dengan membutuhkan komunikasi virtual secara rutin, tidak langsung senang bila kudu tambah layar lagi untuk dilihat.

“Beberapa dari mereka seharian melaksanakan komunikasi lewat Zoom dan mereka menemukan bahwa kencan lewat gambar itu sungguh sulit, ” ujarnya.

Juga, seperti halnya kencan tradisional, pacaran online tidak dijamin lulus. Kristina mengaku sampai kini belum merasa “pas” dengan siapapun dengan dia temui lewat video chat.

Namun, dia tidak sampai merajuk soal itu, juga tidak kecil mengalami Hari Valentine kali perdana di saat lockdown. Dia lebih pilih belajar resep-resep baru untuk merayakan bersama orang-orang dekat.

“Saya memasak hidangan seafood untuk teman-teman kondominium dan merayakan kita semua baik-baik saja walau ada pandemi. Tersebut lebih penting dari apapun era ini. ”

About Author


Kenneth Sanders